60


Ada sebuah rasa yang tak terucap saat berdiri di momen ini.
Rasa yang luar biasa merajai hatiku, yang bahkan tak cukup tergambarkan oleh kata-kataku.
Begitu kuatnya perasaanku kali ini.
Begitu banyak yang ingin kuungkapkan.

7 September 2008 yang dipilihnya.
Masih lekat dalam benakku apa yang dia katakan saat itu.
Dan hari ini, tepat 60 bulan setelahnya, dia masih memegang erat kata-katanya.
Janjinya bukan janji manis.
Kata-katanya bukan impian belaka.
Saat itu, entah apa yang membuatku menjawab ‘iya’, padahal seperti masih banyak keraguan dalam hatiku.
Dan hari ini, lima tahun setelah itu, semua raguku hilang, berubah menjadi keyakinan besar.

60 bulan bukan sekejap mata.
Jatuh dan bangun
Senyum dan airmata
Tawa dan amarah
Rindu dan benci
Suka dan duka
Dan berjuta rasa lainnya..

60 bulan rasanya masih terlalu singkat.
Untuk terus mengenalnya
Untuk terus memahaminya
Untuk terus mengasihinya
Untuk terus mencintainya
Untuk terus mendampinginya..

60 bulan tak membuatku puas
60 bulan tak membuatku berhenti
60 bulan tak membuatku menyerah
60 bulan tak membuatku menyesal

60 bulan yang mengajarku arti cinta
60 bulan yang menyadarkanku tentang ketulusan
60 bulan yang membuatku amat bersyukur
60 bulan yang membuatku yakin

Untuk terus bersamanya melewati ribuan tanggal 7 di depan sana..
Untuk terus mencintainya, sampai selamanya..

HAPPY 60TH LOVELY DAY, DEAR LARRY..

Nothing, but THANK YOU..
For all the greatest things you’ve done in my heart.

Nothing, but LOVE..
Between you and me.



Journey to The Center of Brazil (Part One)

Sao Paulo.. yang telah memberiku berjuta kehangatan.
Sao Paulo.. yang telah menunjukkan kepadaku tentang arti sebuah ketulusan.
Sao Paulo.. yang indah.
Sao Paulo.. yang akan selalu hidup di dalam hatiku..
Beberapa hari yang indah, yang membuatku memohon agar aku bisa terus merasakan hangatnya pelukan itu. Tapi waktu yang memutuskan. Dengan bercucuran airmata, kulambaikan tangan tetap dengan harapan untuk bisa berjumpa di lain waktu.

Bertolak dari kota penuh kasih, Diadema, ini kisahku di ibukota Brazil.


Di penghujung hari istimewaku, harus kulakukan satu hal yang kubenci: saying goodbye. Waktuku untuk Sao Paulo telah habis. Ibaratnya, aku telah menikmati surga penuh kenikmatan dan sekarang aku harus menuju dunia nyata: Rio de Janeiro.
Ada sedikit kekhawatiran juga rasa penasaran tentang kota ini. Berkali-kali Papa Valdir mengingatkanku untuk selalu berhati-hati dengan tas, dompet, dan semua barang bawaanku. Kesan yang kutangkap, Rio adalah ibukota yang sangat tidak aman dan menyeramkan. Kurasakan betapa khawatir dan tidak relanya Papa saat harus melepasku ke Rio. Pun demikian aku. Rasanya ingin lebih lama berada di Diadema, menikmati waktu bersama keluarga Papa Valdir. Tapi waktu harus terus berjalan. 
Pukul 12 malam, saat bis besar perlahan meninggalkan Diadema. Mata berairku pun langsung kututup. Lelap dalam sekejap, mungkin karena lelah menangis.
Yang kutahu dari Ariana, Sao Paulo-Rio berjarak sekitar 8 jam perjalanan darat. Fiuhhh.. Jauhnyaaaa..

22 Juli 2013
Saat matahari menyapa, aku dan mungkin seisi bis (tentu saja kecuali supirnya hahaha..) baru terbangun. Kurang lebih 7 jam aku berhasil terlelap. Hemm.. Pencapaian yang cukup baik. Ini membuktikan bahwa aku mudah sekali tidur.. (sama seperti di post sebelumnya, aku tertidur hampir 25 jam selama di pesawat.. hahaha..)
Setelah perjalanan yang cukup panjang tersebut, kupikir aku telah berada di Rio. Ternyata aku salah. Aku berada entah di mana, di belahan dunia yang entah sebelah mana. Yang kulihat hanya kumpulan bis besar yang parkir dengan rapinya. Bis-bis yang mengangkut anak muda dari berbagai negara, yang siap untuk mengikuti World Youth Day. Aku berada di sebuah tempat transit, tempat untuk menunggu sebelum kami boleh memasuki perbatasan kota Rio. Kami semua harus menunggu di sana sekitar 3 jam untuk bisa melanjutkan perjalanan. Hal tersebut karena terlalu banyak bis yang akan masuk ke Rio, jadi harus diatur agar tidak terjadi kemacetan panjang. Langsung terbayang seperti apa riuhnya Rio. Jutaan pilgrim akan masuk kota Rio. ‘Pasti rame dan macet banget ni,’ pikirku.

Sekitar pukul 9 pagi, bis melanjutkan perjalanannya. Aku pun melanjutkan tidurku.. hahaha.. (terkesan pelor yaaa.. tapi ini kunci aku tetap segar bugar tanpa sakit selama di Brazil juga hingga tiba di Jakarta: tidur kapan dan di manapun ada kesempatan.. hahaha..)

Memasuki waktu makan siang, bis kami pun memasuki kota Rio.
Setelah belasan jam perjalanan dari Sao Paulo, transit berjam-jam entah di mana, bermacet-macet, inilah dia: Rio de Janeiro!! Yeeeeyyyy!!!!
Aku tiba di kota yang dari setahun lalu ada dalam bayangan dan angan-anganku.
Masih tetap berada di bis dengan perut yang krucuk krucuk, kuamati suasana kota ini. Langsung kutebak, aku berada di pusat kota. Banyak gedung bertingkat dengan jalan protokol yang dilintasi banyak mobil. Benar-benar mirip Ibukota Jakarta. Dari jauh terlihat, patung Christ Redeemer di atas bukit. Pikirku, "Selangkah lagi menuju ke sana!"

Group Leader, Gege dan Nory, harus turun di sebuah tempat untuk mengambil Pilgrim Kit kami. Aku dan teman-temanpun diminta untuk langsung menuju tempat di mana kami akan tinggal. Paroki St. Cecilia. Bis kembali melaju, dan rasanya tak kunjung tiba. Cukup jauh dari tempat kami meninggalkan Gege dan Nory.
Sekitar pukul 3 sore, aku dan rombongan Indonesia tiba di St. Cecilia.
Akhirnyaaaaa.. Total perjalanan bis dari Diadema sekitar 14 jam. What a long trip. Fiuuhh!!

Tiba di St. Cecilia, kami semua diminta untuk berkumpul di aula karena masih belum ada informasi pasti di mana kami akan tinggal, apakah di aula atau di host parent.
Melewatkan sarapan dan makan siang, ditambah belum mandi hampir selama 24 jam seharusnya menambah tingkat kelelahanku. Tapi entah kenapa, aku masih merasa kuat. Laper sih, tapi ga sampe mau makan orang koq.. hahaha.. Aku masih bisa menahannya, perut dan badanku pun seolah mengerti keadaan.. :)
Yang bisa kulakukan hanya mencuci muka dan sikat gigi. Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Ga mandi seharian? Ga masalah.. I’m still OK! hahaha..
Selanjutnya aku hanya duduk atau selonjoran di lantai, menunggu informasi.
Tiba-tiba Evi datang bersama pria-pria yang mengangkut kotak besar. Baru kutahu kalau ternyata isinya ratusan roti keras setelah Evi berteriak,
“Guysssss…. Maaf banget yaaa guyssss… Tadi gua uda keliling untuk cari makan siang untuk kita. Tapi ga nemu. Ada, tapi harganya mahal banget. Jadi gua beli roti ini untuk kalian. Maaf bangetttt yaa… cuma bisa kasih ini. Tapi gua beli rotinya banyak koq, jadi boleh ambil lebih. Maaf yaaa guysss…”

Perasaan belum Lebaran, Vi.. Minta maaf mulu lo kayak Mpok Minah.. (bajaj bajuri dah.. hahaha..)
Ini yang belum sempat kusampaikan pada Evi atau tim kerja.
Vi, at that moment I really thank you. Dengan keadaan seperti itu, ada roti keras 1 buah pun aku amat bersyukur. Dengan keadaan lelah, kamu masih bersusah payah mencari makan siang untuk kita semua, itu hal yang benar-benar kuhargai. Istilahnya, masih syukur ada yang nyariin makanan, ada yang bawain makanan. So why should I expect more? It’s more than enough!
Thanks a lot, Evi.. :)

Selesai menyantap roti keras yang cukup dengan topping mentega dan sepotong semangka, aku melangkah menuju gereja. Aula dan gerejanya berseberangan, cukup berjalan kaki.
Let me say that this is a beautiful church. Simply beautiful.. I love this.

In Love with This Church

Selesai berfoto ria, aku kembali ke aula. Hari sudah gelap, Gege dan Nory belum juga tampak. Kembali aku duduk leyeh leyeh di sudut aula. Sejauh mata memandang kami seperti orang-orang yang mengungsi, yang ditampung di sebuah aula.
Aku lalu teringat Gege dan Nory.
I have to thank them. Ya, bagaimana tidak. Di saat aku sudah bisa bersantai-santai, berfoto ria, mungkin Gege dan Nory masih harus bersabar dalam antrian panjang demi mengambil Pilgrim Kit kami. Thanks, my GL.. :)

Mulai malam, saat Gege dan Nory datang bersama kotak-kotak besar berisi Pilgrim Kit. Aku langsung sumringah saat Gege berteriak, “Guys, semuanya warna biru ya!”
Horaaayyyy!!!
Dari jauh hari, saat melihat foto yang diposting di Facebook World Youth Day, aku mulai berdoa agar bisa mendapat Pilgrim Kit berwarna biru, karena ada 3 pilihan yakni biru, kuning, dan hijau. Dan terjadilah sesuai doaku, BIRU! hohohoho…
FYI, I’m blue freak.. hahaha..

Bak anak kecil yang mendapatkan mainan baru, kami semua heboh membongkar isi tas biru.
Ada buku panduan misa dan doa, kaos, botol air, kalung salib. Ditambah ID card juga 2 buah kartu keras. Kartu transportasi dan kartu makan yang sudah pasti akan menemani kami semua selama di Rio. Yeeyyy.. Makan dan keliling Rio gratis.. (anggep aja gratissss.. hahaha..)

My Pilgrim Kit

Selesai pembagian jatah tersebut, Gege mengumumkan bahwa kami akan tinggal di hostparent. Yang perempuan akan tinggal di rumah warga, sedangkan yang laki-laki akan tinggal bersama di sebuah rumah kosong. Wooww! Aku langsung terbayang kapal pecah! hahaha..

Satu per satu kami pun dijemput oleh hostparent. Aku tinggal berenam dengan Luci, Felicia, Ci Jo, Ci Juve, dan Tante Paula. Tiba di rumah host parent, dalam hati aku langsung mengucap terimakasih pada Mama. Rumahnya bisa dibilang kecil, tapi dia rela berbagi dengan kami berenam. Dia rela bersusah payah merapikan rumahnya menjadi lebih lega agar kami bisa tidur dengan baik. Obrigada, Mama..
Karena sudah sangat malam, kami langsung berbagi tempat tidur. Once again I thank You, Lord.. Aku mendapat kasur.. :)
Malam itu langsung kupejamkan mata untuk beristirahat. Dalam diam, malam pertamaku di Rio kuisi dengan aliran airmata. Rasa rindu menyergapku.
Posisi kasurku di Rio yang sama dengan posisi kasur di Diadema, membawaku kembali ke sana.
Aku rindu Papa Valdir, Mama Marta, Ariana, Diego, juga rumah mereka yang sangat hangat.
Aku rindu kasur dan selimut hangatku di rumah mereka. Aku rindu Diadema.
Rasanya hanya dalam sekejap aku sudah berpindah tempat, meninggalkan orang-orang terkasih dan bertemu dengan orang baru lagi. Aku berharap waktu bisa berputar lebih lambat agar aku bisa lebih menikmati setiap detik keberadaanku.

23 Juli 2013
Alarm kami berenam bersahut-sahutan. Aku yakin kami berenam mendengarnya tapi tak ada yang mau bergerak untuk mematikan.. hahaha.. Kurasa kami terlalu lelah untuk bangun dan bergerak. Tapi matahari seolah memaksa kami semua untuk bangun, mandi, dan bersiap.
Aku penasaran, hari ini apa yang akan kami semua lakukan. Aku tak sabar melihat dan berkeliling kota Rio.

Perjalanan si bocah petualang dimulai.
Pagi hari aku dijemput oleh seorang ibu yang mengenakan kaos bertuliskan ‘Voluntario’. Tanpa membuka google tradutor, aku sudah bisa tahu bahwa ibu ini sukarelawan untuk acara WYD. Aku pun berjalan kaki menuju gereja. Untuk pertama kalinya aku melihat sekeliling wilayah St. Cecilia. Keluar pintu rumah, aku mengarahkan badanku ke kanan. Aku berjalan menuruni jalanan yang cukup curam. Rumah mamaku ini memang berada cukup tinggi. Pagi pertama, perjalanan menurun ini masih kami lalui dengan penuh semangat. Tiba di ujung jalan, aku harus menyeberang jalan, lalu menaiki tangga, dan tiba di stasiun kereta. Karena aku harus berkumpul di gereja, aku pun menyeberang rel kereta, menuruni tangga. Lalu, berjalan menanjak menuju gereja.
Fiuuhhh.. Tiba di gereja dengan nafas Senin Kamis.. hahaha..
Perjalanan belum selesai. Di ID card yang dibagikan semalam, ada tulisan tanggal 23 hingga 28, yang artinya aku akan memperoleh sarapan setiap paginya. Dan kami harus mengambil sendiri kotak sarapan tersebut. Aku bertemu Verby yang sudah sedang menikmati sarapannya. Dia berkata, “Mending lu glinding aja deh. Biar cepet.. hahaha..”
Aku berpikir dia berlebihan. Aku pikir, ah pasti dekat ni. Ternyataaaa… Jalan kaki menuju tempat pengambilan sarapannya sih ga berasa. Pulangnya kembali ke gereja, alamaakkkk… Senin Kamis lagi. Jadi dari gereja aku harus melalui jalanan menurun untuk tiba di sekolah, tempat pembagian kotak sarapan. Setelah kotak sarapan di tangan, aku harus kembali lagi melewati jalanan yang sama, yang artinya menanjak. Kurussss… hahaha..

Breakfast Box

The Content

 Setelah semua berkumpul, dengan jaket merah kebanggaan, aku dan rombongan berjalan menuju stasiun kereta. Kuulangi rutenya, dari gereja aku harus melangkah melalui jalanan menurun. Lalu menyeberang jalan, menaiki tangga stasiun, turun di tengah jembatan. Sampai deh… Ya, mirip jembatan Trans Jakarta.. hehehe..
Kulihat untuk pertama kalinya papan nama stasiun: Bras de Pina. Ooo.. Aku tinggal di daerah ini toh..
Setelah beberapa menit menunggu, kereta listrik pun tiba. Naikkk…
Perjalanan yang cukup panjang harus kulalui untuk tiba di pusat kota Rio, sekitar 30 menit dari Bras de Pina. Aku baru menyadari kalau aku tinggal di pinggiran kota Rio. Mungkin kalau di Jakarta, seperti Sudirman-Bekasi.

Tiba di stasiun kota: Central do Brasil.
Stasiun kereta yang boleh dibilang cukup megah. Seperti stasiun yang sering kulihat di tv. Bangunan cukup tua, dengan jam besar di salah satu sisinya. Kios-kios penjual makanan memenuhi stasiun ini.
Sejauh mata memandang: pilgrim dengan berbagai warna kulit, berbagai bendera. Berteriak-teriak dalam bahasa masing-masing, bertepuk tangan, atau sekedar bertukar sapa.
Jadi ini suasana World Youth Day.. Hemm… I love it! :)

Riooooo!!

Kami diberikan waktu bebas untuk makan siang, atau apapun. Dan kami diminta untuk berkumpul kembali di Central pada pukul 2 siang.
Aku, Verby, Karina, dan Surya pun tak buang waktu. Langsung ngacirrrr…
Tujuan pertama kami adalah sebuah gereja megah. Aku harus menggunakan metro. Sepanjang kami berempat berjalan kaki, selalu ada yang menyapa. Kebanyakan anak muda dari Brazil dan Argentina. Entah apa yang membuat mereka tertarik dengan kami. Karena wajah yang terlalu Asia kah, atau karena jaket keren kebanggaan? hehehe.. Yang pasti aku sangat menikmati saat-saat itu. Bak artis yang diteriaki penggemarnya, ya kira-kira seperti itulah kami berempat.. :D

“Where are you from? Do you have something to exchange?”
Dua kalimat yang beratus kali kuucapkan selama di Rio.
Yes.. Bertemu begitu banyak anak muda Katolik dalam satu event dunia seperti ini menjadi sesuatu yang langka. Rasanya belum tentu semua orang seberuntung aku yang dapat merasakan euforia ini. I’m so lucky, yes I am!

Dengan waktu yang terbatas dan harus melayani ‘penggemar’ (hahaha.. banyakkk banget yang manggil-manggil untuk minta foto atau bertukar souvenir..), membuat kami terbirit-birit menuju gereja. Tiba di dalam gereja, aku hanya bisa berujar, “Woww!”
Gereja yang sangat besar dan modern. Tampak dari luar, lebih cocok disebut markas militer atau markas agen rahasia. Keren dan bagus! Interior di dalamnya sederhana tapi sangat wah!

huge church

Saat sedang sibuk berfoto, seorang anak muda menyapa kami. “Indonesia?” tanyanya. Wajahnya sangat Asia, tapi dia berbicara bahasa Inggris. Kami menjawab, “Yes!” Dia pun memperkenalkan dirinya. Ternyata dia lahir dan tumbuh hingga remaja di Jakarta. Karena kerusuhan 1998, dia beserta keluarga hijrah ke Australia. Walau mulai terbata-bata, dia masih bisa berbicara bahasa Indonesia. Tampak dia sangat senang bertemu dengan kami, orang Indonesia. Walau telah lama di luar negeri, tanah kelahiran tetap tak terlupakan. Itu yang kutangkap dari gadis ini.

Si Gadis Ausie

Aku pun meninggalkan gereja ini, menuju kembali ke Central. Tiba di Central, baru tampak beberapa teman kami. Saat sedang menunggu, terdengar dengan jelas teriakan, “IN DO NE SIAAA… IN DO NE SIAAAA…”
Kupikir, ada rombongan Indonesia yang jauh lebih semangat dari kami. Ternyata, Lucas, Everton dan rombongannya. Aku hanya bisa tercengang. Aku yang orang Indonesia pun tak sampai segitu hebohnya meneriakkan negara kami. Tapi kulihat saudara kami dari Diadema yang begitu bersemangat. Luar biasa!

Agenda besar hari ini adalah Misa Pembukaan oleh Uskup Rio de Janeiro di Copacabana Beach.
Copacabana berada cukup jauh dari Central, bisa ditempuh dengan bis atau metro. Kali ini kami menggunakan metro. Keluar dari stasiun metro, kulihat begitu banyak anak muda berjalan kaki menuju pantai.
Copacabana!!!! Here I am! So glad to be here…
Rasanya tak terkatakan saat telapak kaki ini menyentuh pasir Copacabana. Rasa syukur, haru, bahagia menjadi satu. I praise You, Jesus!

Berjalan menyusuri pasir Copacabana, kulihat begitu banyak bendera berkibar. Bahkan terlalu banyak bendera yang baru pertama kali kulihat. World Event!

Suasana di Copacabana

Misa pembukaan kuikuti dengan sangat khusyuk, di tengah terpaan hujan dan angin laut. Tanpa mengerti bahasa yang digunakan, aku tetap dapat mengikuti misa.. (This is one of the reason why I’m very proud to be Catholic). Panggung raksasa nan megah menjadi pemandangan yang luar biasa. Tata suara dan multimedia yang sangat bagus pun menambah meriahnya WYD ini. Meski hanya bisa kusaksikan dari layar raksasa, aku tetap sangat menikmati misa pembukaan tersebut.

Selesai acara, terjadi kerusuhan. Tarik-tarikan dan dorong-dorongan tak jelas. Selesai misa, tentu saja artinya bubarnya massa. Badanku yang mini terasa tak berarti saat harus berjuang keluar dari kerumunan orang. Beruntung kami semua bisa lolos dari kerumunan tersebut.
Hujan semakin deras, angin pun terasa semakin dingin. Sekitar pukul 10 malam dan aku tak tahu harus berbuat apa. Lelah rasanya dan aku masih harus melalui perjalanan sangat panjang untuk dapat tiba di Bras de Pina. Satu-satunya cara untuk kembali ke Central adalah kembali naik metro. Tapi antrian metro sudah mencapai luar stasiun, di jalan raya depan stasiun. Aku dan beberapa teman pun memilih untuk menunggu hingga antrian tersebut habis. Sekitar pukul 11 malam, keramaian di sekitar stasiun metro pun reda. Aku dapat dengan mudahnya masuk ke dalam stasiun tanpa harus mengantri. Tiba di Central, masih ada 1 kereta kosong yang akan mengantar kami ke Bras de Pina.
Kami semua mendapat tempat duduk. Tapi ternyata itu bukan sesuatu yang nikmat.
Guess what?! Kereta tersebut tak kunjung berangkat! Huaaa… Mau nangis rasanyaaaa… Badan lelah, ingin segera tidur. Aku sudah tertidur di kereta. Ketika terbangun, kereta tetap belum berangkat. Baru kusadar, kereta yang kunaiki ini adalah kereta terakhir.
Dari jam 12 malam, kami baru diberangkatkan pukul 1.45. Bayangkan berapa lama aku duduk menunggu tanpa kepastian.. :(
Sekitar pukul 2.30 pagi, aku baru tiba di Bras de Pina. Berjalan kaki menuju gereja St. Cecilia. Beruntung masih ada volunteer yang siap mengantar kami semua.
Malam itu kututup dengan tidur pada pukul 3 pagi..
Hanya bisa berharap, keesokan harinya aku memiliki baterai baru..

24 Juli 2013
Bangun agak siang, sekitar pukul 8 pagi. Thanks, God.. Aku segar seperti sediakala, walau kurang tidur dan lelah. Ritual di pagi hari, berjalan kaki menuju gereja. Kali ini kubelokan badanku ke kiri dan memilih jalan satunya.
Jadi kalau digambarkan, seperti inilah peta rumah tempat kami tinggal. Setelah berjalan beberapa langkah, aku bisa melihat gereja St. Cecilia. Gereja ini memang terletak di atas bukit. Terlihat dari tempatku berdiri, bangunan lancip tersebut. Cukup jauh, tapi menjadi pemandangan indah bagiku. Perjalanan pun dilanjutkan. Baru kusadari, aku tinggal di dataran tinggi. Dan hari ini, aku harus menuruni ratusan anak tangga untuk dapat tiba di ujung jalan. Tuhan tahu ajaa ni aku jarang olahraga di Jakarta… hihihihi…

Ritual yang sama dengan hari sebelumnya: berjalan kaki.
Dari rumah menuju gereja, tapi kali ini aku tidak turun ke sekolah untuk mengambil sarapan. Kesiangan! hihihi..
Berkumpul di depan gereja, kami pun siap menuju Central, tentu saja dengan cara yang sama. Naik kereta listrik.

Tiba di Central pun, kami diberikan waktu bebas sampai pukul 2 siang. Kembali aku bersama Verby, Karina, dan Surya melancong.
Berjalan kaki menjauh dari stasiun Central, kami masuk ke sebuah museum. Bak menemukan air di padang pasir, kami mendapatkan toilet yang sangat waahhh! Bersih! Senangnyaaaa… Plus dispenser air gratis! Berjuta senang rasanya.. hehehe…

Dari museum, kami berjalan kaki lagi dan menemukan restoran yang menyajikan Chinese Food. Seperti menemukan harta karun! Setelah lebih dari seminggu berada di negeri orang, lidah ini rasanya telah sangat rindu dengan makanan khas Asia.
Walau tak persis seperti apa yang biasa kumakan, ini lebih dari cukup..

Mie Goreng yang Menggugah Selera

Big Portion

Saking kalapnya bertemu Chinese Food, kami memesan terlalu banyak. Alhasil, satu porsi ayam goreng pun harus kami bungkus.. hahaha..

Selesai makan siang, kami berempat kembali berjalan menuju Central. Rasanya rugi kalau tak mampir lagi ke museum untuk mengunjungi toilet dan dispenser air.. hahaha.. Kami pun masuk dan bertemu seorang volunteer yang mengajak kami ke sebuah ruangan. Ruangan tersebut berisi lukisan-lukisan hasil karya anak-anak. Oleh si penjaga ruangan, kami diberi layangan unik. Senang rasanya mendapat layangan tersebut. Tapi keluar dari ruangan tersebut, kami kebingungan. Layangan yang cukup besar dan rasanya mustahil bila kami membawanya pulang.


Ini Layanganku :)

Dan Karina memutuskan untuk membawa pulang keempat layangan tersebut, meskipun sulit.. :)

Petualangan kami pun berlanjut. Kami berempat benar-benar menjadi bocah petualang di hari Rabu ini. Rio terus diguyur hujan rintik tanpa henti. Jadi udara terasa semakin dingin dan jalanan yang kami lalui pasti becek. Tapi aku menikmati petualangan ini.. hehehe..

Sebelumnya kami mendapat informasi dari Gege bahwa di hari ini akan ada Asian Youth Gathering (AYG). Dengan naluri petualang, kami pun berusaha mencari tahu sendiri di manakah tempat berlangsungnya AYG. Tapi ternyata tidak sesederhana yang kami bayangkan. Kami pun keluar masuk stasiun metro, berkali-kali bertanya pada warga setempat, bertanya pada volunteer yang berjaga di setiap stasiun. Jawaban mereka simpang siur. Bahkan saat bertanya pada warga setempat pun kami mendapat jawaban yang berbeda. Para volunteer yang kami tanyai pun bahkan tidak tahu bahwa hari ini ada AYG. Rasanya tempat AYG memang terpencil.
Beruntung melalui ponsel Surya (fyi, aku, Verby dan Karina tidak mengaktifkan handphone selama di Brazil.. hehehe.. benar-benar menikmati perjalanan tanpa gangguan), kami berhasil menghubungi Gege dan Nory. Mereka pun menunggu di salah satu stasiun metro.

Jelang sore, kami berhasil bertemu teman-teman, kami pun bersama menuju tempat AYG. Kami naik bis. But guess what?! Aku seperti berada di Jakarta. Kami terjebak kemacetan yang hampir tak bergerak. Jalanan Rio sore itu benar-benar padat.
Melihat jalanan yang tanpa harapan, kami pun memutuskan untuk membatalkan rencana ke AYG lalu turun dari bis.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam saat kami turun dari bis. Perut krucuk krucuk.. Ahaaa!! Ayam goreng tadi siang menjadi penyelamat! Di tengah gerimis dan dinginnya angin, menggerogoti ayam dan melumat tulangnya menjadi sesuatu yang menyenangkan, ditambah itu semua kami lakukan bersama.. hahaha.. Ini yang namanya kebersamaan.. :)

Satu atau dua potong ayam seperti bensin bagi tubuh kami. Terus diiringi gerimis, kami berjalan kaki menuju sebuah gereja.
Dalam setiap panjangnya perjalanan yang harus aku lalui, tak pernah kukeluarkan kata-kata keluhan, karena aku tahu di depan sana ada sesuatu hal yang baru yang akan kulihat, kunikmati, dan kubawa pulang sebagai pengalaman hidup.
Tiba di gereja tersebut, lagi-lagi hanya ‘Woww’ yang bisa kuucapkan. What a great church!
Ornamen dan setiap detil dalam gereja tersebut membuatku tak bisa berhenti berdecak kagum. This is one more reason why I’m very proud to be Catholic..

Interior Gereja

Kebetulan saat itu akan diadakan ibadat Taize. Kuikuti ibadat tersebut dengan nyanyian Taize berbahasa Portuguese dan Latin.

Selesai ibadat Taize, kami pun memutuskan pulang. Kali ini aku berjalan bersama Verby, Karina, Surya, Nory, dan Dar. Hujan masih terus turun, jas hujan pun tak lepas dari badanku. Kembali kami berjalan sambil mencari tempat makan malam.
Sepanjang perjalanan pun kami bertemu banyak pilgrim dari Ausie, Peru, Argentina. Di tengah hujan dan lelah, selalu terselip semangat untuk saling menyapa, bertukar tanya, bertukar souvenir. Rasanya semangat untuk itu tak akan pernah habis.

Kami pun menemukan KFC!
Bak orang kelaparan, kami memesan begitu banyak ayam goreng. KFC pasti memiliki ciri khas di tiap negara. Di Rio, kali ini kutemukan nasi, ayam fillet, beserta sup kacang merah. Gostoso!

Antara Lapar dan Kalap!

KFC di Rio.. Yummy!

Bill yang Menunjukkan Kekalapan Kami (1 Real sekitar 5.000 Rupiah)

Perut kenyang, sebagai asupan yang cukup untuk kami berjalan menuju Central, naik kereta listrik ke Bras de Pina, lalu melalui jalan menanjak untuk tiba di rumah host parent kami.

Tiba di Bras de Pina, berharap rumah kami tinggal selangkah dari stasiun. Tapi nyatanya tidak seperti itu.
Ditambah satu kejadian lucu.
Tiba di stasiun, kami pun bersiap turun. Sebelumnya kami bertemu dengan pilgrim dari Chile. Kami sempat bertukar souvenir dengan mereka.
Saat pintu kereta terbuka, aku pun keluar. Sempat kudengar Verby mengucap, “Bye Chile, bye Chile…”
Brekkk… Begitu pintu kereta tertutup dan kereta menjauh, aku mencari Verby, Nory, dan Surya. “Loh? Verby mana? Nory mana?”
Mereka bertiga terbawa di dalam kereta… hahahaha… *ngakak…
Sesuatu yaaa.. Padahal badan sudah lelah, dan mereka bertiga, bersama banyak teman Indonesia harus turun di satu stasiun setelah Bras de Pina, lalu berjalan kaki kembali. Lumayan olahraga malam hari di tengah gerimis hujan.. hahaha..

Aku tahu WYD ini bukan wisata koper, yang dengan nikmatnya ke sana ke mari menggunakan bis sewaan atau tinggal di hotel.
Ini sebuah peziarahan. Sebuah perjalanan yang sangat tidak mudah. Perjalanan yang sangat menguras energi.
Tapi entah mengapa, aku tidak mengeluh. Malah aku menikmati setiap langkah kakiku yang terasa menyakitkan. Aku menikmati setiap tetes air hujan yang menyentuhku. Aku menikmati setiap sudut kota Rio yang tertangkap oleh mataku. Dan satu hal yang kuyakini, bahwa selalu ada kekuatan baru saat kubuka mataku di pagi hari.

Tiba di rumah mama, kuletakkan keempat layangan yang sudah berpindah tangan dari Karina. Kupilih tempat yang benar agar tidak rusak.
Ada rasa syukur yang terlalu besar, bukan karena layangan berhasil tiba di rumah dengan selamat. Tapi karena boleh melewati satu hari lagi di Rio. Kuserahkan rasa lelahku kepadaNya dan berdoa agar besok pagi aku diberikan kekuatan baru untuk terus menjalani rangkaian WYD di Rio. 


(this is the end of part one.. it’s long enough, so I have to make it into some parts… so, please be patient to wait for another stories about Rio… I still have lots of great stories to tell you.. :D thank you..)

One Hard Word

Senin pagi, hari kerja pertama di bulan September.
Setelah libur cukup lama, mamiku memutuskan untuk kembali mengikuti senam aerobik. Kebetulan tempat senam tersebut searah dengan perjalananku ke kantor. Jadi aku berangkat lebih pagi dan mengantar mami, baru aku menuju kantor.

Setelah mami turun, aku melanjutkan perjalanan. Kulihat jalur yang berlawanan denganku macet. Beruntung jalur yang kulalui sangat lengang. Tapi aku cukup terkejut saat kulihat begitu banyak motor dari arah berlawanan melaju dengan santainya di jalurku. Mereka semua melawan arah, mengambil jalur yang bukan seharusnya. Kesal melihat keadaan seperti itu, aku mengedipkan lampu dim, berharap mereka semua sadar bahwa mereka berada di jalur yang salah dan mereka sedang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Bukannya sadar, salah satu pengendara motor malah berteriak satu kata kasar.
Saat diteriaki seperti itu, aku bukan sakit hati. Aku bingung, hanya bisa geleng-geleng kepala. Aku bergumam, “Yang salah siapa ya? Galakan dia.. Ampun deh..”

Kulanjutkan perjalananku menuju kantor sambil masih tak habis pikir. Bukan tak terima karena diteriaki kata kasar. Tapi aku masih terus berpikir, mengapa ada orang seperti itu. Sudah melakukan kesalahan tapi malah mengeluarkan emosi yang lebih galak. Bukankah seharusnya saat kita melakukan kesalahan, kita mengucapkan kata maaf?
Ya, benar.. Seperti itu teorinya. Teori yang baik.
Tapi apakah teori tersebut berjalan dengan baik pula dalam kehidupan kita sehari-hari?
Aku pun berpikir. Semakin aku berpikir, aku makin mengerti bahwa hampir semua orang, termasuk aku akan sangat tidak terima bila berada dalam posisi yang salah atau kalah. Setiap kita akan memasang benteng pertahanan, entah untuk membela diri atau menyelamatkan diri.
Iya atau tidak?
Hehehe.. Tak perlu dijawab..

Tapi pagi itu, aku menjadi punya bahan refleksi pribadi. Terlepas dari si pemotor atau siapapun, aku pun merasa seperti itu. Dalam banyak situasi, aku cenderung membangun sikap selalu benar. Saat berada dalam posisi salah pun, aku akan berusaha mencari pembenaran, berusaha agar bukan aku yang menjadi pihak salah.
Pernah mengalami keadaan seperti ini?
Apakah memang kita dididik dari kecil untuk seperti ini?
Atau apakah memang ini budaya negara kita?
Atau lebih karena ego kita?

Seingatku, pelajaran TK atau SD mengajarkanku untuk meminta maaf saat melakukan kesalahan. Tapi seiring dengan berjalannya usia, kita malah mencegah agar kata maaf terucap dari mulut kita, sekalipun kita yang salah.

Senin pagi ini menyadarkanku bahwa ‘maaf’ menjadi sesuatu yang sangat berat dan sulit. Untuk dilakukan, untuk diucapkan.
Mengucap kata ‘maaf’ seringkali berarti kita mengakui kita kalah. Padahal kalau memang salah, ya kata ‘maaf’lah yang harus terucap.
Mengucap kata ‘maaf’ bukan berarti kalah, tapi berarti kita memiliki keikhlasan hati, kerelaan hati untuk menerima dan mengakui kesalahan kita sendiri.
Siapakah dari antara kita yang telah memiliki hati yang selapang samudera?
Aku berani bilang, aku belum memiliki hati seperti itu.
Jadi, mari kita mulai berjuang untuk itu..
Berani mengucap ‘maaf’ dan berlapang dada.. :)


Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts