Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

60

Ada sebuah rasa yang tak terucap saat berdiri di momen ini. Rasa yang luar biasa merajai hatiku, yang bahkan tak cukup tergambarkan oleh kata-kataku. Begitu kuatnya perasaanku kali ini. Begitu banyak yang ingin kuungkapkan.
7 September 2008 yang dipilihnya. Masih lekat dalam benakku apa yang dia katakan saat itu. Dan hari ini, tepat 60 bulan setelahnya, dia masih memegang erat kata-katanya. Janjinya bukan janji manis. Kata-katanya bukan impian belaka. Saat itu, entah apa yang membuatku menjawab ‘iya’, padahal seperti masih banyak keraguan dalam hatiku. Dan hari ini, lima tahun setelah itu, semua raguku hilang, berubah menjadi keyakinan besar.
60 bulan bukan sekejap mata. Jatuh dan bangun Senyum dan airmata Tawa dan amarah Rindu dan benci Suka dan duka Dan berjuta rasa lainnya..
60 bulan rasanya masih terlalu singkat. Untuk terus mengenalnya Untuk terus memahaminya Untuk terus mengasihinya Untuk terus mencintainya Untuk terus mendampinginya..
60 bulan tak membuatku puas 60 bulan tak membuatku berhenti 60 bulan …

Journey to The Center of Brazil (Part One)

Sao Paulo.. yang telah memberiku berjuta kehangatan. Sao Paulo.. yang telah menunjukkan kepadaku tentang arti sebuah ketulusan. Sao Paulo.. yang indah. Sao Paulo.. yang akan selalu hidup di dalam hatiku.. Beberapa hari yang indah, yang membuatku memohon agar aku bisa terus merasakan hangatnya pelukan itu. Tapi waktu yang memutuskan. Dengan bercucuran airmata, kulambaikan tangan tetap dengan harapan untuk bisa berjumpa di lain waktu.
Bertolak dari kota penuh kasih, Diadema, ini kisahku di ibukota Brazil.

Di penghujung hari istimewaku, harus kulakukan satu hal yang kubenci: saying goodbye. Waktuku untuk Sao Paulo telah habis. Ibaratnya, aku telah menikmati surga penuh kenikmatan dan sekarang aku harus menuju dunia nyata: Rio de Janeiro. Ada sedikit kekhawatiran juga rasa penasaran tentang kota ini. Berkali-kali Papa Valdir mengingatkanku untuk selalu berhati-hati dengan tas, dompet, dan semua barang bawaanku. Kesan yang kutangkap, Rio adalah ibukota yang sangat tidak aman dan menyeramkan. Kura…

One Hard Word

Senin pagi, hari kerja pertama di bulan September. Setelah libur cukup lama, mamiku memutuskan untuk kembali mengikuti senam aerobik. Kebetulan tempat senam tersebut searah dengan perjalananku ke kantor. Jadi aku berangkat lebih pagi dan mengantar mami, baru aku menuju kantor.
Setelah mami turun, aku melanjutkan perjalanan. Kulihat jalur yang berlawanan denganku macet. Beruntung jalur yang kulalui sangat lengang. Tapi aku cukup terkejut saat kulihat begitu banyak motor dari arah berlawanan melaju dengan santainya di jalurku. Mereka semua melawan arah, mengambil jalur yang bukan seharusnya. Kesal melihat keadaan seperti itu, aku mengedipkan lampu dim, berharap mereka semua sadar bahwa mereka berada di jalur yang salah dan mereka sedang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Bukannya sadar, salah satu pengendara motor malah berteriak satu kata kasar. Saat diteriaki seperti itu, aku bukan sakit hati. Aku bingung, hanya bisa geleng-geleng kepala. Aku bergumam, “Yang salah siapa ya? Galakan…