Buatlah Aku Pikun, Tuhan

Tuhan Yesus…

Buatlah aku pikun,
agar aku tak mampu mengingat kata menyakitkan yang pernah terlontar kepadaku.

Buatlah aku pikun,
agar aku tak mampu mengingat perbuatan jahat yang pernah dilakukan terhadapku.

Buatlah aku pikun,
agar aku tak mampu mengingat peristiwa yang membuatku meneteskan air mata.

Buatlah aku pikun,
agar aku tak mampu mengingat kejadian yang membuatku marah.

Buatlah aku pikun,
agar aku tak mampu mengingat hal yang membuatku menyimpan dendam.

Buatlah aku pikun,
agar aku tak mampu mengingat waktu saat aku jatuh terpuruk.

 
Tuhan Yesus…

Buatlah ingatanku kuat,
agar aku mampu menyadari bahwa aku tak pernah sendiri dalam hidup ini.

Buatlah ingatanku kuat,
agar aku mampu menyadari bahwa begitu banyak orang yang mengasihiku.

Buatlah ingatanku kuat,
agar sekalipun berada di titik terendah, aku mampu mengingat Kau yang selalu menopangku.

Buatlah ingatanku kuat,
agar aku mampu mengingat rencana indah yang selalu Kau siapkan bagiku.

Buatlah ingatanku kuat,
agar aku mampu menyadari bahwa kasihMu senantiasa mengalir di hatiku.

Buatlah ingatanku kuat,
agar aku mampu mengingat Engkau yang senantiasa ada bersamaku.

Buatlah ingatanku kuat,
agar aku tetap percaya akan keajaiban kasihMu.


**Terinspirasi oleh Romo Thomas Ulun Ismoyo, Pr., melalui kotbahnya pada Misa Kamis Putih perdananya, 210411

Cantiknya Aku dan Tampannya Dia

Selepas turun dari mobil dan menutup pintunya, aku berjalan ke arah dia. Kuselipkan tangan kananku di antara lengan kekarnya. Sesaat aku memandang wajahnya dan tersenyum. Kulanjutkan langkah kakiku menuju grand ballroom sebuah hotel berbintang di Ibukota. Aku mengajaknya menghadiri pesta pernikahan teman semasa kecilku. Entah telah berapa banyak pesta pernikahan yang pernah kami hadiri, aku sendiri tak mampu mengingatkan. Yang kuingat, tak pernah sekalipun aku pergi ke pesta tanpa dia. Yup.. Selalu ada dia di sisiku..

Aku dan dia pun siap memasuki pintu utama hotel. Kunaiki satu per satu anak tangga yang berlapiskan marmer. Masuk ke lobby, lampu-lampu kristal berkilauan menyambut aku dan dia. Banyaknya rangkaian bunga impor menambahkan kesan mewah di hotel tersebut.. Orang-orang dengan penampilan menawan yang berlalu lalang di lobby pun semakin menunjukkan kelas hotel tersebut.

Aku bergumam dalam hati, ‘Ah… Mewahnya hotel ini…’
Kulanjutkan langkahku menuju grand ballroom. Sudah terbayangkan bagaimana indahnya grand ballroom tersebut. Tanganku masih terselip di lengannya. Tak sedetik pun ingin kujauhkan diriku dari dia. Aku sendiri tak mengerti mengapa aku harus terus menggamit lengannya. Ada yang istimewa saat aku bisa berjalan berdampingan dengan dia, termasuk saat melangkah di hotel mewah ini.

Aku pun telah berada di ruang pesta yang benar sesuai perkiraanku, mewah dan indah. Siapa pun akan kagum melihat dekorasi di ruangan luas ini. Aku dan dia berdiri di tengah ballroom bersama tamu undangan lain. Aku masih harus menunggu sang mempelai memasuki ruangan. Aku memang selalu berusaha untuk datang lebih awal ke pesta pernikahan. Bagiku datang ke pesta pernikahan adalah saat di mana aku bisa menyaksikan teman-temanku berjalan di karpet merah sebagai tanda mereka memulai kehidupan yang baru. Jadi tak lucu rasanya bila aku datang terlambat saat semua orang sudah menikmati hidangan.

Mataku berkeliling mengitari setiap sudut ballroom. Kuamati setiap bunga yang mekar dan dirangkai dengan indah. Kulihat juga berbagai hidangan telah tersedia dengan cantiknya, menunggu untuk disantap. Sebentar kualihkan mataku kepadanya dan tersenyum. Lalu kulanjutkan memandangi setiap tamu yang sudah pasti tampil dengan busana terbaik yang mereka miliki. Beberapa menit kemudian aku menyadari ada banyak mata yang mampir kepadaku dan dia. Tak hanya satu orang. Aku sempat merasa canggung. Aku berpikir jangan-jangan ada gaunku yang bolong atau bedakku yang berantakan. Tapi rasanya tak mungkin. Aku telah menghabiskan lebih dari 1 jam berputar-putar di depan cermin sebelum akhirnya berangkat. Kupandangi dirinya, juga tak ada yang salah. Semuanya tampak sempurna. Tapi mengapa masih saja banyak mata yang memandangi aku dan dia? Aku penasaran…

Pesta pun berlangsung meriah dan megah. Aku dan dia menikmati pesta malam ini, termasuk hidangan yang begitu lezat…
Setelah berfoto bersama sang mempelai, aku dan dia pun memutuskan untuk pulang. Kembali kugamit lengan kekarnya dan berjalan keluar ballroom. Sepanjang jalan lagi-lagi kutemui mata yang menatap aku dan dia. Kembali aku dibuat penasaran. Sebenarnya apa yang salah sehingga mereka semua melihat ke arah aku dan dia?
Di perjalanan pulang aku berpikir keras tentang itu. Sampai kutemui jawaban yang teramat baik. Kusampaikan jawabanku kepada dia, “Pasti mereka terkagum melihat aku dan kamu… Aku cantik dan kamu tampan…”
Dia tertawa lepas mendengar jawabanku lalu meledekku seperti biasa. Dia menganggap aku terlalu percaya diri dan dia tak percaya akan jawabanku. Dia merasa dirinya biasa saja, jadi tak mungkin orang terkagum melihat dia. Tapi aku masih kekeuh mengatakan aku cantik dan dia tampan. Dan mobil kami terus melaju di gelap malam menuju rumahku.

Dia… memang lebih sering menganggap dirinya biasa saja. Malah dia lebih sering memujiku. Dia bilang aku cantik, aku manis, dan sebagainya.
Andai dia tahu betapa aku memiliki ribuan kata untuk memujinya. Meskipun dia berkata bahwa dirinya tak istimewa, bagiku dia yang teristimewa. Kini aku mengerti mengapa aku merasa ada sesuatu yang istimewa saat berjalan di sisinya. Ada rasa bangga dalam diriku saat menggamit lengannya. Semakin aku berpikir, semakin kusadari betapa aku memperoleh berkat yang indah karena boleh mendampingi dia.
Wajahnya tak seperti model majalah pria dewasa… Ya hampir seperti merekalah…
Badannya pun tak berotot seperti para model itu… Tapi cukup sempurna untukku bersandar…
Senyumnya tak semanis bintang film terkenal… Tapi bagiku itu yang termanis…
Aku bangga, bukan hanya karena fisiknya.
Aku bangga, bukan karena semua orang di pesta pernikahan memandang kami sebagai pasangan serasi.
Aku bangga, karena semua hal yang ada pada dirinya.
Tak pernah kuminta dia untuk berubah karena aku menyukai semua yang dia miliki.
Tak pernah kumencari orang lain karena aku telah mendapatkan yang terbaik.
Mungkin rasa bangga inilah yang mendampingi aku saat mengarungi tahun demi tahun perjalanan cinta.
Mungkin rasa bangga inilah yang memupuk kesetiaanku dalam mendampinginya.
Ingin terus kuselipkan tanganku di lengan kekarnya sebagai tanda aku ingin terus setia bersamanya.
Aku bangga maka aku setia…

Joyful

Di tengah misa Sabtu malam.
Aku berdiri, menatap altar.
Indahnya altar perjamuan malam hari ini, dihiasi bunga nan serasi.
Telah hampir 1 jam misa berlangsung dan inilah saat yang kutunggu.
Sang selebran utama mengumandangkan,
“Kemuliaan kepada Allah di surga………”
Senyumku mengembang dan mengangkat suara,
“Dan damai di bumi kepada orang yang berkenan kepadaNya…”
Seperti harus melalui hari yang amat panjang untuk kembali menyanyikan lagu tersebut.
Dan saat ini menjadi saat yang luar biasa.
Saat yang menandakan keberhasilanku melalui masa pertobatan.
Saat di mana aku bersiap menyambut kebangkitanNya.

Gong dan lonceng gereja bersahutan mengiringi Kemuliaan. Indah rasanya…
Ada rasa sukacita dalam dadaku.
Ada Sosok yang memberikan cintaNya bagiku.
Ada Sosok yang telah menang melawan maut.
Dan aku menjadi semakin yakin bahwa aku hidup dalam kemenangan karena Dia besertaku.

HAPPY EASTER, Everyone…
God’s love always in our heart


Yang Kunantikan

Dan akhirnya….
Inilah saat yang paling kutunggu kurang lebih 1 bulan terakhir…

Maundy Thursday
Good Friday
Holy Saturday
and….
HAPPY EASTER

Hampir mendekati akhir ‘perjuangan’ 40 hari. Aku sadar bahwa ternyata 40 hari yang terlihat pendek, menjadi suatu masa yang cukup sulit untuk dilalui. 40 hari yang tidak biasa. Aku berjuang untuk mengalahkan kedaginganku. Aku juga berjuang untuk mengalahkan segala nikmat yang biasa mudah kudapatkan.
Rasanya ajaib saat menyadari aku masih diberi kesempatan untuk melalui Prapaskah sekali lagi.
Rasanya ajaib saat mengetahui masa ini adalah masa yang luar biasa, masa di mana aku berefleksi.
Rasanya ajaib saat menyadari ada Sosok yang terlalu ajaib dalam hidupku.
Rasanya ajaib saat mengetahui ada Cinta yang tak pernah menghilang.

Kusyukuri 40 hari luar biasa yang hampir berlalu
Kusyukuri segala yang kualami selama 40 hari kemarin
Kusyukuri waktu yang diberikan untukku dapat menyadari betapa dahsyatnya Dia
Kusyukuri cintaNya dalam kehidupanku
Kusyukuri masa pertobatan yang istimewa
Kusyukuri 3 hari istimewa yang akan kujelang esok

Mungkin aku masih terselimuti banyak dosa, tapi aku rindu menikmati 3 hari esok sebagai hari yang teristimewa...

Rambutku Mahkotaku

Rumahku terletak di kawasan timur Jakarta, yang boleh dibilang paling sederhana jika dibandingkan dengan wilayah lainnya. Kalau wilayah lain bertaburan mall-mall raksasa, lain cerita di timur. Tak akan bisa kita temui mall mewah atau bahkan raksasa. Boleh dibilang daerah rumahku ‘gersang’.. Cukup sulit untuk mencari tempat belanja atau hang out yang asyik.

Kesulitan tak hanya aku rasakan dalam hal mencari mall tempat hang out. Tapi juga dalam mencari salon dengan kualitas pelayanan yang baik. Di daerah rumahku, aku belum bisa menemukan salon dengan kualitas pelayanan yang baik. Hampir semuanya standar dan cenderung mengecewakan. Pernah beberapa kali aku dikecewakan dengan pelayanan beberapa salon di sekitar rumahku. Alasanku memilih salon-salon itu karena dekat dengan rumah, jadi aku bisa menghemat waktu dan biaya bensin. Tapi ternyata tak sesuai harapanku. Mulai dari potong poni yang terlalu pendek, creambath yang asal pencet, sampai catok keriting yang langsung menjadi lurus setelah aku tiba di rumah.

Hadeeehhh…. Mas-mas dan mbak-mbak salon, bukan seperti ini loh yang aku mau.

Aku terus mencari salon yang sesuai dengan keinginanku. Sampai aku pernah potong rambut di salon daerah Tanjung Duren, yang berjarang hampir 30 kilometer dari rumahku. Aku sengaja pergi ke sana karena aku tak mau lagi mendapatkan pelayanan tidak memuaskan dari salon daerah rumahku.

Dan sekarang sepertinya aku telah menemukan salon yang sesuai dengan keinginanku.
Di daerah Kelapa Gading.
Daerah ini memang pantas disebut one-stop-shopping area karena mau mencari apa pun pasti bisa menemukannya di Kelapa Gading, termasuk banjir… hahahaha… ;P
Tapi terlepas dari banjirnya, aku sebenarnya ingin tinggal di daerah Kelapa Gading. Ramai dan lengkap. Terlihat mengasyikkan tinggal di sana.. hehehehe…

Dan semalam aku pergi ke salon itu. Sebut saja Salon X.. hehehe…
Ini kali kedua aku datang ke salon tersebut.
Pertama kalinya saat aku akan menghadiri wisuda adikku. Saat itu aku hanya cuci blow. Kesan pertama sangat baik. Mereka melayani customer dengan sangat baik. Rambutku dikeramas dengan baik, tidak asal-asalan. Terasa beda memang.
Saat datang untuk kedua kalinya, aku memilih perawatan creambath. Hasilnya juga yaaa… bolehlaaahhh… ;)
Tidak mengecewakan. Bisa dijadikan rekomendasi sebagai salon langganan… hehehehe…

Setelah 2 kali datang ke salon tersebut, aku menyadari sesuatu kalau ternyata rambutku indah… hehehe…
Ih, GR bgt lo, Vel..
Bukan GR loh… Aku bisa berkata seperti itu karena ketika 2 kali aku dilayani di salon tersebut, mas-mas salon berkata seperti ini, “Mbak, rambutnya belum pernah diapa-apain yah?”
Aku ditanya seperti itu 2 kali oleh 2 mas dan pada 2 kesempatan berbeda pula.
(Eits.. Tentu saja aku tidak merekomendasikan salon tersebut karena rambutku dipuji… hehehe… Pelayanan di salon tersebut OK koq..)

Kembali ke soal rambutku…
Sampai jelang seperempat abad umurku, rambutku ini masih ‘virgin’.
Jujur, rambutku belum pernah sekalipun tersentuh oleh obat kimia seperti obat keriting, cat rambut, atau apa pun itu.
Kalau ke salon, hanya perawatan biasa yang kulakukan, seperti potong rambut, creambath, catok. Itu saja.. Tak pernah kuizinkan bahan kimia keras menyentuh rambutku.
Terkesan kuno dan kolot?
Bisa dibilang seperti itu…
Saat orang berbondong-bondong membicarakan tren warna 2010, tren warna rambut 2011, dan lain sebagainya, aku tak peduli. Aku tak pernah berniat mengubah warna rambutku meskipun aku merasa rambutku ini tak sepenuhnya hitam.
Atau saat datang ke salon besar, si mas salon menawarkan, “Ga mau dismoothing atau ditoning, mbak? Biar terlihat kinclong…”
Aku tetap tak tertarik, karena aku merasa rambutku belum membutuhkan perawatan tersebut.

Saat pertama kali datang, si mas salon berkata, “Bagus ya rambutnya lurus dan hitam.”
Dalam hati aku berkata, ‘Haduuuhhhh… Lurus dan hitam dilihat dari mananya sih? Mas ga tau ajah… Aku kadang stress dengan keadaan rambutku, koq malah dibilang bagus sih.’

Hehehehe…
Dari dulu aku tak pernah merasa rambutku bagus.
Rambutku tebal dan cenderung bertekstur kasar.
Rambutku sulit diatur dan cenderung kering.
Aku selalu berpikir rambutku tidak cukup bagus dibandingkan rambut perempuan di luar sana.
Mungkin ini pula yang membuatku tak pernah berniat mengkriting atau mengubah warna rambutku. Pikirku, ‘Rambutku belum pernah diapa-apain aja uda rusak, gimana kalau dimacem-macemin…’

Saat kedua kalinya aku datang ke salon itu dan menerima pertanyaan yang sama, aku baru tersadar bahwa ternyata selama ini pemikiran tentang rambutku salah. Aku selalu berpikir rambutku jelek, rambutku tidak mengkilat, rambutku kusam, rambutku kasar, rambutku terlalu tebal, rambutku ngacir-ngacir. Tak pernah aku memandang rambutku sebagai mahkota yang indah.

Tapi semalam aku baru tersadar bahwa rambutku ini indah.
Coba lihat sekeliling kita… Lihat saja teman-teman sepermainan, teman-teman kuliah, atau teman-teman kantor.
Berapa banyak dari perempuan tersebut yang rambutnya masih ‘virgin’?
Teman-temanku di kantor hampir seluruhnya memiliki rambut berwarna, entah merah maroon, ungu, coklat, atau kuning. Atau kalaupun sekarang tak lagi berwarna lain, mereka mengaku dulu pernah mewarnai rambut. Bahkan saudaraku pernah mengaku bahwa dia tak bisa keluar rumah bila rambutnya hitam.
WHAT???!!! Aku cukup terkejut saat mendengar pernyataannya. Berarti dia tak bisa tampil apa adanya. Dia tak bisa mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan padanya. Aku sempat bingung mengapa setiap saat dia harus tampil dengan rambut berwarna-warni. Tapi memang itu semua adalah pilihan setiap orang.
Aku tidak berkata bahwa perempuan yang mewarnai rambutnya adalah perempuan yang tidak bersyukur.
Aku juga tidak berkata bahwa rambutku yang paling indah karena tak pernah diwarnai.
Tapi aku pribadi ingin bersyukur karena aku tidak memiliki keinginan untuk mengubah apa pun yang ada di tubuhku. Selain menghemat biaya salon, keputusanku itu juga mengajarkanku untuk mengagumi karya unik yang Tuhan telah kerjakan. Banyak kekurangan di fisikku, yang sempat membuatku tidak percaya diri. Tapi perlahan aku berusaha menerima semuanya itu, termasuk rambut kurang-hitamku yang berteksur kasar dan ngacir-ngacir ini..

Keputusanku untuk beralih salon tampaknya tak salah. Aku disadarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang aku miliki karena itu semua yang terbaik.

Kesempatan Perdana

Sekali lagi Tuhan memberiku kesempatan untuk membuktikan talentaku. Selama ini tak pernah sekalipun aku berdiri di depan banyak orang untuk berbicara tentang suatu hal. Tapi kali ini aku diberikan kesempatan untuk membawakan pengajaran di pembinaan PD Hieronimus. Memang aku tak diminta untuk membawakan firman di sebuah persekutuan doa. Aku hanya diminta untuk lebih banyak sharing. Jumlah umatnya pun hanya 10 hingga 15 orang. Harusnya ya bisalah…

Tapi tak semudah yang dibayangkan.
Memang aku diminta dari jauh hari untuk membawakan pengajaran. Aku punya waktu sekitar 3 minggu untuk menyiapkan bahan pengajaran tersebut. Waktu yang lebih dari cukup, karena para pewarta pun bahkan ada yang hanya mempersiapkan materi 1 hari sebelumnya. Tapi aku bukan pewarta dan ini pengalaman pertamaku.
Tema yang harus aku bawakan pun tampak sederhana, yakni PELAYANAN.
Toh kata pelayanan telah lama aku kenal bahkan telah menjadi teman akrab dalam kehidupanku. Tapi untuk memberikan pengajaran tentang pelayanan, rasanya aku ragu. Sekali lagi, ini pengalaman pertamaku.
Ya kalau hanya bicara di tengah rapat dan di depan beberapa teman sih sudah sangat sering. Jadi worship leader pun sudah teramat sering. Tapi kalau diminta berdiri di depan beberapa umat dan harus berkicau selama 45 menit, huuaaaaaa… satu hal yang amat sulit. Bahkan aku berkata, ‘Ini bukan gue banget deh…’

Mendekati hari H aku baru mulai sibuk mencari materi yang akan aku bawakan. Aku juga mencari beberapa ayat Alkitab yang sesuai. Aku pun menyusun apa saja yang akan aku bawakan. Aku catat garis besarnya agar nanti saat berdiri di depan bicaraku tak blepetan.. hehehehe…

Harinya pun tiba, hari Sabtu 9 April 2011. Mau tak mau aku harus maju. Tak mungkin aku mogok tampil lalu merengek pulang.. hehehe..
Rasanya…. Wah!
Nervous sih pasti, tapi aku berusaha mengendalikan kegugupanku. Aku berusaha mengatur setiap kata yang keluar dari mulutku. Sempat merasa minder karena tim PD yang mendengarkan materiku malah telah lebih lama melayani daripada aku. Sempat merasa, ‘wah… sepertinya sia-sia nih, pasti mereka sudah lebih mengerti…’
Tapi aku tak terlalu ambil pusing. Yang aku pikirkan saat itu adalah memberikan yang terbaik, membagikan apa yang pernah aku alami. Aku juga yakin bahwa tak ada hal yang sia-sia.

Akhirnya 45 menit berlalu. Dan ternyata rasanya beda dengan menjadi worship leader. Sepertinya aku lebih nyaman menjadi worship leader. Tapi, seperti materi yang aku berikan kemarin: kita tidak boleh memilih-milih pelayanan, aku memberanikan diri untuk menjadi pewarta… hehehe… Karena aku percaya, saat Tuhan memilihku, Dia pasti memperlengkapi aku dengan apa pun yang aku butuhkan… :)
Terima kasih, Tuhan untuk kesempatan berharga ini.
Aku tahu masih banyak kekurangan di diriku. Tapi aku ingin terus menyenangkanMu dalam kekuranganku ini.

Free

Tulisan kali ini secara khusus dibuat saat aku berada di kantor.
Wuah.. sejak kapan aku bekerja di kantor redaksi majalah atau koran?
Nope! Aku tidak pindah kerja. Aku masih di kantor sebelumnya. Hanya suasana kantor yang berbeda menjelang akhir minggu ini.
Biasanya tak ada waktu untukku berleha-leha. Sepanjang hari aku disibukan dengan berbagai kegiatan akuntansi dan keuangan. Hanya ada waktu senggang saat istirahat siang pukul 11.30 hingga 13.00.
Komputer kantorku pun benar-benar diset secara efektif. Jangankan untuk dapat mengakses internet, aku bahkan tak dapat memasukkan data apa pun ke dalam komputerku. Email pun hanya untuk internal kantor.
Terkucil? Sangat…
Tapi aku bersyukur karena dengan begitu waktu kerjaku dapat digunakan secara efektif. Tak ada waktu untuk menganggur… hehehe…

Lalu mengapa kali ini aku bisa menulis?
Hari Kamis dan Jumat kali ini terasa berbeda. Hampir seluruh karyawan di kantorku pergi ke Bali.
Bali???
Iya.. Pulau Dewata nan menawan itu.
Gathering kantorku tahun ini diadakan di Bali selama 3 hari mulai hari ini hingga Sabtu.
Aku tak ikut bersama mereka karena aku baru bekerja di sini kurang dari 3 bulan. Jadi tak mungkin aku ikut berwisata bersama mereka. Alhasil aku masuk kantor hanya dengan beberapa teman yang senasib.
Kalau biasanya di ruanganku terdapat 40 karyawan, kali ini tersisa 5 orang!
1 lantai bagian accounting yang berjumlah 80 orang lebih, kini tersisa tak lebih dari 10 orang!
Nyaris tak ada kehidupan!! Hehehe…

Sebenarnya aku dan teman-teman yang tinggal berharap kami diliburkan karena sudah pasti tak ada yang bisa kami kerjakan. Tapi ternyata kebijakan perusahaan menetapkan kami harus tetap masuk. Boleh dibilang sekarang kami seperti satpam yang menjaga kantor… hahaha…
Jauh hari aku telah berpikir apa yang akan aku lakukan selama teman-temanku pergi ke Bali. Jadi semalam aku menyiapkan perlengkapan yang akan kubawa ke kantor.
Aku membawa laptop, lengkap dengan charger dan juga banyak webpage yang telah aku buka di rumah. Jadi seolah-olah aku bisa browsing… hahahahaha… (ngarep banget kantornya ada internet… hehehe…)
Aku juga membawa majalah favorit yang baru kubeli beberapa hari yang lalu. Dan juga bantal kecil!! Hahahaha… Siapa tahu aku tiba-tiba mengantuk, jadi bantal itu bisa mengantarku ke alam mimpi… ;P

Vel… Mau ke kantor atau piknik sih?
hahahahahaha…
Aku menjawab, “Piknik doonnnkkk… Mereka juga lagi jalan-jalan ke Bali. Aku juga mau bersenang-senang donk.. hehehehe…”

Bukan bermaksud iri atau tidak suka karena harus tinggal di kantor. Tapi aku berusaha menikmati apa yang harus aku jalani di depan mata. Kalau teman-temanku bisa pergi ke Bali, karena memang itu yang layak mereka dapatkan. Untuk apa aku merasa iri dan mengeluh karena harus datang ke kantor. Aku memilih untuk menyiasati keadaan. Pikirku, daripada bosan dan membayangkan mereka bermain air di Pantai Kuta, lebih baik aku menikmati saat langka ini dengan kegiatan yang aku suka.. *mumpung ga ada bos.. hahahahaha…
Kapan lagi aku bisa membawa laptop ke kantor..
Kapan lagi aku bisa dengan bebas menulis sambil memasang lagu kesukaanku di kantor..
Kapan lagi aku bisa bermalas-malasan di kantor..
Kapan lagi aku bisa menikmati suasana kantor yang sepi..
Jawabnya hanya 2 hari ini… :)

Dalam Hari-hariku

Dalam hari-hariku, aku belajar…
Bahwa tak selamanya mentari bersinar
Bahwa tak selamanya burung melayang tinggi
Bahwa tak selamanya langit tampak biru

Dalam hari-hariku, aku belajar…
Bahwa ada saat langit menjadi gelap
Bahwa ada saat hujan mengairi tanah
Bahwa ada saat mendung menaungi

Dalam hari-hariku, aku belajar…
Tentang senyum dan tawa
Tentang kasih dan sayang
Tentang ketulusan dan rasa percaya

Dalam hari-hariku, aku belajar…
Tentang air mata dan duka
Tentang benci dan amarah
Tentang penghinaan dan dusta

Dalam hari-hariku, aku belajar…
Untuk berbicara dan mendengarkan
Untuk menerima dan memberi
Untuk ditolong dan menolong

Dalam hari-hariku, aku belajar…
Untuk percaya
Untuk mengikhlaskan
Untuk bersyukur

Dalam hari-hariku, aku belajar…
Untuk menikmati indahnya kehidupan ini

Hatimu


Mungkin aku bukan seperti kebanyakan wanita,
yang takjub saat sang kekasih muncul di depan rumah mengendarai mobil mengkilat
Mungkin aku bukan seperti kebanyakan wanita,
yang akan terbelalak bahagia saat sang kekasih menyodorkan hadiah mewah berkilauan
Mungkin aku bukan seperti kebanyakan wanita,
yang akan luluh hatinya saat sang kekasih membawakan sekuntum mawar putih

Dan tampaknya kamu pun tak seperti kebanyakan pria lain,
yang muncul di rumah sang kekasih dengan penampilan wangi dan rapi
Kamu tak seperti kebanyakan pria lain,
yang selalu menghadiahkan kado mewah untuk sang kekasih
Kamu pun tak seperti kebanyakan pria lain,
yang sering menyembunyikan sekuntum mawar putih di balik badan

Aku memang tak seperti kebanyakan wanita di luar sana
Sama seperti kamu, yang aku temukan berbeda dari pria pada umumnya

Kamu tak datang dengan mobil mewah
Kamu tak tampil dengan pakaian bermerek Eropa
Kamu tak muncul dengan jenis bunga apa pun di tanganmu
Kamu menghampiriku dengan hatimu

Aku tidak jatuh cinta pada parasmu
Aku tidak jatuh cinta pada bentuk badanmu
Aku tidak jatuh cinta pada pakaian dan aksesorismu
Aku jatuh cinta pada hatimu

Aku tak dapat melihat hatimu
Tapi aku mampu merasakan ada ketulusan di dalam sana

Aku tak dapat meraba hatimu
Tapi aku mampu merasakan ada cinta di dalam sana

Aku tak dapat memegang hatimu
Tapi aku yakin ada aku di dalam sana

Two Things

Two sweetest things I’ve never imagined before:
TO LOVE YOU and TO BE LOVED BY YOU

Two greatest things make me so thankful:
TO LOVE YOU and TO BE LOVED BY YOU

Two best things I’ll never forget:
TO LOVE YOU and TO BE LOVED BY YOU

31

This is a day that the Lord has made…
For you and for me.
I truly believe that you were put right in my heart
It’s all because of His love
I never stop giving thanks to Him for He created this love
And also for this 31st month!!!
Horraaayyyy….
Another number we have… hehehe…
He said, “Our love is getting older…”
But for me, OUR LOVE IS GETTING STRONGER…
It’s a quite long journey for us to share laughs and tears
It’s a quite long journey for us to learn how to love each others unselfishly

Thank you, dear
For always here in my heart
I just can’t let you go
Just because of you, I can walk through all bad or good things
Just because of you, I can learn what a true love is

Happy 31st Lovely Month, my Larry…
Love you more…

:)

Colors in My Life


Pernah menghitung berapa banyak orang yang ada dalam kehidupan kita???
Mungkin mudahnya, bisa dilihat dari jumlah friends di Facebook.. hehehe…
Ada yang hanya memiliki teman sekitar 200 tapi ada juga yang jumlah temannya mencapai 4 digit. Ribuan!!
Tapi mungkin dari begitu banyak teman, hanya beberapa yang akrab dengan kita atau hanya beberapa yang sering menghabiskan waktu bersama kita.
Taruhlah mungkin hanya sekitar 15 sampai 25 orang. Selebihnya.... Kenal sih, tapi yaaaa kenal gitu-gitu ajah... hehehehe…

Pernah mendengar kalimat “People come and go”?
Pernah merasa kalimat itu benar adanya dan kita alami sendiri?
Aku juga termasuk orang yang merasa seperti itu. Merasa bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk orang-orang yang ada di kehidupan kita.
Dalam sekejap kita bisa mengenal banyak orang yang lalu menjadi teman kita. Tapi dalam waktu singkat mungkin saja mereka pergi satu per satu dari kehidupan kita.

Aku terlahir di keluarga kecil dan sederhana. Aku hanya memiliki 1 orang adik laki-laki. Kehidupanku tak mewah, tapi aku bersyukur memiliki orangtua dan keluarga yang sangat baik. Sampai saat ini boleh dibilang keluargaku adalah keluarga harmonis. Aku lalui hari-hariku di dalam keluarga yang begitu mengasihiku. Dan aku tak pernah berhenti bersyukur atas anugrah keluarga ini.
Memasuki usia sekolah, aku pun harus melalui masa TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah. TK dan SD kulalui di sekolah yang sama. Lulus SD, aku pindah SMP. Juga saat memasuki SMA. Jadi aku bersekolah di tempat yang berbeda sejak SD hingga kuliah. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak teman yang kumiliki. Banyaaaakkk…
Karena banyaknya, kadang aku lupa apakah ini teman SD, SMP, atau SMA? hehehe...
Dan seiring berjalannya waktu, satu per satu temanku pergi.
Kalau dulu aku bisa bermain lompat karet di lapangan SD, sekarang aku kesulitan untuk bertemu dengan teman-teman sepermainanku itu.
Kalau dulu aku bisa duduk-duduk di bangku batu di depan kelas bersama teman SMP, sekarang aku harus mencari-cari keberadaan mereka.
Kalau dulu aku bisa pergi ke pesta sweet seventeen bersama teman SMA, sekarang aku telah melihat beberapa dari mereka telah berkeluarga.
Kalau dulu aku bisa dengan mudah menemui teman-temanku seusai kuliah, sekarang aku harus membuat janji dari jauh hari untuk bertemu mereka.
Setiap orang memang memiliki cita-cita dan kehidupan masing-masing. Ada yang mengejar karir, ada yang memilih untuk menikah muda, ada yang memilih tinggal di negeri antah berantah.

Sedih saat keadaan berubah?
Yup!!
Terkadang muncul rasa kangen yang teramat. Ingin rasanya kembali ke masa-masa sekolah dan kuliah. Padahal dulu pun tak selalu aku lalui dengan rasa sukacita. Ada masa di mana aku harus terluka dan tersakiti oleh temanku sendiri. Tapi aku sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan setiap mereka ke dalam kehidupanku.

God doesn’t give you the people you want.
He give you the people you need
to help you
to hurt you
to leave you
to love you
and to make you into the person you were meant to be.

Kalau boleh memilih, aku tak ingin memiliki teman yang sering membuatku marah.
Kalau boleh memilih, aku tak ingin memiliki teman yang membuatku sakit hati dan terluka.
Kalau boleh memilih, aku pasti memilih teman-teman yang hanya membuatku tersenyum, tertawa, dan bersukacita.
Aku tak akan mau berteman dengan orang yang menurutku jahat.
Tapi rasanya tak mungkin karena aku percaya semua telah Tuhan siapkan bagiku.
Tak mungkin ’kan kita memilih orangtua atau saudara kandung kita... hehehe...

Tuhan menempatkan setiap orang dalam kehidupan kita dengan maksud yang baik.
Tuhan izinkan aku berkenalan dan berteman dengan orang yang menyebalkan agar aku terlatih menjadi orang yang sabar.
Tuhan izinkan aku berkenalan dan berteman dengan orang yang menyakiti hatiku agar aku menjadi orang yang kuat dan tak rapuh.
Tuhan izinkan aku berkenalan dan berteman dengan orang yang mencampakkan aku agar aku menjadi orang yang mandiri.
Dan Tuhan pun tak lupa untuk mengirimkan begitu banyak orang untuk mencintai dan mengasihiku.
Semua Dia rencanakan dengan begitu indah agar aku bertumbuh menjadi sosok yang lebih baik dan sesuai dengan kehendakNya.

Jadi, jangan mengeluh saat berhadapan dengan orang menyebalkan. Tapi bersyukurlah karena hadirnya membuat kita menjadi lebih baik..


Dan yang terpenting, Tuhan pilihkan setiap orang tersebut agar kehidupan kita menjadi begitu berwarna.. :)

Selamat Jalan, Teman...

Ada saat tertawa…
Ada saat menangis…
Semua adalah rencana dan kehendakNya.
Pun saat Dia memanggil rekan kami, Denvi...

Selamat jalan, teman..
Mungkin aku tak sempat mengenalmu lama tapi aku tahu kamu adalah pribadi yang baik.
Kami menangis, tapi kami yakin sekarang kamu telah berada di tempat terindah di sisiNya.
Kami percaya ini yang terbaik..
karena Dia terlalu mencintaimu.

Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts