I Left My Heart in Polska (Part Two)

Kamar itu tidak terlalu besar. Cukup untuk ditiduri berdua. Pagi itu kubuka mata dan kutemukan langit cerah di atas kepalaku. Jendela kaca miring karena menjadi atap itu mengejutkanku. Bagaimana tidak, langit cerah itu adalah langit jam 8 pagi di Jakarta. Terlompat aku dari sofabed dan langsung meraih jam tanganku. Terkejut lagi saat kudapati jam tanganku menunjukkan baru pukul 6. Kembali aku merebah sembari berusaha menyadarkan diri bahwa aku memang sedang berada di bawah langit lain, Polandia.

21 Juli 2016
Pagi ini menjadi yang pertama bagiku di Polandia. Sebuah tempat yang tak pernah terpikirkan olehku akan aku datangi tapi memang aku pilih untuk aku merayakan hari istimewaku.

Kumulai dengan mandi bersiap diri dan sarapan bersama Papa Marek dan Marlena. Makanan ala Eropa, roti sandwich lengkap dengan roti gandum, mentega, saos tomat, mayonais, dan sosis ayam. Flat sederhana itu menjadi teman kami menikmati pagi sebelum aku menuju Paroki Isidore untuk mengikuti rangkaian penuh  Days in Diocese.
Perjalanan kaki yang sekarang sangat kurindukan, hanya beberapa ratus meter dari komplek flat Papa Marek, melewati hanya satu trotoar panjang. Tapi langit biru dan segarnya matahari pagi menjadikan langkah kakiku terasa sangat menyenangkan.



Halaman depan gereja itu begitu teduh dan begitu asri. Pohon-pohon besar menjadi pagar gereja besar itu. Beberapa teman telah berada bersama orangtua mereka. Akupun diantar oleh Marlena yang hanya ingin memastikan aku tiba di gereja dengan aman lalu dia kembali pulang. Hanya dalam beberapa menit hampir semua telah berada di depan gereja. Ucapan selamat ulangtahun pun meluncur dari teman-teman seperjalananku ini. Ada rasa haru yang luar biasa mengingat keberadaanku saat ini dan perhatian dari teman-teman semua. Ditambah lagi setelah doa pagi di dalam gereja, mereka masih terus menghujaniku dengan ucapan dan pelukan ulangtahun. Suatu hal sederhana yang membuatku tak henti bersyukur akan kebaikan Tuhan.


Matahari pagi di hari ulangtahunku :)

Keseruan kami hari itu dimulai dengan perjalanan menggunakan 2 bis pribadi. Ilona dan Ola yang menjadi leader Orange Group, menemani kami bersama grup lain. Kami menuju Ossow dan dilanjutkan ke Parafia Rzymskokatolicka Milosierdzia Bozego (Divine Mercy Church) di Zabki, Warsaw.
Itulah saat kami, seluruh Pilgrims Indonesia yang sebelumnya terpisah pesawat dan paroki, bertemu kembali di Warsaw. 112 orang dari kami memang berangkat menggunakan 2 pesawat berbeda, KLM dan Turkish Airlines. Dan karena jumlah kami yang cukup banyak, kegiatan Days in Diocese harus dibagi ke 3 paroki yang berbeda. 55 orang di Marki, sisanya di 2 paroki di Zabki.

Ossow


Divine Mercy Church in Zabki

Selesai dari Divine Mercy Church, aku dan semua teman-teman Marki menuju Kobylka. 
Saat baru naik bus, Ilona berkata padaku, "Veliska, I need to talk with you.."
Aku dan dia pun duduk di bangku sebelah kanan paling depan. Diapun memulai pembicaraan.
"I have something for you. Actually, our parish is so active. So many family in Isidore want to be host during your stay in Marki. But, you guys only 55 persons so we have to say no to some of families. This person, you may not know. But she really wants to be host family. She was so sad knowing she couldn't be host. But she gave this gift to me and told me to give to someone. Since today is your birthday, I think it's good to give this to you."
Ilona mengeluarkan sebuah amplop putih. Aku bertanya pada Ilona, siapakah dia? Ilona hanya berkata, mungkin kalian tidak akan pernah bertemu. Kutitipkan salam pada Ilona, agar orang tersebut yang secara tidak langsung memberiku hadiah akan selalu dipenuhi berkat Tuhan.
Pembicaraan kami selesai dan Ilona kembali ke tempat duduknya.
Aku duduk sendiri dan tanpa terasa airmataku menetes. Aku yakin Tuhan ada bersamaku melalui siapapun, bahkan melalui mereka yang tidak pernah kukenal dan kutemui.
Pikiranku melayang ke Days in Diocese di Sao Paolo, Brasil 3 tahun lalu. Di saat yang hampir sama, aku merayakan ulangtahunku dalam sebuah misa. Setelah selesai misa, beberapa oma menghampiriku. Ada yang memberikan patung kecil berbentuk Yesus, ada pula yang melepaskan kalung yang sedang dia kenakan dan memberikannya kepadaku sebagai hadiah ulangtahun.
Apakah ini kekuatan WYD? Siapa aku, siapa mereka? Tapi ada kasih yang menyatukan kami. Ini bukan tentang bentuk hadiah yang kuterima dari mereka pada hari ulangtahunku. Tapi tentang kasih Tuhan yang terus mengalir dalam kehidupanku, di manapun aku berada.

Amplop putih yang entah dari siapa tapi adalah hadiah ulangtahunku :)


Tak lama, kami tiba di Kobylka. Sebuah tempat dengan tanah lapang yang cukup luas, tidak terlalu jauh dari Marki. Kami berada di sana sejak sekitar pukul 4 sore untuk mengikuti acara dan misa bersama youth dari berbagai negara yang juga tinggal di Marki.
Kami, Indonesia, salah satu rombongan yang datang pertama, saat tempat tersebut masih sepi. Jadi kami memiliki kesempatan untuk berlatih tari Poco-poco.
Mengapa berlatih tari dan mengapa dipilih Poco-poco?
Karena akan ada acara bersama parents dan teman-teman di paroki Isidore, Marki. Kami ingin sedikit memperkenalkan kebudayaan Indonesia dan ingin mengajak mereka untuk ikut serta dalam tarian yang cukup sederhana ini.
Jadi saat di Kobylka, kami berlatih Poco-poco. Tanpa musik, hanya menggunakan hitungan dari mulut, tapi menjadi satu kegiatan yang menyenangkan. Ditambah dengan banyak orang muda yang melihat kami berlatih, ingin bergabung dan berkenalan juga berfoto bersama kami, Indonesia.

Sore itu, sejak acara di panggung dimulai, banyak yang bisa kami lakukan, mulai dari tarian Polandia, bernyanyi dengan gerakan, sampai perkenalan tiap negara. Indonesia sendiri berkesempatan maju ke panggung untuk memperkenalkan diri dan menyanyikan lagu “Hari Merdeka”.

Hari itu kami tutup dengan Misa konselebrasi dengan beberapa uskup dan banyak pastor. Malam yang masih sangat terang itu menjadi saat pertama kali bagi kami Indonesia di Polandia untuk misa bersama dengan orang muda dari berbagai negara.
Pun demikian dengan ulangtahunku. Tentu saja bukan yang pertama selama hidupku. Tapi memang yang pertama kurayakan di Polandia. Kubawa semua rasa syukurku di dalam misa tersebut. Berjuta rasa yang tak terucap oleh kata. Beribu syukur atas penyertaan Dia selalu selama hidupku. Air mata ini tak terhentikan mengingat hari ini adalah ulangtahunku dan aku diberi kesempatan untuk merayakannya dengan sedikit berbeda. Hanya syukur dan terimakasih yang kupanjatkan. Keberadaanku di Polandia saja membuatku mengucap syukur tanpa henti. Tambahan ulangtahunku membuatku kehabisan kata untuk mengungkap apa yang kurasa.



Malam itu, menggunakan bis kami kembali ke gereja Isidore. Papa Marek telah menungguku di depan gereja. Kamipun berjalan kaki mennuju flat. Sedikit lelah kurasakan malam itu, tapi sambil berjalan, lagi-lagi aku mengucap syukur bahwa hari ulangtahunku dapat kulalui dengan sangat baik. Dikelilingi oleh orang-orang terkasih, menerima banyak ucapan ulangtahun, dan tentu saja doa dari mereka semua.

Tiba di flat, gelap. Aku bergumam dalam Bahasa Indonesia, “Kok ga ada orang?”
Di luar dugaanku, Mama dan Marlena berada di dalam dengan sebuah kue dan lilin yang menyala. Mereka menyiapkan kue ulangtahun untukku. Dalam hati aku berpikir, ternyata hari ini masih belum berakhir. Beranjak tahun, tiup lilin tak lagi menjadi suatu yang penting dan harus sehingga saat tak ada kue, tak jadi masalah untukku. Tapi ternyata, aku masih diberi kesempatan untuk meniup lilin ulangtahunku. Lilin Polandia.. hohohoho..



Kututup hari ulangtahunku dengan keluarga baru. Kue ulang tahun dan red wine menjadi teman perayaan ulangtahunku.
Kupejamkan mata dengan begitu banyak syukur di hati. Karena hanya karena kebaikanNya, aku di sini.. :)




I Left My Heart in Polska (Part One)

Saat kualihkan pandanganku ke sisi kiri, kutemukan lempengan raksasa di sisi badan pesawat. Sayap yang siap menerbangkanku ke suatu tempat yang telah menjadi rencana bahkan mimpiku. Aku duduk di dalam badan pesawat yang sangat besar, sebesar rasa syukurku saat ini.
Beritahu aku bagaimana mungkin aku tidak bersyukur bila duduknya aku di pesawat besar ini bukanlah perkara mudah dan sederhana. Ratusan hari harus kuhitung dan kulalui. Hal sederhana sampai yang rumit kuhadapi. Ratusan orang menyenangkan sampai yang begitu menjengkelkan telah kuhadapi. Dan hari ini penantian panjang berakhir menjadi rasa syukur yang tak terhingga.

19 Juli 2016
Aku bersama 111 orang lainnya terbang menuju satu Negara yang mungkin tak pernah terbayangkan akan kami datangi. Tapi saat ini aku sedang menuju ke sana.

Biar sedikit kutarik mundur ke tiga tahun saat aku terbang menuju negeri Samba. Tanpa banyak harap dan pinta, kulalui 2 mingguku dengan sangat luar biasa sampai-sampai indahnya masih begitu sangat membekas hingga saat ini. Aku masih merasakan kaca-kaca di mataku bila menceritakan pengalaman itu. Suaraku masih akan bergetar bila kukisahkan apa saja yang aku lakukan saat itu. Kasih dan berkatNya begitu kuat ada di hatiku hingga aku mau dan berani menjadi pengantar bagi mereka yang ingin mengecap indahnya World Youth Day.

Aku mau dan ingin menjadi tim kerja Indonesia untuk World Youth Day Krakow 2016. Itu seruku di akhir tahun 2014. Bukan karena aku ingin ke Eropa, bukan juga karena aku ingin masuk ke dalam pesawat Airbus. Murni karena aku punya kerinduan yang besar untuk membawa banyak orang merasakan luar biasanya WYD. Aku pernah dan aku tak ingin sendirian merasakannya. Aku ingin berbagi dan membiarkan banyak orang juga merasakan apa yang pernah kurasakan.

Saat ini, harapku hampir menjadi nyata. Semakin dekat dengan Polandia, si negeri impian.

Cabin crew take off position!” seru pengeras suara di atas kepalaku. Dalam hitungan menit kemudian, badan raksasa pesawat ini telah mengudara, menembus langit selama 12 jam menuju Ataturk, Istanbul International Airport.

Bye, Jakarta! See you in two weeks! :)

55 orang dari kami semua, sesaat sebelum tinggal landas..

12 jam perjalanan menjadi sesuatu yang melelahkan, ditambah transit di Istanbul selama 7 jam. Mati gaya! hahaha.. Tapi selalu ada hal menarik yang bisa kita lakukan untuk menjadikan hari begitu berharga.

7 jam transit :D

 Saat 7 jam penantian berakhir, hati ini semakin berdebar. Seperti apa Polandia? Bagaimana nanti kami tinggal di sana? Apakah menyenangkan? Berbagai rasa berlarian di hati. Rasanya tak sabar dan juga ada rasa khawatir.

20 Juli 2016
Pesawat kecil akhirnya lepas landas pada pukul 12.35 waktu Istanbul. Sekitar 2 jam lagi kaki ini akan menjejak di Warsaw, Polandia. Dan saat roda pesawat menyentuh landasan, riuh tepuk tangan memenuhi kabin pesawat. Aku sendiri ikut bertepuk tangan sambil tak henti merasa betapa luar biasanya Tuhan. Chopin, Warsaw International Airport yang menyambut kami dan memastikan bahwa kami telah tiba di Polandia dengan selamat.

Mimpi dan niat itu akhirnya terwujud. Polandia.. :)

Setelah melewati pintu imigrasi, aku bergegas menuju luggage belt. Aku bertemu satu volunteer yang sepertinya adalah Pastor karena beliau mengenakan kolar di lehernya. Dia bertanya apakah grupku sudah ada yang menjemput. Kukatakan kepadanya bahwa ada orang bernama Joanna yang menjemput kami. Volunteer itupun keluar untuk memastikan apa orang yang aku sebut sudah ada di luar. Tak lama dia kembali dan mengatakan, “Yes, she is waiting for you.
Makin tak sabar untuk segera keluar dan menemui mereka.
Setelah semua bagasi terkumpul, kamipun bergerak keluar, dipimpin oleh Verby. Rasanya luar biasa saat mendapati begitu banyak orang muda dari Marki yang sudah tak sabar kami.
Itulah pertama kalinya kami bertatap muka.
Tak pernah kenal, tak pernah tahu, toh nyatanya itu tak jadi masalah. Wajah mereka begitu ceria menyambut kami, teman baru dari Indonesia.
What a moment!

Kami sendiri? Bengong.
Antara takjub, tak percaya, atau masih lelah setelah perjalanan hampir 24 jam.. hahaha..
Yang pasti penyambutan oleh teman-teman Marki begitu mengena di hati kami.

Di Chopin, kami langsung dibagi ke dalam kelompok dengan 2 leader dari Marki. Two beautiful ladies become my group leaders, Ilona dan Aleksandra (Ola). Mereka bule (tentu saja hahaha..) dan cantik. Dibandingkan aku, ya jauh.. hahaha..
Setelah naik kereta dan bis, tibalah di Gereja St. Isidore, Marki. Siapa sangka bahwa banyak host family yang telah menanti di sepanjang jalan menuju aula gereja. Wajah mereka tersenyum dan sambil bertepuk tangan menanti kami. Tak terasa mataku kembali berkaca-kaca. Ya ampun, aku nih siapa sih? Kenal juga ngga, kq mereka sebegitunya ya menyambut aku dan teman-teman yang lain. Terharu..

Salah satu bentuk penyambutan Marki

Di aula tersebut, kami diperkenalkan ke hostparents masing-masing. Itu saat pertama kali juga aku bertemu Ayah dan anak, Marek dan Marlena. Just say ‘hello’ lalu diajak langsung ke flat mereka. Cukup berjalan kaki karena flat mereka hanya berjarak 500 meter dari gereja. Tiba di flat, mereka telah menyiapkan sebuah kamar untukku. Tidak besar tapi lebih dari cukup untuk aku bermalam selama beberapa hari di Marki.

Setelah membereskan barang, aku bersama hostparentsku kembali ke gereja untuk mengikuti misa. Kami, Indonesia, diminta untuk menunggu di luar sedangkan para hostparents dipersilakan masuk. Aku sempat bingung kenapa tidak diperbolehkan masuk. Mungkin sudah disiapkan surprise.. hahaha.. geer banget!

Tak lama rombongan room dan putra altar keluar gereja dan menyambut kami, lalu kami dipersilakan masuk ke dalam gereja melewati lorong tengah gereja dengan riuh tepuk tangan para hostparent. Yah elahh.. pas nikah juga ga begini-begini amat.. Lumayan awkward yaaaa.. hahaha..

Tapi di situ aku merasa bagaimana mereka begitu menantikan kami orang Indonesia. Aku bisa merasakan sukacita itu dalam diri setiap hostparents. Tak kenal, tak pernah tahu, tapi kami dan mereka langsung akrab walaupun dengan beberapa rasa canggung.

Misa malam itu dipersembahkan oleh romo-romo Polandia dalam bahasa Latin dan Polandia. Banyak yang tak kumengerti tapi misa itu menjadi tempat curahan rasa syukurku yang rasanya tak habis-habis. Bersyukur untuk tibanya aku dan teman-teman di Marki, bersyukur untuk penyambutan yang luar biasa, bersyukur untuk sahabat dan orangtua baru. Bersyukur untuk semuanya..

Malam itu, setelah selesai misa, dalam perjalanan pulangku ke flat, hati ini tak henti memuji kebaikan Tuhan. PenjagaanNya yang menjadikan aku di sini.
Marki, Warsaw..
Sebuah tempat yang jauh dari bayangan, tapi sekarang aku di sini..
Just because of Him!

Good night and see you tomorrow.. :)

Jemari yang Bercerita

Tak ada tolok ukur yang pasti mengenai apa yang akan aku tulis di bawah ini.
Subyektif? Bisa dibilang begitu..
Hanya mata hati yang bisa melihat
Hanya kata hati yang bisa menilai
Pun bagi mereka yang masih memiliki hati..

Mereka yang terlihat berdoa
Mereka yang terlihat memegang microphone
Mereka yang terlihat mengangkat tangan
Mereka yang bersuara lantang menyebut Tuhan

Mereka dan segala kekudusan yang mereka miliki
Membuatku bertanya, berpikir keras dalam hati, SIAPA AKU?
Berlanjut ke pertanyaan selanjutnya, APA YANG TELAH KUBUAT?

Aku tidak sesering mereka mengangkat tangan ini
Aku tidak sesering mereka memegang microphone
Aku pun tidak terlalu mengerti tentang kerohanian bila dibanding mereka

Mereka, ya mereka..
Yang menyebut dirinya tulus
Yang menjanjikan perbuatan ikhlas tanpa pamrih

Toh berakhir pada sebuah titik terendah, terhina
Ya setidaknya menurutku

Kembali lagi tulisan ini, tulisanku
Milikku.. Apa yang aku rasakan, apa yang aku lihat..

Aku..
Aku tidak suci, jelas jauh dari kata suci dan tidak akan pernah menjadi suci
Aku tidak tahu bagaimana melayani dengan baik

Ilmuku masih dangkal, setidaknya mengenai keduniawian, mengenai materi dan segala kepuasan diri
Ilmu yang kumiliki kugunakan demi apa yang aku suka, demi apa yang menurut aku baik

Aku polos
Aku tulus
Aku bodoh
Aku terlalu lama tutup mata, bukan karena tidak melihat
Tapi tidak ingin melihat, karena bagiku lebih baik aku tidak melihat
Ya, setidaknya demi kesehatan jantungku.

Aku memilih tidak melihat kiri kanan dan berjalan lurus bak kuda
Aku memilih menggunakan perasaanku, ketimbang logikaku
Logikaku berteriak sejak lama, mengingatkanku bahwa ada sesuatu yang salah di depan mataku
Ada kecurangan, niat busuk dan lain sebagainya..
Tapi, lagi-lagi ini masalah hati, masalah pribadi tiap orang
Subyektif!
Bagiku itu salah,
toh nyatanya bagi mereka itu wajar dan sah.

Lalu, aku bisa berkata apa..
Ribut dan berbuat onar? Sisi burukku memerintahkanku untuk itu.
Tapi beruntungnya aku masih dipenuhi roh kasih.
Kubiarkan mereka melangkah, walau hati ini geram bukan kepalang.
Kujalani setiap hari, walau ingin rasanya kuteriaki mereka.

Tak mudah, tapi aku mampu melaluinya.
Mereka yang hebat dengan kekuatannya.
Aku yang tanpa apa-apa, hanya hati.
Dan keyakinan bahwa sekecil apapun niat baik, selalu memiliki buah yang manis..

Aku tak berharap banyak
Fokusku jelas
Harapku nyata
Semua selalu akan menjadi indah pada waktunya..

Ini subyektifku.. di malam, 18 hari sebelum keberangkatan kami..
Saat hanya jemari yang mampu mewakili perasaan ini dan memang selalu seperti itu bagiku..

20 hari untuk Semua

20 hari tersisa sebelum 19 Juli 2016

Aku telah menghitung ratusan hari
Aku telah melalui hari-hari tersebut

Rasa tidak sabar, rasa yang tak menentu telah menjadi temanku

Dari lebih dari 300 hari, kini tersisa 20 hari
Hitungan jari

Rasa yang tak terkatakan, tak terucap, tak tergambarkan oleh apapun

20 hari yang tersisa membuatku tak hentinya mengucap syukur

Syukur yang disertai harap
bahwa semua akan berjalan dengan sangat baik.

Aku di Sini

Berada di sini adalah sebuah pilihanku
Keputusanku
dan komitmenku

Banyak hal yang sebenarnya bisa membuatku mundur dan meninggalkan semua
Tapi cintaNya melebihi apapun
BerkatNya terlalu melimpah

KasihNya yang memampukan aku terus berada di sini.

17 Mei 2016
Mendatangi Kedutaan Republik Polandia yang berlokasi di Kuningan. Berbekal ketidaktahuan yang amat sangat.
Mengajukan Visa Schengen di kedutaan ini memang hanya bisa berbekal ketidaktahuan. Minimnya info yang beredar membuatku bermodalkan nekat.
Aku bersama 7 peserta lainnya yang juga sama bingungnya.
Salah satu hari yang telah lama kami tunggu, VISA.

Hari ini Jakarta diguyur hujan deras sepanjang siang, membuat kami hampir kuyup karena harus menunggu di luar gedung megah kedutaan yang tidak beratap sama sekali.
Puji Tuhan, lancar..
Hari-hari selanjutnya menanti, dengan peserta WYD yang lebih banyak datang ke kedutaan.


Ini menjadi pertanyaan yang sering menghampiri telingaku:
“Pakai tour apa?”
“Kamu memang dari tour & travel?”
“Kamu urus sendiri?”

Ah, kalian yang bertanya itu..
Andai aku bisa menyerahkan semua ini ke tour, mungkin hidup ini lebih damai.. hahahaha..

Semua sendiri, bingung sendiri, nekat sendiri..

Sampai banyak yang bingung saat tahu kami tidak menggunakan jasa tour. Bahkan tak sedikit yang langsung berujar, “Wah besar upahmu nak!”

Hahahaha…

Diamini saja..

Aku di sini bukan mencari berkat
Bukan juga mengharap kembalian

Aku di sini karena aku ingin
Dan Dia yang menjadikanku berada di sini

Tak lama lagi waktuku untuk seseruan di sini
Sisa hitungan hari..

Dan semuanya akan menjadi sesuatu yang indah,

Yang amat sangat aku rindukan di masa-masa depan..


*catatan kecil di sisa 64 hari menuju keberangkatan kami

KesempurnaanNya Menyempurnakan

Blogku malang, blogku sayang..
Sebegitu terbengkalainya sampai postingan terakhir adalah di bulan November 2015..
hahaha..
Padahal, hari tidak berlalu begitu saja tanpa ada cerita di dalamnya.. :)

Yup!
My every single day creates their own unique stories..

Tapi ya emang saya yang malas untuk sering-sering menuliskannya di sini.. hahaha...

Hari ini tiba-tiba ada dorongan besar untuk menuliskan ini.
Agak aneh memang bila tiba-tiba lompat ke bagian ini karena cerita hari ini tak lepas dari kisah yang diawali lebih dari satu tahun lalu...

Beberapa minggu lalu, seorang teman, Frida mengingatkanku untuk menuliskan segala hal mengenai ini. Kupikir benar juga, rentang waktu yang tak singkat harusnya dapat kutuliskan dengan detil dan akan menjadi arsip bahkan memori yang luar biasa saat nanti kubaca lagi.

World Youth Day

Ya, tentang WYD.

Lebih dari setahun lalu kuputuskan untuk memberikan diriku dalam persiapan menuju Krakow 2016.
Bukan tanpa alasan aku berani memberikan diri untuk berada di sini. Namun alasannya pun bukan karena Eropa. Entah mengapa ada hal tak terkatakan yang ada dalam diriku untuk aktif di sini. Aku sadar sepenuhnya bahwa menjadi tim kerja WYD bukanlah hal mudah. Bahkan amat sangat sulit.
Tapi entah dorongan dari mana yang memampukan aku untuk berkata, “Ya, saya mau!”

Kalau kurenungkan, memang sepenuhnya sederhana karena pengalamanku di WYD Rio 2013.
Hanya karena itu.
Ya, hanya karena salah satu momen terbaik dalam hidupku itu. Momen yang hingga saat ini masih begitu lekatnya dalam ingatanku sampai-sampai suaraku akan bergetar dan mataku menahan air mata bila mengingat momen itu.

Ada rasa takjub dan juga rindu yang kurasakan bila kukisahkan kembali mengenai Rio 2013. Banyaknya hal tak terkatakan dalam hati ini yang membuatku hanya mampu berbuat ini, berada di sini untuk menjadi tim kerja, menjadi jembatan bagi sebanyak-banyaknya orang untuk merasakan WYD.

Rangkaian persiapan WYD telah banyak kami lakukan, salah satunya Pilgrimage Weekend (PW) atau retret persiapan yang diadakan 2 hari 1 malam di Rumah Doa Guadalupe.
Dan hari ini, 1 Mei 2016, adalah PW terakhir sebelum kami terbang ke Polandia.
PW keempat setelah ada 3 kloter sebelumnya dan juga PW dengan jumlah peserta terbanyak.

Tadi siang saat kami menyudahi PW 4, ada rasa sentimentil yang menyerangku. Ah, PW selesai juga.
Tapi rasa sentimentil itu bukan hanya karena selesainya rangkaian PW, namun pikiranku telah melayang langsung ke hari H keberangkatan kami.
Melihat betapa serunya para peserta bercanda, bercengkrama walaupun baru kenal, melihat bagaimana wajah mereka begitu antusias menantikan WYD, ada rasa luar biasa dalam hati ini.

Banyaknya peserta WYD yang akan berangkat bulan Juli nanti memang yang menjadi kerinduanku, yang menjadi alasan terkuatku untuk berada di sini.
Sederhana, aku telah merasakan begitu banyak hal saat WYD Rio 2013, aku ingin teman-teman yang bahkan tidak aku kenal, bisa merasakan hal yang sama.

Ribet, lelah, stres, amat sangat pasti aku alami.
Tapi kupilih semua itu demi mentransfer keindahan dan keajaiban yang pernah aku rasakan 3 tahun lalu di Brazil.

Andai waktu bisa kuatur akan kutibakan kita semua ke bulan Juli saat keberangkatan. Ah betapa tak sabarnya menanti saat itu.
Sayangnya, demi suatu yang luar biasa, tak ada yang instan. Ribuan proses harus kulewati satu demi satu. Proses yang tak mudah, mulai dari pendataan peserta, pembuatan surat-surat, pembuatan visa, dan masih banyak lagi hal yang menuntut kesabaran luar biasa dan tentu saja disertai keteguhan hati untuk melaluinya.
Belum lagi membayangkan WYD, di mana jutaan orang berkumpul di tempat sama. Oh God, can I handle all those things? Lebih dari 100 orang yang harus aku perhatikan, kujaga agar mereka dapat mengikuti WYD dan kembali ke Indonesia dengan sempurna. Tapi kok hati kecil ini ragu ya...

Hmm.. Aku.
Siapa aku, sampai berani menjadi salah satu pendamping mereka yang jumlahnya sangat banyak?
Apa kemampuanku, ke Polandia saja aku belum pernah..
Modal nekat. Bisa dibilang demikian.
Itu mengapa, walaupun hati ini begitu tak sabar menanti hari keberangkatan, besar pula kekhawatiranku mengenai banyak hal. Begitu banyaknya sampai-sampai pikiranku penuh.. :(

Banyak hal yang menjadi penguatku.
Salah satunya wajah-wajah peserta PW 4 hari ini yang bersinar, yang juga samanya dengan aku, tak sabar untuk WYD. Wajah mereka yang menyemangati aku, yang membuatku mampu berkata, “Aku pasti bisa!”

Satu hal lagi.
Aku yakin dan percaya bahwa segala sesuatu yang baik akan datang menghampiri bila kita memulainya dengan niat yang baik dan tulus.
Jadi yang bisa kulakukan saat ini adalah memperjuangkan segala hal terbaik yang bisa kulakukan dan menyerahkan semuanya kepada kuasaNya.

Kulakukan yang terbaik dan kubiarkan dia bekerja dalam kesempurnaanNya..


*isi hatiku di tepat 80 hari jelang keberangkatan kami menuju Warsaw

Pilgrimage Weekend IV

When life gives you time to laugh.. Just laugh.. :D



Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts