Iseng Berbuah Nikmat

Jelang akhir tahun 2010, aku wujudkan niat lama yang selalu tertunda.
MASUK KE DAPUR!!
alias MEMASAK...
Hohoho...

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku memasak loh. Dari dulu aku sering memasak, tapi hanya untuk masakan yang simple, seperti memasak mie instan (bukan merebus loh... mie instannya aku masak lagi jadi kayak di tukang mie tek-tek.. hehehe...). Mau lihat hasil mie tektek buatanku??
Ini dia...
Mie Tektek VeL ^^

Ya kalau urusan tumis menumis aku masih mampulah.. hehehe...
Tapi kali ini aku mencoba menerapkan resep yang aku anggap mudah. Mumpung masih jadi pengangguran, tak ada salahnya mencoba resep. Bekal untuk nanti jadi ibu RT... hahaha...

Dan hasilnya sangat tak mengecewakan, dengan kata lain.. UUEENNAAKKK LOOHH!!! ;D

Menu pertama
Kakap Tofu Saos Tausi... Yummy!! :)

Menu kedua
Udang Popcorn.. Kriukk..

Tuhan Teramat Baik Bagiku


Sekali lagi Tuhan menunjukkan kebaikanNya.
Sangat takjub akan kebaikanNya.
Dia sangat baik, teramat baik bagiku, bagi kehidupanku.

Dan untuk perasaanku kali ini diwakilkan oleh sebuah lagu Univoice. Lagu yang sebenarnya telah lama beredar, tapi aku baru tahu sekitar 1 minggu... hahaha... Telaattt banget yah...
Aku pun langsung jatuh cinta pada lagu itu. Allah Setia.
Beautiful song. Here’s the lyric...

Di saat ku sendiri dan topan badai menghampiri
Ku tahu Kau s'lalu ada di sisiku
Di saat hatiku hancur dan tiada seorangpun
Hanya yesus yang setia menopangku

Kaulah Tuhan yang selalu mendengarkan
Seruan hatiku di setiap waktu
Kaulah Allah yang tak pernah tinggalkanku
Kubersyukur buat kasih setiaMu di hidupku

(and here’s a Youtube link for that song:

Jujur, aku belum punya CD Univoice.. hihihi...
Dan minggu lalu, saat sedang mencari lagu untuk persekutuan doa, Larry menawarkan lagu ini. Walau dia menyanyikan lagu ini dengan nada yang ’agak-agak’... hahaha... tapi aku langsung suka. Aku coba browse di Youtube dan ketemu!! Senangnya... hehehehe.... Langsung kupasang berkali-kali suara Cello sambil menghayati setiap kata di lagu itu.

Ternyata Tuhan tak hanya terlalu baik bagiku. Dia adalah Tuhan yang teramat setia bagiku.
Dia tak menutup mata...
Dia tak menutup telinga...
Dia tak sekalipun tertidur...
Dia mengerti segala hal yang aku butuhkan...
Dia memahami apa yang menjadi kerinduanku...

Minggu kedua Desember 2010, aku tinggalkan pekerjaanku.
Seperti yang aku ceritakan di post sebelumnya, aku tutup tahun 2010 dengan perasaan kecewa.
Kecewa karena secara mendadak aku harus tinggalkan pekerjaan.
Kecewa karena aku diperlakukan tidak adil oleh perusahaan.
Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Hanya bisa menerima dengan berat hati dan membangkitkan diri sendiri.

Sekarang telah 1,5 bulan aku luntang-lantung alias jobless.
Sejujurnya aku sangat menimati masa-masa pengangguranku ini. Aku bisa jalan-jalan ke mall kapanpun aku mau. Bisa pergi bersama mami ke manapun. Senaaanggg... hahahaha... Hidupku berubah jadi hidup ’mall to mall’.
Aku juga bisa bangun siang, tak pusing dengan macetnya Jakarta... hohoho...
Nikmatnya dunia... :D

Tapi tentu saja tak bisa selamanya aku seperti itu.
Aku sadar akan kewajibanku sebagai anak yang sudah cukup umur (bukan tua loh ya... hahaha...). Aku harus bekerja, menerapkan ilmu yang kudapat di bangku kuliah.
Sejak keluar dari kantor lama, aku pun langsung memasukkan beberapa surat lamaran via internet. Banyak perusahaan yang kupilih, yang kira-kira cocok dengan keinginanku.
Setelah menunggu beberapa minggu, aku mulai bingung karena belum ada 1 perusahaan pun yang memanggilku untuk interview.
Sempat putus asa dan berpikir selamanya aku akan jadi pengangguran... hahahaha... *netting banget ya...
Padahal dulu saat baru lulus dan apply surat lamaran, aku tak perlu menunggu lama untuk dipanggil perusahaan. Tapi koq kali ini aku sepi tawaran yah? hehehe... Tampaknya aku sudah kalah pamor dengan fresh graduated yang pastinya menjamur... ;P

Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya ada sebuah perusahaan yang memanggilku untuk psikotes dan wawancara. Proses yang mereka lakukan sangat cepat. Hanya butuh 1 minggu sejak pertama kali aku mengikuti tes hingga akhirnya aku diterima. Jadi sekarang aku sedang menghitung sisa hari ’mall to mall’ku sebelum akhirnya aku kembali ke kehidupan nyata.. hahahaha...

Saat dinyatakan diterima di perusahaan tersebut, aku sangat bersyukur. Aku percaya Dialah yang telah merencanakan segala hal yang terbaik bagiku. Memang butuh waktu agak lama hingga akhirnya aku dapat bekerja kembali. Tapi aku tetap bersyukur, mungkin Tuhan memberikan aku libur panjang sebelum kembali lagi beraktivitas di kantor. Terima kasih ya, Tuhan atas libur yang amat panjang ini.. hehehehe...

Kebaikan Tuhan belum berhenti (dan aku yakin tak akan pernah berhenti di sepanjang hidupku).
Di saat aku telah memperoleh kepastian bekerja di sebuah perusahaan, datang lagi tawaran lain.
Minggu lalu, sebuah perusahaan besar menghubungiku, memintaku datang ke kantornya di kawasan Thamrin untuk mengikuti tes seleksi. Sempat ada keraguan saat mengiyakan tawaran tersebut. Tapi kupikir tak ada salahnya mencoba. Toh aku belum mulai bekerja. Aku berjanji akan datang di hari yang telah ditentukan, yakni Rabu, 26 Januari 2011.
Dan ternyata, hari Senin kemarin, sebuah pesan singkat masuk ke handphoneku. Isinya mengundang aku untuk mengikuti psikotes di sebuah perusahaan besar juga. Dan aku diminta untuk hadir di hari yang sama, yakni Rabu, 26 Januari 2011.
Aku langsung bergumam dalam hati, ”Wuihh... Tuhan tuh kalo ngasih berkat ga tanggung-tanggung ya... Sampe kewalahan..” hehehehe...

Waktu itu aku sempat frustrasi karena tak ada 1 perusahaan pun yang memanggilku. Tapi sekarang aku kebingungan karena ada 2 panggilan kerja di hari yang sama.
Karena bukan amoeba yang bisa membelah diri, akhirnya aku hanya memenuhi 1 panggilan tersebut.. hehehe...

Tuhanku terlalu baik bagiku.
Tuhanku tak pernah menutup mataNya.
Tuhanku selalu punya rencana yang indah bagiku.
Tuhanku tak pernah lupa untuk menghadiahkan berkat bagiku.

Dia membiarkan aku mengalami kejadian tak mengenakkan di kantor lama.
Dia mengizinkan aku keluar dari kantor lama.
Dia memberikan aku bonus libur hampir 2 bulan.
Dia membiarkan aku kebingungan menunggu panggilan kerja.
Tapi toh nyatanya Dia telah menyiapkan rancangan yang terbaik bagiku.
Aku bersyukur, Tuhan...
Aku berterima kasih padaMu.

Kaulah Tuhan yang selalu mendengarkan
Seruan hatiku di setiap waktu
Kaulah Allah yang tak pernah tinggalkanku
Kubersyukur buat kasih setiaMu di hidupku

Fall in Love with Efesus

22.35
Aku tiba di rumah tercinta. Hampir larut malam memang. Tapi hari ini hari Jumat dan aku bukan pulang dari diskotik koq... hehehe...
Aku baru pulang dari persekutuan doa...
Huaaaa... Memang terlalu malam... Tapi untuk sekarang, inilah persekutuan yang dapat aku ikuti.
Persekutuan Doa Efesus.
Sebagai informasi, PD ini terletak nan jauh di ujung Jakarta. Sangat ujuuunnnggg... Ya setidaknya bagiku yang tinggal di ujung juga. Bedanya aku di ujung timur dan Efesus di ujung barat. Jadi aku harus menempuh minimal 30 kilometer perjalanan untuk tiba di Efesus. Pulang pergi ya tinggal dikali 2 deh, jadi 60 kilometer... Ya kira-kira setara dengan Jakarta-Bogor-Jakarta... hahahaha...
But, it doesn’t matter for me...

Hari Jumat yang lalu aku berangkat dari rumah pukul 15.30. Aku tahu PD baru akan mulai setelah pukul 19.00. Logikanya bila aku berangkat dari rumah pukul 18.00 aku masih bisa mengikuti PD tepat waktu. Tapi lalulintas Jakarta tak lagi mengandalkan logika.. hehehe... Sengaja aku berangkat siang untuk menghindari kemacetan. Tapi nyatanya aku tetap harus menghabiskan waktu 2 jam untuk tiba di Efesus... Ampun... Sepanjang jalan di tol, kecepatan mobilku hanya 20 km/jam. Hanya bisa pasrah sambil membayangkan suasana PD.

Hari ini, sama sekali tak kapok, aku kembali menuju Efesus. Padahal aku tahu, meskipun lewat jalan tol, macet tak bisa kuhindari. Tapi syukurlah macet hari ini tak separah minggu lalu.
Hari ini memang sengaja kusisihkan waktu seharian hanya untuk mengikuti PD Efesus. Sejak kemarin aku berpikir untuk ikut PD Efesus karena sepertinya akan sulit bagiku untuk datang lagi di minggu-minggu yang akan datang. Entah kapan aku bisa datang kembali ke Efesus. Mungkin hari ini terakhir kalinya. Jadi tak kusia-siakan kesempatan ini.

Bila dipikir ulang, aku sendiri bingung.
’Kenapa ya koq aku niat banget ikut PD Efesus?’
Aku harus menempuh perjalanan 60 kilometer.
Aku harus menerjang kemacetan, pulang dan pergi.
Aku harus tiba di rumah menjelang tengah malam.
Tapi aku senang datang ke Efesus.
Kenapa ya?
Umm... Yang pasti bukan karena ada Larry di sana. Kalau hanya untuk bertemu Larry, aku tak harus menempuh perjalanan 60 kilometer.. alias ga segitu niatnya.. hahahahaha...

Mari mundur beberapa tahun.
Aku berkenalan dengan Larry. Saat itu aku masih kuliah dan PD kampusku akan mengadakan retret hidup baru. Aku dan panitia lainnya sedang sangat membutuhkan dana. Aku pun tahu bahwa Larry aktif di PD Efesus. Iseng-iseng aku mengajaknya tukar mimbar. Di hari yang telah ditentukan, aku dan teman-temanku datang untuk mengisi pujian.
Kesan pertama: SO COMFORT!
Aku seperti menemukan rumah ketigaku. Sepulang mengisi pujian, rasanya ingin kembali lagi. Tapi di pikiranku saat itu, rasanya tak mungkin. Jaaauuuhhh sangat! hahahaha... Akhirnya aku hanya bisa membayangkan kenyamanan Efesus.
Setahun kemudian, aku diberi kesempatan untuk datang kembali ke PD nyaman itu. Senang rasanya... hehehehe... Walaupun teramat jauh, tapi tak menghalangiku untuk datang lagi ke Efesus.
Sampai saat ini sudah beberapa kali aku datang ke Efesus.
Aku juga telah mengenal hampir semua pengurusnya. You guys are really nice and loveable...
Kesan comfort tak hilang dari hatiku.
Efesus mirip dengan PD kampusku.
(tapi tetep yaaa, PD kampusku nomor wahid! hehehe...)
Saat berada di tengah Efesus, pikiranku melayang ke beberapa tahun silam.
Bernyanyi, memain gitar, bercanda gila, saling menghujat, stres mencari dana, ngamen, bawa kotak sumbangan, jualan, rapat berjam-jam diselingi canda tawa....
Hampir semua yang Efesus lakukan, pernah aku lakukan di PD kampusku.
I really really miss all those moments

Setelah lulus, aku seperti kehilangan tempat yang begitu nyaman untuk melayani.
Aku seperti kehilangan sesuatu yang cukup berharga.
Aku tak bisa lagi in charge di PD kampusku.
Umur semakin bertambah, prioritas mulai berubah.
Aku sekarang tercatat di sebuah komunitas yang cukup besar. Tapi tetap tak bisa mengatasi kerinduanku akan sebuah PD yang ’anak muda banget’, yang sangat nyaman. Aku belum ’klik’ di komunitas baruku, sampai saat ini.
Huaaaa... Aku rindu PD kampusku...
Andai bisa terus menjadi mahasiswa... *tak rela keluar dari zona nyaman... hihihi....
Tentu saja tak bisa. Di satu sisi ingin terus melayani di PD kampus, tapi di sisi lain banyak tanggung jawab yang harus kuambil setelah tak lagi menjadi mahasiswa.
Aku terus mencari komunitas seperti PD kampusku. Dan semakin kucari, semakin sulit kudapat. Hanya 1 yang sangat nyantol di hati: EFESUS.

Itu mengapa aku merasa begitu nyaman berada di tengah Efesus...
Uffhhh... Andai aku bisa datang ke Efesus setiap Jumat, I’ll do it...
Supaya aku bisa mengobati kerinduanku.
Uffhhh....
Andai rumahku bisa digotong pindah ke Meruya, I’ll do it...
Supaya bisa pelayanan bersama Efesian...
Bolehkah, teman? hehehehe...


Thanks for giving another lovely comfort home for me..
Keep on serving… Keep on walkin in Jesus…
Keep on giving Everything For JESUSJ

*psstt… tak hanya aku loh yang merasa nyaman di Efesus. Teman-temanku yang pernah datang ke Efesus juga merasakan hal yang sama... hehehe...
*pengen deh abis PD bisa ikut ngumpul n makan bersama... huhuhu... Tapi perjalanan pulang terlalu jauh. Kalau aku ikut kumpul2 abis PD, bisa ngalahin Cinderela pulangnya.. hahahaha...

Worship Night at Wonderful Night


Di penghujung tahun 2010, sekitar bulan November, aku menerima undangan pernikahan dari temanku. Dia merupakan temanku selama SMP dan SMA. Jadi aku cukup mengenal baik dia karena kami sempat 6 tahun bersekolah di sekolah yang sama. Dia memang tidak mengirimkan undangan ke rumahku. Dia hanya mengirimkan undangan melalui event Facebook. Saat pertama kali event itu muncul di Facebook, aku adalah orang pertama yang RSVP I’m Attending. Bahkan aku langsung menuliskan komen di wallnya seperti ini, “I’ll be there! Asikk… Gue difoto 2x yah?”
Beberapa minggu kemudian, saat berjalan-jalan di sebuah mall, aku bertemu dia dan calon suaminya. Dia berkata, “Datang ya!” Dan aku dengan amat sangat yakinnya berkata, “Iya, see you there.”

Bulan Desember 2010, aku menyempatkan diri datang melihat stand dagangan PD Hieronimus saat KRK di Yustinus lantai 15. Saat itu aku melihat poster ‘Shout to The Lord’. Aku sempat berkata pada Hartono, “Wah… G pasti datang ke worship night!”

Saat berkata seperti itu, aku masih tak sadar kalau ternyata pernikahan temanku bersamaan dengan worship night. Aku baru sadar saat awal tahun dan aku mulai kebingungan. Wuuaahhh… Aku ingin menghadiri kedua acara tersebut. Haruskah aku membelah diri??
Aku sempat memutuskan untuk memilih menghadiri resepsi pernikahan temanku dan merelakan worship night. Hingga 2 minggu sebelum hari H, si Fika imut sms aku. (sepertinya dia utusan Tuhan… hahahahaha…)
Isi smsnya kira-kira seperti ini:
“Ci Vel… Nanti tanggal 15 cici dating WN ga? Bisa tolong bantuin make-up ga? Tolong kabarin ya, ci… Thanks…”

Aku kembali dibuat bingung. Aku yang telah memutuskan untuk pergi ke resepsi temanku, kembali bimbang. Benar-benar bimbang. Sampai-sampai aku belum dapat membalas sms Fika hingga 2 hari. Sifat plinplanku muncul.
Kondangan… WN… Kondangan… WN… Kondangan… WN…
Aaaaahhhhh.. Menggila memikirkannya….

Aku makin dibuat bingung saat Larry memberitahuku bahwa dia diminta untuk menjadi Tim Doa.
(Ternyata jauh-jauh hari, Jessica telah memintanya untuk menjadi tim doa dan dia telah mengiyakan.)
Bukan membantuku memutuskan, Larry malah menyerahkan keputusan kepadaku.
“Terserah, mau kondangan atau WN…”
Huuffhhhh….

Aku pun mendesak diriku untuk segera membuat keputusan.
Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya aku membalas sms Fika”
“Fika.. Maaf baru bales smsmu.. Ok, aku jadi bantuin make-up yah… J

Akhirnya aku memutuskan untuk menghadiri worship night.

Dilemmaku seperti ini:
Aku ingin menghadiri resepsi temanku karena aku dapat reuni dengan teman SMP dan SMAku. Aku sangat kangen teman-temanku. Dan aku telah berjanji beberapa kali untuk menghadiri resepsi temanku itu.
Tapi rasanya juga telah lama aku tak mengikuti KRK. Rasanya sudah cukup lama juga aku tidak melayani. Dan kali ini PD tercintaku yang mengadakan KRK. Jadi aku ingin sekali ikut.
Lagipula kalau aku memutuskan untuk kondangan, artinya aku membuat dua orang tidak melayaniNya. Aku dan Larry tidak dapat melayani.

Saat membuat keputusan untuk ikut worship night, aku berkata seperti ini pada Larry, “Ya udah, kita ikut WN. Lagian udah lama kita ga pelayanan…”

Hari H.
Aku bertemu Shu dan dia berkata seperti ini, “Lo juga ga datang kondangan donk?”
Aku dan Shu memang sama-sama diundang oleh temanku itu. Kami dan temanku itu bersekolah di SMP dan SMA yang sama. Aku pun sempat membayangkan betapa menyenangkannya bila aku dapat menghadiri resepsi temanku.

But guys… I made the best decision…
I’m so thankful for I came to worship night.
I was so blessed through that worship night.
Aku sama sekali tak menyesal atas keputusanku menghadiri worship night.
Aku juga bersyukur dapat terlibat dalam worship night  meskipun hanya sedikit.. hehehe…
Bahkan aku sempat ragu untuk memoles muka adik-adikku, takut muka mereka malah menjadi cemong.. hahahaha…
Tapi aku bersyukur untuk kesempatan yang boleh diberikan kepadaku untuk melayani, meskipun hanya di detik-detik akhir menjelang kalian naik panggung…
Aku berharapa seandainya bisa terlibat lebih banyak lagi dari awal persiapan.. hehehe…

Sukacitaku penuh karena menghadiri worship night.
Aku sangat terberkati oleh worship night.
Dan aku sangat bangga atas apa yang adik-adikku kerjakan di ladangNya.

You guys did the best things, my brothers n sisters..
So very proud of you…
Jangan pernah lelah untuk melayani ya…

*Proficiat buat worship night yang berjalan luar biasa!!!
*Sharing dari Larry: worship night  kemarin tak seperti biasanya… tim doa pun tak merasakan sesuatu yang sangat berat… Doanya ringan, katanya… God really bless that wonderful night…
*1 pelajaran dari apa yang aku alami: jangan asal bikin janji, malah jadi bingung sendiri… hahahahaha…

Tiada Ternilai

Di hatiMu terukir namaku
Di mataMu terlukis wajahku
Bukan karna kuat gagahku
Namun hanya karna kemurahanMu

Meski terkadang aku terjatuh
Tak pernah lelah Kau hampiriku
Memelukku dengan cintaMu
Betapa besar mulia kasihMu

BagiMu Tuhan s’gala pujian
Hormat kemuliaan
Tiada ternilai salibMu Tuhan
Sungguh berharga Engkau Yesus

Beberapa hari yang lalu aku baru tahu ada lagu ini.. Agak ketinggalan ya karena setahuku album True Worshippers ini sudah lama keluar. Pertama kali mendengar langsung tersentuh. Semakin sering mendengar, hati ini seperti tersayat-sayat.
Ayat pertama membuatku terharu. Ternyata aku selalu berada dalam hatiNya. Tak pernah sekalipun Dia melepaskanku. Dia yang membuatku berharga di mataNya.
I really love this song... Thank You for Your greatest love... You're the best, Jesus!!

Tak Seperti yang Kita Lihat dan Bayangkan

Sempat mendengar berita soal akan ditutupnya Facebook per 15 Maret 2011?
Aku cukup kaget saat membaca berita di salah satu web berita Indonesia. Alasannya cukup aneh menurutku. Dituliskan bahwa Mark Zuckerberg, sang pendiri, mengalami stres karena mengelola Facebook.
Sempat terpikir mungkin Mark sudah memiliki terlalu banyak uang hingga bila dia menutup Facebook saat ini juga, uangnya akan cukup untuk menghidupi 7 turunannya.. hehehe…
Tapi tanda tanya besar tetap berada di pikiranku. Stres?? Bukankah Facebook menduduki posisi terkaya di dunia maya yang artinya Mark juga menjadi orang yang amat sangat kaya… Jadi sepertinya tak mungkin Mark mengalami stress…
Ummm.. Tapi inilah kutipan yang aku baca:

"Facebook telah di luar kendali dan perusahaan ini telah membuat diriku stres dan menghancurkan hidupku. Aku harus mengakhiri semua kegilaan ini," kata Zuckerberg dalam konferensi pers di Palo Alto, Sabtu (8/1).

(sumber:

Belakangan muncul kabar bahwa berita itu hanya lelucon dan sama sekali tidak benar. Ya, terlepas dari benar atau tidaknya berita itu, ada satu hal yang sedikit menggelitik hatiku.
Di berita itu dikatakan bahwa penghasilan Facebook sekitar US$7,9 miliar. Silakan bagi yang bisa mengkonversi nilai itu menjadi rupiah.. hehehehe… Yang pasti jumlah yang amat panjang alias sangat besar sampai kalkulator pun tak mampu menampilkan angka penuhnya..
Dengan penghasilan yang sebesar itu, Mark masih mengalami stres dan ingin kembali menjalani kehidupan normalnya sebelum dia menciptakan Facebook.

Aku sempat bergumam dalam hati setelah membaca berita itu, ‘Kasihan ya…’
Mengapa kasihan??
Kasihan karena ternyata orang kaya tak selalu bahagia, bahkan stress.
Kupikir dia adalah anak muda yang amat sukses dan berpenghasilan tinggi
Kupikir hidupnya amat berkelimpahan.
Kupikir sangat nikmat menjadi dirinya: muda, pintar, kaya, terkenal, kurang apa coba??
Everything so perfect!
Umm.. Maaf kuralat.. Setelah membaca berita sepertinya kalimat ini lebih cocok:
Everything seems so perfect!
Yup! Segalanya TERLIHAT begitu sempurna..
TERLIHAT!
Ya… Hanya terlihat… Kita memandang dia sebagai seseorang yang begitu sempurna. Tapi nyatanya tak seperti yang kita lihat dan bayangkan.

Mari mengingat-ingat…
Seberapa sering kita memandang orang lain sebagai sosok yang begitu sempurna??
Seberapa sering kita menganggap orang lain memiliki kehidupan yang sangat nyaman dan nikmat?
Pernah dengar kalimat di bawah ini?
“Ih.. Enak ya lo… Di rumah ada pembantu, tinggal suruh2 aja…”
“Wah… Enak bangettt… Lo ada sopir n mobil pribadi, tinggal duduk tau-tau sampe deh…”
“Coba gue jadi lo ya.. Pasti gue akan bahagia banget…”
“Gue pengen banget deh jadi lo, punya keluarga, rumah gedong, mobil mahal… Pasti menyenangkan…”
“Kapan ya bisa jadi seperti lo… Hidup lo kan enak banget tuh… Iri deh gue…”
“Yah.. Hidup lo mah uda enak.. Gaji lo kan uda gede banget…”

Pernah mendengar kalimat-kalimat di atas?
Atau sering mendengar?
Atau bahkan kalimat itu keluar dari mulut kita sendiri?
Hehehehe…
Mungkin tanpa sadar aku pun pernah melontarkan kalimat seperti itu… Aku mengganggap kehidupan temanku jauh lebih baik dari aku. Aku memakai kacamataku pribadi untuk menilai kehidupan orang lain. Lalu membandingkan dengan kehidupanku pribadi dan akhirnya mengganggap kehidupanku tidak seberuntung temanku itu.
Saat membaca berita Mark yang stres karena Facebook pun aku masih berpikiran seperti itu.
‘Kan dia uda kaya banget ya… Masa bisa stres sih?’
Pertanyaan itu langsung terbersit.
Aku pun memahami satu hal.

SEGALA SESUATU TAK SEPERTI YANG AKU LIHAT DAN BAYANGKAN

Kacamataku tak mampu melihat ke dalam kehidupan Mark, temanku, atau orang lain. Kacamataku hanya mampu melihat dari sisi sangat luar. Kacamataku hanya mampu memberikan gambaran yang sangat baik tentang kehidupan orang lain.
Kacamataku tak mampu memberikan kisah sebenarnya yang Mark, teman-teman, atau orang lain alami.
Seringkali aku hanya menilai dari materi, kedudukan, jabatan, kekuasaan yang orang lain miliki.
Aku bahkan tak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka alami.
Mereka yang memiliki tumpukan uang, kadang memiliki masalah berat.
Mereka yang memiliki kekuasaan tinggi, kadang merindukan kebahagiaan sejati.
Mereka yang memiliki jabatan besar, kadang merindukan kehangatan sebuah keluarga.
Mereka yang memiliki puluhan rumah, mobil, pesawat, kadang merindukan kasih dari seorang sahabat.

Teman…
Hari ini aku belajar untuk mensyukuri apa yang aku miliki..
Hari ini aku belajar untuk tidak mengingini apa pun yang temanku miliki…
Hari ini aku belajar untuk percaya bahwa apa yang aku miliki adalah yang terbaik…

Mungkin saat ini aku tidak memiliki jet pribadi, bodyguard, rumah dengan kolam renang…
Tapi Tuhan memberikan lebih dari itu: papi, mami, adik, dan keluarga yang selalu mengasihiku…
Mungkin saat ini aku tidak berpenghasilan US$...
Tapi Tuhan memberikan lebih dari itu: kekasih, sahabat, teman, brother sister….
Mungkin saat ini aku belum menjadi direktur komisari…
Tapi Tuhan memberikan lebih dari itu: kesehatan, kebahagiaan, ketentraman hati…
Mungkin saat ini aku belum memiliki apa yang aku cita-citakan…
Tapi Tuhan selalu memberikan yang lebih lebih lebih baik dari itu: HIDUP!

Mari bersyukur untuk setiap detil yang kita miliki saat ini…
Mari bersyukur untuk setiap hal yang Tuhan sediakan untuk kita…
Mari bersyukur untuk KEHIDUPAN kita saat ini… karena inilah yang terbaik bagi kita…


*terinspirasi dari kisah Mark Zuckerberg, yang masih simpang siur… ;P

28

07.01.11

It’s our lovely day!!
So happy… 
Today, we turn on our 28th month…
It’s quiet a long love journey but I really sure those times aren’t quiet enough for us to create more and more unforgettable moments.
I want to be with him forever and ever for thousand months ahead…
I’m so thankful for God put him in my life, in my heart..
I’m so thankful for every little things he’s done to me..
I’m so thankful for he never forget to make my life so colorful..
I’m so thankful, God… for this love..

Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts