Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut tour, tentu saja aku tak tahu menahu mengenai pengurusan visa. Ditambah saat itu masih termasuk remaja yang tak peduli urusan seperti itu.
Belakangan saat telah dewasa dan tidak lagi berpergian dengan tour, ditambah canggihnya teknologi yang sangat memudahkan aku untuk mencari tiket atau informasi apapun mengenai rencana perjalanan, aku pun memilih untuk mengurus segalah sesuatunya sendiri, termasuk visa.

Untuk pertama kalinya di bulan Mei 2015, aku mengurus sendiri visa Cina untuk aku dan Larry.
Dan baru saja, tadi siang aku mengambil paspor dengan visa Cina.

Sampai saat ini, warga negara Indonesia memang masih diharuskan mengurus izin masuk negara Cina. Namun proses pengurusannya pun sangatlah mudah. Tapi kali ini tidak semudah pengurusan yang aku lakukan dua tahun lalu. Prosesnya sama, tapi memang kaminya ajah yang rempong.. hahahaha..

Kali ini tujuan kami masih sama, Shenzhen. Dari Jakarta tidak ada penerbangan yang langsung menuju Shenzhen. Semuanya dengan transit. Jadi, sebelumnya di 2015, aku membeli tiket Cathay Pacific Jakarta-Hongkong direct. Dari Hongkong tinggal naik mobil atau kereta ke Shenzhen.

Kali ini, sebenarnya membeli tiket Cathay Pacific. Tapi iseng cek Singapore Airlines lagi promo, Jakarta-Hongkong jadi murah banget. Transit Singapore sih, tapi aku norak mau nyobain Singapore Airlines.. hahahaha.. Jadi transit gpp lahh..
14 September 2017, tiket issued untuk 28 Oktober 2017.
Setelah itu seharusnya segera mengurus visa Cina. Tapi seperti biasa kalo ga mefetttt tuh kurang greget emanggg.. Karena masih lebih dari satu bulan sebelum keberangkatan, kami pun santai. Mau buat pas foto aja malesssss banget.. Alhasil ngorek-ngorek foto-foto lama, masih ada! Ukurannya ga sama sih, tapi masih bisa dipotong.. hahaha..

Selasa, 10 Oktober 2017 baru mulai menyiapkan keperluan pengurusan visa. Super santai karena memang keberangkatan kami masih agak jauh. Pengurusan visa Cina yang aku baca di blog hanya sekitar 4 atau 5 hari. Jadi masih keburu donk yaaa..

Tiba-tiba si Larry memeriahkan suasana dengan bilang dia harus ke Taiwan tanggal 23 Oktober 2017. Tapi itupun masih tentatif, katanya. Masih ada kemungkinan bukan dia yang pergi melainkan temannya yang masih masih mengurus pembuatan paspor.

Rabu dan Kamis, 11 dan 12 Oktober 2017 kami lewati begitu saja karena masih menunggu kepastian temannya Larry. Kamis malam baru ada kepastian bahwa Larry yang harus pergi. Artinya visa Taiwan harus segera diurus karena setelahnya harus mengurus visa Cina. Beginilah nasib si hobi menunda-nunda..
Gerabak gerubuk siapin semua berkas, isi formulir online, print rekening tabungan, dll.
Jumat, 13 Oktober 2017 pagi, merasa semua sudah siap, kami masih santai-santai karena berdasarkan hasil browsing, apply visa Taiwan bisa dilakukan sampai sore.
Keluar rumah sekitar jam 10.30 pagi, masih berniat makan bakmi dulu deket rumah. Tapi tiba-tiba otak ini dapat pencerahan. Googling lagi dan ternyata oh ternyata penerimaan berkas pengajuan visa Taiwan hanya sampai pukul 11.30. Dharrrr! Ternyata aku salah inget, yang sampe sore mah visa Cina. Karena keseringan browsing Taiwan dan Cina sampe ketuker ingetnya.
Rencana makan bakmi batal total. Langsung cussss ke Gedung Artha Graha di SCBD, tempat mengurus visa Taiwan.
Di perjalanan emosi jiwa karena secara logika dan kebiasaan, dari rumah ke SCBD ga keburu sih 1 jam. Macetttt… Beruntung hari itu Jumat, jalanan agak sedikit kosong.
Tiba di lobby Artha Graha hanya 5 menit sebelum jam 11.30, Larry langsung kusuruh turun dengan membawa berkasnya. Aku yang memarkirkan mobil. Dia yang mau apply, aku yang sport jantung. Karena kalau hari itu tidak bisa, berarti harus mundur sampai Senin, 16 Oktober 2017. Visa Cina nya terancam!!

Baru selesai kuparkirkan mobil di Pacific Place, Larry sudah selesai.
Saat tiba, satpamnya aja sampe bilang, “Waduh masih bisa ga ya!”
Hoki nomor satu, masih keburu ambil nomor antrian. Prosesnya punya hanya sekitar 15 menit. Penyerahan berkas dan pembayaran.
Paspor dapat diambil 3 hari kerja, yaitu Selasa, 17 Oktober 2017.

Selasa, 17 Oktober 2017 dengan membawa tanda terima paspor, Larry mengambil paspornya. Lagi-lagi prosesnya pun sangat mudah dan cepet.

Selesai dari sana, langsung cussss ke The East, Kuningan untuk apply visa Cina. Karena Larry ada meeting, jadilah aku sendirian yang ke The East.
Parkir di lantai 5, aku langsung naik lift ke lantai 8. Setelah menukar KTP dengan guest card di meja keamanan depan lift lantai 8, aku langsung menuju tempat pengajuan visa. Di pintu, petugas bertanya tujuanku. Aku bilang, mau apply visa. Ditanya lagi, yang regular atau ekspres. Karena info yang aku dapat proses visa Cina adalah 5 hari kerja, jadi aku bilang, ‘ekspres’. Kami memang sudah berniat untuk pengurusan ekspres visa Cina untuk Larry. Udah siap bayar lebih.

Setelah mendapat nomor antrian E 177, akupun masuk. Ruangan luas dan cukup ramai, dengan banyak loket yang melayani. Sekitar satu jam, aku baru mendapat giliran. Di loket aku bertanya pada mbak yang melayaniku. Aku mendapat jawaban bahwa pengurusan regular akan memakan waktu 4 hari kerja terhitung hari ini.
Jadi visaku dan Larry akan selesai di hari Jumat, 20 Oktober 2017.
Anak hokiiiii!!!!
Nyerempetttt terus tapi hokinya selalu ada.
Akhirnya aku pilih pengurusan regular dengan biaya 540.000 per orang. Bayangkan kalau harus ekspres, yang hanya 3 hari kerja sebesar 900.000. Nyarissss aja 360.000 melayang!!

Di loket, berkasku langsung diperiksa oleh si mbak. Formulir yang telah aku isi secara online, ada yang harus diperbaiki. Dengan dipinjami tipe-x si mbak, aku menghapus data yang salah dan membetulkannya. Setelah semua beres, aku diberi selembar tanda terima bertuliskan namaku, jumlah paspor, tanggal pengambilan.
Proses hari itu selesai.

20 Oktober 2017
Sekitar pukul 2 siang aku tiba di lantai 8 dengan langsung mengambil nomor antrian untuk pengambilan paspor dan mendapat nomor C 223 dengan 55 orang mengantri di depanku. Rame!
Satu jam kemudian barulah nomorku dipanggil. Aku menuju loket 17 dan membayar total 1.080.000 untuk 2 visa. Setelah itu, aku ke loket 20 untuk mengambil paspor.
Horeeee!!!
Selesaiiiii…

Pengalaman mengurus sendiri visa Taiwan dan visa Cina sekaligus dalam waktu hampir bersamaan, aku share langkah-langkahnya yaa.. Berkas yang dibutuhkan pun sedikit berbeda.

Di Indonesia tidak ada kedutaan Taiwan, jadi pengurusan visa dilakukan di Taipei Economic Trade Office (TETO) yang berada di lantai 17 Gedung Artha Graha, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan.
Jam operasional:
- Penyerahan berkas visa: 08.30-11.30 WIB
- Pengambilan visa: 13.30-16.00

Berkas untuk visa Taiwan:
1. Formulir pengajuan aplikasi yang telah diisi secara online melalui web
2. Paspor asli yang masih berlaku dengan masa kadaluarsa lebih dari 6 bulan
3. Fotokopi paspor
4. Dua lembar pas foto dengan background putih, ukuran 4x6
5. Fotokopi kartu keluarga
6. Fotokopi rekening tabungan 3 bulan terakhir
7. Surat keterangan kerja

Biaya pembuatan visa Taiwan adalah sebesar 625.000 untuk single entry.


Untuk pembuatan visa Cina dilakukan di Chinese Visa Application Service Centre, lantai 8 Gedung The East, Lingkar Mega Kuningan, Jakarta Selatan.
Pengajuan berkas dengan mengambil nomor antrian maksimal pukul 15.00

Berkas untuk visa Cina:
1. Formulir pengajuan aplikasi yang telah diisi secara online melalui web www.visaforchina.org
2. Paspor asli yang masih berlaku dengan masa kadaluarsa yang masih lebih dari 6 bulan
3. Fotokopi paspor
4. Dua lembar pas foto dengan background putih, ukuran 3,3x4,8
5. Tiket pesawat (pulang pergi)
6. Voucher hotel (bisa melakukan booking di aplikasi hotel yang free cancellation)

Biaya pembuatan visa Cina untuk single entry adalah 540.000, terdiri dari biaya visa sebesar 300.000 dan biaya jasa pembuatan visa sebesar 240.000.

Pembuatan visa kedua negara ini sangat mudah dan cepat, asalkan semua syaratnya lengkap.
Jadi, dengan datang dan mengurus sendiri bisa hemat biaya agen..

Sebagai tambahan, bagi yang memiliki visa negara-negara tersebut di bawah ini dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tak perlu lagi mengajukan Visa Taiwan:
- Amerika
- Jepang
- Korea
- Australia
- New Zealand
- Schengen

Serunya Makassar, Indahnya Toraja (6): Bantimurung dan Rammang-rammang

Sehari sebelum meninggalkan Makassar masih diwarnai kebingungan. Masih ada 2 hari untuk eksplor kota ini, tapi ga tau harus ke mana.. hahaha..

Makassar dari hotel

Karena belum ada rencana apapun, pagi sekitar jam 9 kami sarapan Pangsit Mie Sulawesi. Setelah sarapan, kembali ke hotel donkkk.. hahaha.. ngambil kopernya Stephen karena dia harus pulang sehari lebih cepat dari rencana kami.

Pangsit Mie Sulawesi

Setelah siang, keluar hotel untuk makan siang.. hahaha..
Pilihan kami kali ini jatuh kepada Konro Karebosi. Akhirnya kesampean makan sop ini langsung di kota asalnya.


Setelah makan, kami menuju Bandara Sultan Hasanuddin mengantar Stephen pulang. Tinggal bertiga dehhh..




Karena tak tahu mau ke mana, kami ke Taman Nasional Bantimurung. Salah satu tempat yang akan muncul di travel blog mengenai Makassar.








Saat telah gelap, kami kembali ke kota Makassar. Karena besok akan meninggalkan Makassar, kami memutuskan untuk membeli oleh-oleh Makassar di Toko Unggul. Toko yang lengkap dan murah, recommended!

Selesai jajan, masih banyak kuliner Makassar yang belum kami coba. Untuk makan malam terakhir di Makassar, Mie Titi Datuk Museng jadi pilihan kami. Di Jakarta ada, tapi yang dari kota asalnya sudah pasti juara! Enak banget!





Kenyang menyantap nasi goreng merah, mie titi, dan mie hokian, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki, karena memang jaraknya yang dekat.

Walau sempat bingung mengenai rencana di hari terakhir, akhirnya kami mendapat pencerahan, lagi-lagi dari salah satu sopir Grab.

Rammang-rammang
Satu tempat cantik di Makassar. Kami pun menyewa mobil Uber yang sama dengan yang mengantar kami ke Bantimurung.

Pagi terakhir, kami check-out dari hotel, menuju Otak-otak Ibu Elly. Otak-otak enak yang harus dicoba kalau ke Makassar.

Karena hampir siang dan perjalanan ke Rammang-rammang akan memakan waktu sekitar 1 jam, kami pun makan Pangsit Mie Toraja, yang enak banget!! Juara deh..
Khas Sulawesi, mie ini pas dan nikmat. Lagi-lagi, yang dari kota asalnya pasti lebih enak..

Mie Pangsit Toraja

Awalnya aku bingung, apa sih Rammang-rammang, sampai browsing dan menemukan foto karst.

Saat tiba di Rammang-rammang, aku langsung takjub. Dari depan tampak tebing batu berdiri kokoh. Begitu masuk, kami ditawari penyewaan perahu untuk berkeliling. 250.000 untuk satu perahu untuk 4 orang. Pikirku, naik perahu ke mana ya. Ternyata untuk berkeliling wilayah ini.




Rammang-rammang adalah sebuah perkampungan karst terbesar di dunia dengan penduduk yang tinggal di sana.

Terik matahari siang itu berhasil menghitamkan kulitku.
Berjalan-jalan di bawah terik matahari tak menjadi soal karena indahnya pemandangan yang kusaksikan ini.












Kami melanjutkan naik perahu ke tempat selanjutnya, Taman Batu.



Setelah berkeliling melihat indahnya perkampungan karst ini, kami pun harus segera menuju bandara.

Perjalananku ke Makassar dan Toraja harus berakhir.
Tapi segala keindahan dan berkatnya akan terus aku rasakan.
Sejak awal persiapan, saat detik pertama menginjakkan kaki di Makassar, ke Toraja, hingga akhirnya meninggalkan kota ini, berkat yang luar biasa benar-benar mengiring kami.

Mulai dari cuaca yang sangat bersahabat, orang-orang yang kami temui, yang kami kenal maupun yang secara tidak sengaja kami temui, hingga transportasi yang sangat mudah kami dapati.

Selama di Makassar, Eric menggunakan Grab Car yang saat itu sedang promo, ke manapun hanya Rp.2.000. Murah banget.. hahaha.. Awalnya mau sewa mobil tapi ternyata ada promo murah meriah.

Aku yang awalnya sama sekali ga ada bayangan tentang Makassar, apalagi Toraja, jadi jatuh cinta pada kota ini.
Kami yang berangkat ke kota ini hanya bermodalkan nekat, tanpa ada persiapan yang matang, malah berulang kali merasakan berkat.

Kami yang tak tahu harus ke mana, malah memperoleh terlalu banyak keindahan.
Dari budaya hingga adat,
dari pantai hingga gunung,
dari panas hingga dingin.
Lengkap!

Yang namanya traveling ya seperti ini ya, tanpa repot, tanpa khawatir, jalani dan terima apa yang ada di hadapan kita, maka yang indah akan selalu menjadi suguhan terbaik.

Indonesia kaya, bahkan teramat kaya.
Indonesia indah, terlalu indah untuk tidak dikunjungi..

Semoga ada lain waktu untukku kembali ke kota ini..

Serunya Makassar, Indahnya Toraja (5): Samalona dan Kodingareng


Saat masih terlelap tidur, salah satu telpon di ‘kamar’ kami berbunyi. Lama bordering tak diangkat, artinya ‘kamar’ itu cukup nyaman untuk tidur nyenyak.. hahaha..
Setelah beberapa kali bordering, akhirnya ada yang mengangkat.
Kami dibangunkan karena sebentar lagi akan tiba.
Ya, kami telah tiba kembali di Makassar!
Bersiap untuk keindahan lainnya yang sebenarnya kami belum tahu apa.. hahaha..

Jam 5.20 kami turun dari bus seru dan takkan terlupakan..
Terimakasih bus mewah dan Toraja!
Turun tepat di depan Hotel Best Western, kami pun masuk ke lobi. Setengah sadar karena bahkan kami ga pernah bangun sepagi itu di rumah..

Mengurus early check-in, tambahan biayanya hampir sama dengan harga kamar yang kami pesan.
Jadi kami hanya menitipkan koper lalu melakukan rutinitas pagi di toilet lobi hotel.
Lagi-lagi ga pake mandi, terakhir mandi siang sebelumnya di Lolai.. hahaha..

Mengumpulkan nyawa dengan duduk bengong di sofa lobi hotel. Nyawa belum terkumpul tapi kami sudah harus berpikir abis ini mau ngapain, mau ke mana.. hahaha..
Bocah petualang masih berlanjut kisahnya. Kisah tanpa rencana, serba mendadak..
Cowok-cowok pasrah, jadilah aku yang cewek sendiri harus kepo. Nyari-nyari di Google Maps, tempat sarapan yang walking distance dan sudah buka sepagi itu. Akhirnya ketemulah Pangsit Mie Palu yang buka jam 7 pagi, menurut Google Maps. Jaraknya ga deket juga sih, sekitar 1 km.. hahaha.. Tapi cowok-cowok mau tuh jalan kaki pagi. Olahraga.




Sambil makan, topiknya masih sama: “abis ini mau ke mana?” hahaha..
Salah satu teman WYD, Ci Johanna, yang tinggal di Makassar ngajak ketemu. Ya udah, janjian di Katedral Makassar. Saat itu kebetulan, banyak pilgrim Asian Youth Day yang sedang Days in Diocese di Keuskupan Makassar.

Selesai sarapan mie babi Tore, Eric memesan Grab Car menuju Katedral Makassar. Saat kami tiba, ratusan anak muda pun tiba. Kami sempat dikira sebagai peserta. Terlihat banyak anak muda dan juga pastor Korea.

Kami masuk ke dalam gereja untuk berdoa dan berkeliling melihat Katedral ini. Tak lama, Ci Johanna mengajak kami ke aula gereja untuk mengikuti pembukaan Days in Diocese. Seru, rame!
Langsung terasa euphoria WYD. Nyanyi bareng, joget bareng, khas anak muda Katolik.



Si Bolang kumal bersama Bapa Uskup Makassar..
Karena ingin melanjutkan jalan-jalan di Makassar, kami pun pamit. Namun bersamaan dengan selesainya acara pembukaan. Pilgrim akan melanjutkan perjalanan di kota Makassar.
Muka kumal belum mandi 24 jam, pake acara foto sama Uskup Makassar dan sekretarisnya, Romo Paulus.. hahaha.. Rezeki anak belum mandi ya, malah sempat berbincang dengan Bapa Uskup.

Saat menuju keluar, kami bertemu seseorang.
Cowo yang kami temui di gereja Toraja, saat kami baru selesai lari marathon. Ternyata dia pilgrim AYD. Saat ketemu di Toraja, kami malah ngobrol soal makanan Toraja. Eh, ketemu di Makassar!!
Masih ga abis pikir loh.. Kq bisa yaaaa..

Si dia yang sudah bertemu kami di Toraja.. hahaha.. Jodoh pasti bertemu!
Lagi-lagi kami merasa diberkati lewat orang-orang yang tak sengaja kami temui.

Dari gereja, Eric kembali memesan Grab Car. Bersama Ci Johanna, kami melanjutkan kuliner Makassar. Kali ini Coto Makassar Nusantara. Kesampean juga makan Coto Makassar langsung di kotanya.. hehehe..


Selesai bersoto ria, kembali bingung mau ke mana. Akhirnya ke Fort Rotterdam, salah satu tempat bersejarah di Makassar yang wajib dikunjungi.





Setelah hanya sekitar setengah jam berkeliling dan berfoto di Fort Rotterdam, kami berniat menyeberang ke beberapa pulau. Pulau Samalona dan Pulau Kodingareng. Pulau yang bahkan baru pernah aku dengar namanya, hasil rekomendasi sopir Grab.
Awalnya kami bingung bagaimana cara menyewa kapal untuk menyeberang ke pulau tersebut. Tapi saat sedang berfoto di depan Fort Rotterdam, seorang pemuda menghampiri kami, menawarkan kapalnya. Bak gayung bersambut atau ini yang namanya jodoh. Si abang sedang sepi penumpang, kamipun sedang mencari kapal..

Setelah tawar menawar, deal 500 ribu untuk menyeberang ke dua pulau tersebut.
Yang pertama kami tuju adalah Pulau Samalona, pulau kecil yang berpenghuni dan juga terdapat resort untuk turis menginap. Tiba di Samalona, kami berkeliling. Pulau yang sepi, pantainya pun masih sangat bersih. Karena waktunya makan siang, kami memesan 2 ekor ikan baronang bakar. Ikan laut yang fresh, yang dinikmati di gubuk tepi pantai. Jangan bayangkan ada restoran. Berteman angin dan debur air laut, ikan ini menjadi penyempurna waktu kami di pulau Samalona.
Selesai menyantap ikan bakar, kami melanjutkan berkeliling pulau. Tak butuh waktu lama untuk berkeliling karena pulau ini memang kecil.

Saat matahari terik, berdiam di gubuk atau bale-bale menjadi pilihan yang tepat.  Pertama kalinya aku tertidur di tepi pantai. Rasanya segar, dengan luasnya biru yang terhampar di hadapan dan semilir angin laut terasa sejuk menyentuh kulit. Satu momen berharga yang jarang kudapati, bahkan belum pernah. Kapan dan di mana coba aku bisa tertidur di pinggir pantai.. hahaha..












Karena hari makin sore dan masih ada satu pulau lagi yang harus kami datangi, kami pun beranjak meninggalkan Samalona.

Sekitar jam 3 sore, perahu kami meninggalkan Samalona dan menuju Kodingareng. Air laut sudah agak tinggi dan mulai terasa tingginya ombak. Perjalanan menuju Pulau Kodingareng diwarna dengan cipratan air laut yang memang sudah tinggi. Waktu yang dibutuhkan untuk tiba di Kodingareng pun jadi lebih panjang karena perahu harus melaju perlahan.

30 menit kemudian, sebuah pulau mulai terlihat dari jauh. Kecil dan perlahan menjadi besar dan nyata seiring perahu kami merapat.


Pulau Kodingareng



Lebih kecil dari Samalona, Kodingareng pun tidak berpenghuni. Tidak ada penduduk yang tinggal di pulau ini. Saat kami datang terlihat hanya ada beberapa pekerja yang sedang mengerjakan bangunan di pulau tersebut.

Walau kecil, dari pulau ini aku bisa menyaksikan hamparan luas laut yang berpadu cantik dengan birunya langit.. Gradasi biru yang sempurna yang menjadikan pandangan mataku terasa begitu indah.













Dari barat, terik sinar matahari yang segera akan tenggelam nyata menyinari. Pantulannya telah terlihat. Aku senang karena yakin bahwa sore itu sunset akan sangat cantik. Tapi sayangnya kami harus segera meninggalkan Kodingareng untuk kembali ke Makassar. Matahari hampir tenggelam yang artinya air laut akan pasang dan akan sangat bahaya bila kami tidak segera kembali ke Makassar.
Mau tidak mau aku pun meninggalkan pulau cantik ini.
Dan benar saja, perjalanan perahu kami menuju Makassar menjadi seru. Lajunya harus menjadi sangat lambat karena ombak yang sangat tinggi yang menggoyang perahu.

Aku memilih untuk duduk menghadap belakang, menghadap Pulau Kodingareng yang makin terlihat kecil. Aku tak hanya ingin menikmati pulau itu dari kejauhan tapi juga aku menunggu saat matahari menyentuh bibir laut.



Walau sempat kecewa karena tak bisa menikmati sunset dari pulau, lagi-lagi aku merasa sangat terberkati.
Jelang merapat di Makassar, si abang perahu menghentikan lajunya. Dia menyuruh kami menikmati detik-detik si bulat sempurna matahari menyentuh laut lalu menghilang.
Sungguh, moment yang teramat indah.
Bak kuning telur bulat matahari besar itu sempurna tenggelam di balik laut.
Berkali-kali menanti momen matahari tenggelam, ini yang paling indah yang pernah kusaksikan. Tanpa terhalang awan atau apapun. Sempurna. Indah.


Sunset sempurna!

Sekitar jam 6, tetap setelah tenggelamnya matahari, kami tiba kembali di Makassar.
Karena rekor baru terpecahkan, yakni ga mandi selama lebih dari 30 jam, kami pun memutuskan kembali ke hotel untuk mandi.. hahahaha..

Setelah mandi, nyari makan malam.
Belum cukup capek sepertinya, kami memilih berjalan kaki menuju Rumah Makan Seafood Losari.
Seafood dan sambal khas Makassarnya enak! Mantap!!
Kami tidak terlalu capek, tapi selama makan seafood, badan kami terombang-ambing. Goyang.. hahahaha.. Kelamaan di perahu dengan ombak yang dahsyat..





Kenyang menyantap seafood, kami masih lanjutkan perjalanan kaki menuju Pantai Losari. Buat aku yang baru pertama kali ke Makassar, ke Pantai Losari adalah wajib donk.. Tapi karena malam hari, tak terlalu banyak yang bisa kami nikmati. Mau jajan pun perut sudah terlalu kenyang..

Dari Pantai Losari, kami kembali ke hotel dengan tetap berjalan kaki.. hahaha.. Baterai badan masih penuh, masih full energy..



Malam menjemput, satu hari di Makassar ini terlalu seru. Tanpa rencana tapi semua berjalan mulus..
Masih ada 2 hari di Makassar..

Keseruan masih berlanjut..

Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts