Catatan Kecilku

Aku berjalan sendirian, sore ini, di kawasan pusat Ibukota. Kawasan elit yang tak pernah sepi bahkan sampai lewat tengah malam. Sengaja kuparkir mobil di gedung parkir sebuah mall. Lalu kulangkahkan kaki menyusuri trotoar panjang ini. Di kiri kulihat jejeran rumah mewah yang hampir tak terlihat pintunya karena terhalang oleh pagar super tinggi. Hanya sesekali aku dapat melihat dari sela pagar, beberapa mobil mewah terparkir rapi di garasi. Tak salah memang bila kawasan ini disebut elit. Sudah pasti bukan sembarang orang yang mendiami rumah-rumah tersebut. Tapi rasanya bukan Ibukota bila tak ada terlihat keberagaman. Setelah menyelesaikan 1 trotoar panjang, kuputuskan untuk menyeberang jalan, berpindah ke sisi lain. Ternyata di seberang jejeran rumah-rumah mewah tadi, terdapat lapak-lapak makanan yang menjajakan berbagai jenis kuliner menarik dengan harga lapak pula.
Tak hanya puluhan lapak makanan yang ada di sepanjang jalan ini.
Kulihat ratusan terompet bergelantungan di pinggir jalan, bersama si abang penjual mengadu rezeki berharap akan banyak orang yang mampir ke lapak mereka. Sangat banyak jenis terompet yang dijajakan. Seolah mengikuti perkembangan zaman, terompet-terompet tersebut pun mengalami perubahan bentuk dan ukuran menjadi lebih baik dan menarik, meskipun bunyinya sama saja. Tapi toh hal tersebut sebenarnya merupakan strategi marketing agar semakin banyak orang yang membeli terompet.
Aku sempat mengamati terompet-terompet tersebut. Jarang kulihat terompet yang sangat banyak seperti ini. Hanya muncul sekali dalam setahun. Pemandangan yang memang wajib di penghujun tahun seperti ini. Rasanya tak lengkap bila melewati pergantian tahun tanpa memegang dan meniup terompet.
Kulanjutkan langkah menjauhi keramaian lapak-lapak tersebut. Udara sore ini memang bersahabat denganku. Semilir angin menyentuh kulitku, membuatku semakin menikmati langkah-langkahku di tengah kota metropolitan ini. Kuselipkan kedua tanganku di kantong skinny jeans andalanku. Memang paling nyaman mengenakan celana-jeans­-belel kesayanganku ini. Apalagi saat berjalan-jalan sore seperti ini. Nikmat!
Langkahku terhenti di sebuah taman kota. Setelah cukup jauh menyusuri trotoar, kuputuskan untuk mampir ke taman ini. Aku yang selalau mengendarai mobil, memang tak pernah mampir ke taman ini. Hanya sering memandang taman ini melalui kaca mobil. Dan kali ini aku berhasil mengurangi polusi udara dengan meninggalkan mobilku dan berjalan kaki. Aku berjalan ke tengah taman. Ada beberapa bangku kosong di sekitar taman. Kupilih salah satu bangku panjang berwarna biru muda. Kupilih bangku tersebut karena aku suka warnanya dan lebih penting karena bangku tersebut menghadap air mancur. Dari bangku tersebut pun aku dapat memandang sekeliling taman tanpa terhalangi oleh apa pun.
Kulihat beberapa sepeda berputar mengeliling taman ini. Anak-anak kecil berceloteh riang saat bermain ayunan dan jungkat-jungkit. Beberapa remaja pun terlihat menikmati sore ini dengan meluncur dengan sepatu roda mereka.
Aku hanya duduk sendiri, memandang kegiatan yang terjadi di hadapanku. Pikirku, pemandangan yang semakin jarang kutemui. Yup, amat sangat jarang kutemui. Hari-hari kuhabiskan dengan duduk di kursi kantor berhadapan dengan layar komputer. Jangankan untuk menikmati sore seperti ini, bisa tidur nyenyak setiap harinya pun aku sangat bersyukur. Mungkin tak hanya aku yang merasa seperti itu. Mungkin seperti itulah potret kehidupan di Ibukota.
Kudengar gemericik air mancur yang terus menyembur. Terpaan angin sore membuatku tak ingin beranjak dari taman ini. Sempat kuingat jalan-jalan yang kulalui sore ini. Meski sendiri, perjalananku sore ini memang mengasyikkan. Entah apa yang membuatku memutuskan untuk berjalan kaki di tengah kota sore in. Ternyata ada saat di mana sendiri jauh lebih menyenangkan.
Teringat sebuah terompet yang tadi ditawarkan oleh abang penjual. Bentuknya biasa tapi dipenuhi oleh hiasan berwarna merah.
“Neng, terompetnya buat taun baruan… Bagus bunyinya. Pasti taun baruan meriah deh, neng..”
Si abang penjual mengacungkan sebuah terompet di hadapanku, sambil mengeluarkan kalimat saktinya agar aku tertarik membeli.
Aku memang tak membeli terompet yang ditawarkan. Tapi sekarang aku tersadar, hanya tersisa 4 hari lagi di tahun 2011 ini. Tak heran ratusan terompet dengan mudah ditemui.

Akhir tahun…
Lagi, aku tiba di penghujung tahun.
Betapa cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin memasuki tahun 2011, sekarang beberapa hari sebelum meninggalkan tahun ini.
Sambil tetap duduk di bangku taman yang nyaman ini, pikiranku melayang mengingat apa saja yang terjadi selama 12 bulan ini.
12 bulan seharusnya bukan waktu yang singkat. Tapi entah mengapa aku merasa 12 bulan kali ini berlalu begitu saja dengan sangat cepatnya. Jadi diperlukan tenaga lebih untuk mengingat apa saja yang pernah kulakukan 12 bulan terakhir kemarin.
Otakku langsung kembali ke awal tahun ini.
Aku memasuki tahun 2011 ini dengan perasaan tak menentu.

Januari, aku masih menjadi pengangguran. Jobless. Bisa dibilang ada keraguan besar saat memasuki tahun yang baru. Belum ada kepastian apakah aku akan mendapat pekerjaan yang sesuai atau akan lebih lama lagi menganggur. Resolusi terbesarku saat itu adalah memperoleh pekerjaan yang sesuai. Aku hanya mampu percaya bahwa ada sebuah perusahaan yang telah Dia pilihkan untukku bekerja.

Februari, aku secara resmi diterima di perusahaan farmasi, yang sampai saat ini masih menjadi perusahaan tempatku bekerja. Amat bersyukur karena aku merasa inilah perusahaan yang tepat untukku. Aku percaya bahwa inilah yang Dia siapkan untukku setelah 2 bulan menjadi pengangguran.

Mei, aku resmi menjadi karyawan tetap di perusahaan ini. Aku berhasil melalui 3 bulan probation dengan baik. Pengangkatan ini membuatku semakin menikmati setiap pekerjaan yang ada.

Juli, aku kembali meniup lilin ulang tahunku. 25 tahun yang berlalu membuatku tak bisa berhenti bersyukur karena nyatanya berkat dan kasih Tuhan tak pernah sedetikpun lepas dari kehidupanku. Di ulangtahunku kali ini, aku diberi kesempatan untuk berbagi kasih dengan begitu banyak orang yang kukasihi. Mereka, yang membuatku sangat merasakan indahnya kasih Tuhan.

September, aku menginjakkan kaki di tahun ketiga hubunganku dengan Larry. Tetap berdoa agar Dia tetap menjaga hubungan ini, karena aku percaya segala sesuatu yang aku alami bersama Larry adalah yang terbaik dariNya.

November, aku harus menitikkan air mata untuk suatu hal yang hanya bisa kusimpan sendiri. Aku berjuang agar mampu melalui hal sulit tersebut. Satu hal yang kuyakini, bersama Dia aku akan kuat.

Desember, hari ini, setelah melalui berbagai hal, aku masih mampu berkata, “Aku bersyukur, Tuhan!”

Aku tahu tak selamanya hari-hari kulalui dengan senyum manis.
Nyatanya hidup menjadi lebih hidup saat ada air mata.
Air mata itu yang membuatku sadar akan berharganya senyum.

Aku tahu tak selamanya hari-hari kulalui dengan sukacita.
Nyatanya hidup menjadi lebih berharga saat ada masalah.
Masalah itulah yang menyadarkan aku akan arti sukacita yang sesungguhnya.

Aku tahu tak selamanya hari-hari kulalui bersama orang yang kusukai.
Nyatanya hidup menjadi lebih menyenangkan saat berhadapan dengan beragam karakter orang.
Mereka itulah yang memberi warna dalam hidupku.

Aku tahu tak selamanya jalan-jalan kulalui semulus jalan tol.
Nyatanya hidup menjadi lebih indah saat melalui kerikil-kerikil.
Kerikil itulah yang menguatkan aku melalui banyak tantangan hidup.

Aku tahu tak selamanya jalan-jalan kulalui sesuai dengan pilihanku.
Nyatanya hidup menjadi lebih berarti saat kupasrahkan hidupku pada kehendakNya.
Kehendak Dialah yang terbaik bagi kehidupanku.

12 bulan di belakang menyadarkanku betapa luar biasanya kasih setia Tuhan yang selalu menyertai perjalanan hidupku.
Aku bersyukur untuk senyum, canda, dan tawa.
Aku bersyukur untuk air mata, duka, dan tangis.
Aku bersyukur untuk orang-orang istimewa yang hadir di tahun ini. Aku percaya mereka ditempatkan untuk bersamaku melalui hari-hari yang ada.
Aku bersyukur untuk orang-orang yang senantiasa mendampingiku melalui segala hal, juga menguatkan aku dalam menghadapi berbagai persoalan.
Aku bersyukur untuk sempurnanya setiap detil rencana Tuhan bagi hidupku.

Perlahan, taman kota ini semakin sepi. Hanya tersisa beberapa orang yang masih asyik bercengkerama di bangku taman. Semilir angin sore yang sejuk berganti dengan angin malam yang menusuk kulit. Perlahan kuangkat badanku, kulangkahkan kaki menjauhi bangku biru muda tersebut. Perlahan gemericik air mancur menjauh dari telingaku.
Kulipat kedua tangan di depan dadaku. Di hatiku, begitu banyak ucapan syukur atas indahnya hidup ini. Di hatiku pula, tersimpan begitu banyak harapan dan impian untuk 2012.
Tak pernah aku berhenti berharap untuk segala hal baik yang akan Dia sediakan. Kuletakkan masa lalu dan segala impianku hanya dalam tanganNya.
Dengan senyum, kembali aku menyusuri trotoar panjang menuju mall, di mana mobilku terparkir. Sore hari yang menyenangkan.. :)



Happy New Year, dear Friends…

Natal Tanpa Salju

Beberapa hari menjelang Natal, aku masih mencari suasana yang biasanya kental dengan kehangatan dan sukacita.
Umm…
Rasanya Desember kali ini aku tak berhasil mendapatkan suasana khas tersebut. Hari-hari berlalu begitu saja. Tak ada yang istimewa. Hingga menjelang tanggal 20an, hari-hari di bulan Desember ini masih sama seperti hari-hari lain.
Mungkin yang mendukung khasnya bulan Desember hanyalah rintik hujan yang turun setiap malam dan pernak-pernik Natal yang bisa ditemui di mall-mall.
Selebihnya, hari-hariku terasa tak istimewa. Padahal aku mengharapkan suasana yang syahdu dan hangat.
Tak pernah berhenti aku membayangkan suasana menyambut Natal seperti yang sering kulihat di televisi.

Mengenakan topi, baju hangat, dan sepatu boot, aku berjalan di keramaian kota diiringin titik-titik salju. Kulihat ribuan lampu berkelip di sepanjang jalan. Ditambah kelompok musik yang memainkan instrument Natal. Haahhhh…. Impianku yang tak pernah lenyap.

Entah kapan dan di mana dapat kulalui suasana Natal tersebut. Hanya mampu meyakini diriku sendiri bahwa suatu saat nanti aku akan berhasil mewujudkan impianku itu.
Toh nyatanya yang aku hadapi sekarang adalah hari-hari yang menurutku biasa saja.. hehehe…
Tapi aku amat bersyukur atas hari-hari di bulan Desember ini.
Meskipun tanpa salju, tanpa lampu berkelip, aku sadar bahwa semua yang terlihat biasa saja merupakan sesuatu yang luar biasa.
Bagaimana mungkin aku tak bersyukur karena diberi kesempatan sekali lagi untuk merasakan syahdunya hari-hari menjelang Natal.
Tanpa titik-titik salju, aku pun mampu menyadari indahnya Natal.
Tanpa permainan musik instrument, aku pun mampu merasakan hangatnya Natal.
Tanpa pohon cemara asli, aku pun mampu menikmati syahdunya Natal.
Karena aku sadar bahwa Natal bukanlah tentang semua itu.
Aku memang memiliki mimpi untuk bisa melalui Natal di negeri seberang yang menjanjikan Natal penuh kenangan.
Tapi toh aku tak terpaku pada mimpiku itu.

Natal lebih dari sekedar salju, pernak pernik, pohon cemara asli, atau baju hangat.
Natal adalah saat terindah yang selalu kunantikan setiap tahunnya.
Natal adalah tentang mensyukuri kehadiran Dia dalam dunia ini.
Natal adalah tentang mensyukuri keberadaan Dia dalam hatiku.

Tak ada lagi kata ‘biasa’ untuk hari-hari menjelang Natal.
Yang ada hanyalah hari penuh sukacita dan rasa syukur.

Natalku kali ini kembali tak bersalju.
Tapi aku yakin Natalku kali ini bermakna indah dan akan selalu seperti itu.. :)

Sederhana

Andai bisa kuungkap semua ini
Andai mampu kucurahkan hati ini
Andai dapat kumengerti rasa ini
Andai sanggup kupahami cerita ini

Aku hanya ingin membaca apa yang tertulis di hatiku saat ini
Aku hanya ingin mendengar apa yang degup jantungku suarakan
Aku hanya ingin mengerti apa yang terpampang di otakku saat ini
Aku hanya ingin melakukan apa yang perasaanku katakan

Mengapa semuanya menjadi begitu rumit?
Mengapa semuanya tak lagi sederhana seperti bayanganku?
Mengapa semuanya berlarian tak tentu arah?
Mengapa semuanya jauh dari harapanku?

Inginku sangat sederhana,
hanya agar semuanya menjadi lebih sederhana.

Tersenyumlah, Teman

Satu hal paling sederhana di hidup ini adalah tersenyum. Ya setidaknya itu menurutku pribadi. Tapi rasanya memang pantas bila tersenyum adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan siapa pun di dunia ini.
Tak pernah ada larangan untuk tersenyum.
Tak pernah ada biaya yang dikeluarkan untuk tersenyum.
Di mana pun, kapan pun, rasanya tersenyum dapat dengan mudah dilakukan.
Jadi sebenarnya, tersenyum hanyalah sesederhana itu.
Tapi masalahnya, tak semua hal di hidup ini mampu membuat kita tersenyum.
Mau tak mau, terima tak terima, aku pun sadar bahwa ada saat untuk tersenyum, ada pula saat untuk menangis.
Ada saat untuk tertawa, ada pula saat untuk marah.

Pagi hari, saat memulai aktivitas, aku selalu berkata pada diriku ‘mari mulai hari ini dengan tersenyum!’. Aku pun selalu berusaha membagikan senyumku kepada siapa pun yang aku temui, terutama orang-orang yang kutemui di kantorku.
Tapi nyatanya, tersenyum yang di awal kuanggap sangat sederhana, menjadi sesuatu yang sangat berat.

Yup! Menjadi berat saat ada masalah yang hinggap di hidupku. Tak usah mencari masalah muluk-muluk yang sangat berat. Kurangnya tidur di malam hari dan rasa kantuk yang hebat rasanya sudah cukup membuatku malas membuat senyum di pagi hari. Rasanya tak lagi penting untuk membagikan senyumku. Yang terpenting adalah mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di kasurku.. hehehe…
Saat masalah berat datang, waahhh jangankan tersenyum. Mungkin cemberut menjadi pilihan yang paling baik.. :P

Beberapa minggu yang lalu, aku datang ke kantor dengan muka berlipat-lipat, mata sembab, mood jelek. Ditambah pekerjaan segunung. Komplitlah penderitaan di kantor hari itu. Ingin rasanya pulang ke rumah, masuk ke kamar, lalu menutup muka dengan bantal, dan berharap semua masalah yang ada akan hilang segera.
Tapi toh aku harus menghadapi kenyataan
Menerima bahwa masalah itu ada dan harus dihadapi.
Menerima bahwa sekalipun ada masalah yang datang, aku harus tetap menjalani kehidupanku.
Life must go on, right? Hehehehe…

Hari itu jelas menjadi hari yang cukup suram bagiku. Rasanya hambar dan tak bergairah. Rasanya ingin menangis. Kuselesaikan tugasku hingga tepat pukul 5 sore, lalu langsung kabur pulang menuju rumah. Saat seperti itu, kamar tidurku menjadi tujuan utama. Aku memilih laptop untuk mengalihkan perasaan sedihku. Mungkin browsing akan membuatku lebih baik, pikirku. Dan sepertinya memang pilihanku tepat. Aku menemukan sebuah artikel yang langsung mengubah hari suramku itu.


Aku terperangah membaca artikel tersebut dan rasanya seperti tertampar hebat.
Betapa aku tak mampu mensyukuri kehidupan yang aku punya.
Betapa aku tak mampu bersyukur atas kemampuanku untuk tersenyum dan bahkan tertawa lepas.
Aku malah memilih menjalani hari dengan bersungut-sungut…
Haiiihhh… Sepertinya aku telah salah menjalani hari itu..

Di artikel tersebut, dikisahkan seorang wanita yang menderita penyakit sangat langka.
Penyakit yang dideritanya memaksa dia untuk berhenti tersenyum dan juga tertawa. Karena, bila dia tertawa, otaknya akan keluar dari tengkorak kepala. Bahkan bila dia terus tertawa terbahak-bahak, akan menyebabkan kematian mendadak. Penyakit ini amat sangat jarang terjadi. Tapi nyatanya wanita di Southampton ini menderita penyakit langka tersebut.

Setelah membaca artikel tersebut, perasaanku campur aduk.
Ada rasa prihatin mengetahui kondisi wanita tersebut.
Ada juga rasa malu karena aku tak selalu bisa mengisi hariku dengan senyum dan tawa.

Aku malah memasang muka cemberut,
saat di luar sana ada orang yang begitu ingin tersenyum tapi terhalang oleh keadaan.

Aku malah bersungut-sungut,
saat di luar sana ada orang yang begitu ingin meluapkan kebahagiaannya dengan tertawa.

Aku menganggap tersenyum itu hal yang terlalu sederhana,
saat di luar sana ada orang yang menganggap senyum adalah hal yang sangat mahal.

Aku tak mampu tersenyum setiap harinya,
saat di luar sana ada orang yang mendambakan kesembuhan sehingga dapat kembali tersenyum.

Aku membuang kesempatan untuk tersenyum,
saat di luar sana ada orang yang sangat berjuang untuk bisa tersenyum.

Ahh… Betapa aku tak mampu bersyukur…
Tersenyum…
Hal yang terlalu sederhana pun tak mampu kulakukan.
Padahal tersenyum adalah bukti nyata rasa syukurku atas hidup ini.

Tersenyumlah, teman…
Hal yang sederhana, tapi selalu berharga…

Tersenyumlah, teman…
Mungkin senyummu akan mengubah dunia…

:) :) :)


39

Aku terlalu mengasihimu…
Aku terlalu memujamu…
Dan aku terlalu takut kehilanganmu…

Karena bersamamu aku menemukan kehidupan.
Karena bersamamu aku menemukan cahaya.
Karena bersamamu aku merasakan damai.
Karena bersamamu aku merasakan cinta.

Happy 39th Lovely Day, dear Larry!
You’re still the best!

When My Little Dreams Come True

Kata orang, jangan pernah takut untuk bermimpi.
Kata pepatah, taruhlah mimpimu setinggi bintang di langit.
Kata lagu, mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia.
Kataku, mimpi adalah sesuatu yang pasti akan melengkapi keindahan hidup.
Aku yakin kita semua pasti pernah bermimpi, atau malah ada orang yang selalu bermimpi saat tidur. Tapi yang kumaksud adalah mimpi tentang keinginan, cita-cita, atau harapan. Seperti anak kecil yang bila ditanya, ‘Nanti sudah besar mau jadi apa?’ akan menjawab, ‘Dokter!’ ‘Pilot!’ ‘Penyanyi!’ Atau lebih sederhananya, apa yang menjadi keinginan atau kerinduan kita.
‘Aku ingin memiliki sebuah rumah.’
‘Aku berencana menikah 3 tahun lagi.’
‘Aku berharap memiliki motor.’

Banyaakkkk sekali hal yang menjadi keinginan kita. Ya, itulah mimpi. Tanpa kita sadari, setiap saat hidup kita selalu dipenuhi dengan mimpi. Masalahnya hanya pada bagaimana cara mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Tak jarang orang yang hanya menyimpan mimpi itu di pikiran, tanpa melakukan apa pun untuk mewujudkannya. Tak jarang juga yang menganggap mimpi-mimpinya terlalu muluk dan tak akan pernah mungkin untuk diwujudkan.

Aku sendiri pastinya sering menciptakan impian-impian. Dan sudah pasti aku yang sekarang adalah hasil dari mimpi-mimpiku dan juga usaha untuk mewujudkannya…
Baru saja aku terkagum akan kekuatan mimpi yang kubuat sendiri. Dan tanpa diduga, aku berhasil mewujudkannya.
Mimpiku kali ini mungkin terlalu sederhana bagi sebagian orang. Tapi bagiku, ini mimpi yang telah menahun kusimpan.. hehehe..

Menjadi penyiar radio…
Itu salah satu mimpi kecilku.

Aku mulai mendengarkan radio saat duduk di bangku SMP.
Sejak saat itu, aku setia mendengarkan beberapa channel radio yang pas di telingaku. Selama itu pula, aku ‘mengenal’ banyak penyiar kondang yang dengan suara hebat mereka ternyata mampu menghipnotisku. Tanpa sadar, aku memupuk sebuah keinginan kecil untuk menjadi seperti mereka.
Penyiar radio, bagiku, adalah orang-orang hebat. Tak pernah berhenti aku mengagumi kemampuan mereka bercuap-cuap di depan microphone dan mampu menyedot perhatian jutaan pendengar.
Sejak SMP aku memang telah bermimpi untuk menjadi penyiar radio. Tapi seperti kebanyakan orang, aku pun menganggap mimpiku itu hanyalah angan yang tak akan pernah menjadi nyata. Tak mungkin rasanya seorang Veliska menjadi penyiar radio. Suara pas-pasan, pengetahuan yang ala kadarnya sudah pasti menjadi penghambatku untuk cuap-cuap.

Kusimpan mimpi kecilku itu hanya di dalam hati. Sampai 3 minggu lalu, 13 tahun sejak awal mimpi itu muncul, tiba-tiba aku berkata, “Satu-satunya hal yang sangat ingin kulakukan dalam hidupku adalah menjadi penyiar radio.” Saat mengucapkan kalimat itu, aku masih tak tahu bagaimana harus mewujudkannya.

Seminggu kemudian, di kantor aku menerima e-mail dari Training Department. Tugas mereka menyusun berbagai kegiatan yang berhubungan dengan  Isinya undangan untuk mengikuti workshop Public Speaking. Aku langsung menekan tombol ‘accept’ yang artinya aku akan hadir dalam workshop tersebut. Di pikiranku, aku akan mengikuti workshop mengenai cara berbicara di depan umum atau di sebuah forum terbuka. Tapi pikiranku salah.

Ternyata aku mengikuti workshop penyiar radio!!
Aku hanya terdiam dan tak percaya. Ini yang aku harapkan sejak bertahun-tahun lalu.

Di awal workshop, si fasilitator memberitahu bahwa setiap peserta akan diberi kesempatan untuk mencoba berbicara sebagai penyiar. Dan kemudian akan dipilih 5 orang yang nantinya akan menjadi penyiar tetap di radio kantorku. Yup! Di perusahaanku memang ada siaran radio yang mengudara setiap hari Senin pagi.
Rasanya semakin tak menentu. Senang! Ingin rasanya menjadi satu dari 5 orang terpilih itu dan menjadi penyiar. Walaupun belum tahu apakah akan terpilih, tapi aku senang karena bisa mengenal dunia siaran. Dunia yang selalu aku impikan sejak lama.. :D
Setelah diberikan pembekalan materi, aku pun mendapat giliran untuk berbicara layaknya penyiar radio. Lalu suara dan gaya bicaraku pun dinilai.
Di akhir acara, panitia menginformasikan bahwa 5 orang yang terpilih akan diberitahu melalui e-mail.

Keesokan harinya, aku menerima e-mail dari Training Department.
Di dalamnya tercantum 5 orang terpilih yang akan menjadi penyiar. Daaannn aku melihat namaku di nomor ketiga!
Aku menjadi penyiar!! Impianku terkabul!!
Rasanya ingin melompat setinggi-tingginya, meluapkan kebahagiaanku!!
Hip hip horraayyyy!!!
This is what I called ‘dream comes true’!

Hari H: Rekaman suara.
Radio amatir, jadi memang siaran tidak disiarkan secara langsung. Aku dan partner siaranku melakukan rekaman siaran 1 hari sebelum suara kami mengudara di seluruh kantor.
Rasanyaaaaa amat sangat deg-degan.
Memang ini yang telah lama kunantikan. Dan memang akhirnya aku berhadapan dengan mimpi yang jadi kenyataan. Senang yang teramat sangat!
Tapi nyatanya, ketika harus berhadapan dengan microphone mini tetap membuatku grogi dan tak percaya diri. Karena selama ini aku tak pernah tahu seperti apa suaraku sendiri. Aku hanya tahu bahwa suaraku tak bagus dan rasanya tak mungkin mengudara di radio.
Kali ini, mau tak mau aku harus bersuara sebagai penyiar radio amatir selama 30 menit. Awalnya ada rasa takut. Tapi akhirnya aku mulai menikmati siaran perdanaku.
Rekaman tersebut selesai pada take pertama, tanpa pengulangan. Tinggal menunggu saat rekaman tersebut mengudara… Fiuuhhh…

28 November 2011
Saatnya suaraku mengudara!!
So excited!! :D
Ini pertama kalinya aku mendengar suaraku sendiri. Ternyataaaa, tak seburuk yang kubayangkan selama ini… Suaraku boleh juga lohh.. hehehe… *narsis.. :P
Dan ini juga pertama kalinya suaraku mengudara di seluruh kantor pusat dan cabang.

Dan yang paling penting ini adalah mimpiku yang menjadi kenyataan.
Rasanya…. WOOWWW!!! :D :D
It’s so amazing!!
Dia membiarkan aku merasakan apa yang menjadi impianku selama ini.
Memang aku siaran tanpa microphone, headset, atau mixer seperti di studio radio komersial. Tapi mendengar suaraku mengudara, telah memberikan kepuasan yang luar biasa.

Thanks, Lord for this amazing real chance for me…
Thanks, Lord for always hearing my dreams and hope…
You are the best and will always be.. :D

Your Day

Happy Birthday, my dear Larry,
who completes me with his amazing love…

I pray to God..
May He lead you through all the ways..

I pray to God..
May your whole life fulfilled with love, joy, and blessing…

Dengarlah!

Pernah merasa tidak didengarkan? Atau dalam suatu pembicaraan, kita merasa tidak diperhatikan oleh lawan bicara?
Rasanya pasti sangat tidak mengenakkan. Kita pasti kesal saat lawan bicara yang kita ajak bicara malah asyik sendiri atau sibuk dengan gadget pribadinya.
Lalu, bagaimana dengan kita sendiri? Pernahkah kita juga mengacuhkan orang lain yang sedang berbicara pada kita? Pernahkah kita merasa lebih tahu dan segera memberikan solusi saat ada teman yang curhat kepada kita?
Atau malah kita tak sadar telah sering melakukan hal-hal tersebut?
Minggu lalu aku berkesempatan mengikuti sebuah training. Salah satu sesinya membahas tentang ‘Mendengarkan dan Didengarkan’. Dan di sesi tersebut aku menemukan sebuah kutipan yang sangat bagus, yang pastinya menyadarkan aku untuk selalu mendengarkan. Kutipan ini menyadarkan aku untuk tidak selalu ingin didengarkan tapi lebih mendengar dan memahami keinginan orang lain.

Kalau saya minta Anda dengarkan dan Anda malah menasihati saya,
Anda tidak memberikan apa yang saya minta.

Kalau saya minta Anda dengarkan dan Anda malah mengatakan mengapa saya seharusnya tidak merasa seperti itu,
Anda menginjak-injak perasaan saya.

Kalau saya minta Anda dengarkan dan Anda malah merasa punya sesuatu untuk mengatasi masalah saya, walaupun tampaknya aneh,
Anda sungguh mengecewakan saya.

Dengarlah!
Yang saya minta hanyalah agar Anda mendengarkan.
Jangan bicara atau berbuat sesuatu, cukup dengarkan saja.

(Sean Covey, terinspirasi oleh Ralph Roughton, M.D.)


*Mungkin setelah membaca nama di akhir kutipan, bisa diketahui training apa yang saya ikuti.. :)

38

Tak pernah ada yang terlalu mudah dalam menjalani sebuah hubungan…
Tak pernah ada yang terlalu sederhana dalam menghadapi rumitnya sebuah hubungan…
Tak pernah ada yang berjanji bahwa cinta akan selalu bertaburkan bunga…
Tak pernah ada yang berjanji bahwa perjalanan cinta akan selalu mulus tanpa kerikil…
Tapi di hidupku, pernah ada seseorang yang berjanji untuk selalu berada di sisiku, berjuang menghadapi lika-liku cinta…
Tak pernah kulupakan janji itu, pun sampai 38 bulan setelah janjinya terucap.
Aku bersyukur untuk kehadirannya dalam hatiku, dalam hidupku.
Aku bersyukur untuk setiap kisah yang boleh kurangkai bersamanya.
Aku bersyukur untuk cinta ini…
Aku bersyukur untuk 38 bulan penuh cerita cinta…
Terima kasih, cinta… untuk segalanya…

HAPPY LOVELY DAY, DEAR… :)

Tak Pernah

Tak pernah kupinta dilahirkan seperti ini…
Tak pernah kumohon tinggal di tempat seperti ini…
Tak pernah kuingin hidup tak menentu seperti ini…
Kupandangi dinding rumahku, mungkin tak layak disebut dinding. Sekat tipis sepertinya lebih cocok. Sekat yang melindungiku dari panas dan hujan, meskipun di siang hari akan membuatku kepanasan dan di waktu hujan akan menambah suara berisik yang mengganggu.
Tak pernah kutahu bentuk gembok pagar karena nyatanya memang tak pernah kubutuhkan benda itu di rumah sangat sederhanaku ini.
Jangan berharap ada pembagian ruang yang jelas di rumah ini. Hanya ada satu ruang yang dipakai untuk semua kegiatan. Bahkan anak-anakku harus dimandikan di depan rumah, tanpa pintu, dan pasti dilihat semua orang yang melintas.
Ya, inilah rumahku, rumahku bersama keluarga. Aku, istri, dan 4 orang anak yang masih di bawah 10 tahun.
Tak berani kuharapkan lebih dari apa yang kumiliki saat ini.
Walau hanya memiliki rumah bersekat seng dan tak berpintu, aku sangat bersyukur.
Walau ‘rumah’ ini terletak di daerah tak layak huni, aku bersyukur.
Ini jauh lebih baik daripada dulu saat aku masih kecil. Semasa kecil, aku tidur hanya beratapkan jembatan layang.
Jadi rumah seng ini jauh lebih baik. Setidaknya aku dan keluarga masih memiliki ruang untuk berkumpul bersama.
Memang tak ada salahnya bermimpi. Aku pun bermimpi memiliki hari-hari yang jauh lebih baik dari ini.
Tapi bagiku, istri dan keempat anakku adalah anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupku.
Tak peduli harus diterpa badai atau kemarau, bersama mereka akan selalu menjadi hal terbaik.
Menjaga mereka dalam keadaan apa pun adalah hal yang akan selalu aku lakukan.
Karena melalui mereka, aku mampu menyadari besarnya kuasa dan kasih Dia.

Terimakasih, Kawan..

Mungkin ini jalan cerita kita…
Melalui waktu yang teramat singkat dalam kebersamaan.
Ingin rasanya memohon agar diberi waktu yang lebih panjang,
untuk kita terus merangkai cerita.
Kita pernah melompat dalam tawa,
berlari dalam suka, bercanda dalam bahagia.
Ah, semua itu terlalu indah untuk diakhiri…
Rasanya masih terlalu sedikit kisah yang pernah kita rangkai.
Aku tak pernah mengerti tentang arti mengucap ‘selamat tinggal’ sampai akhirnya saat ini tiba.
Saat di mana semua harus kita sudahi setelah waktu teramat singat yang harus berlalu.
Sedih?
Ummm… Bisa dibilang seperti itu..
Kehilangan?
Ummm… Sepertinya sangat…
Tapi aku yakin hidup masih terus berputar hingga nanti ada saat di mana kita ‘kan berjumpa lagi.
Terima kasih, kawan…
Untuk waktu singkat yang tak mungkin kulupakan…
Amat bersyukur untuk waktu dan kebersamaan kita.
Setidaknya dalam waktu yang singkat ini, aku belajar banyak hal.
Meski semuanya tak akan pernah sama lagi,
aku yakin kemarin kita telah melalui hari-hari berharga.

His Love

Kata orang, jelang seperempat abad memang waktu yang pas untuk menikah dan berkeluarga. Memang ternyata banyak temanku yang menganut paham seperti itu. Banyaaaaaakkk teman yang menikah di usia muda (setidaknya menurutku yaaa… hehehe..), antara 23 hingga 25 tahun.
Yup… Bagiku masih terlalu muda untuk menikah di rentang usia 20an awal. Mungkin karena aku belum siap dan otakku yang masih dipenuhi main, main, dan main.. :D Mengurus diri sendiri dan menikmati hidup masih menjadi prioritasku ketimbang meladeni suami.. hehehe..
Tapi nyatanya tak semua orang sepertiku… Terbukti dari banyaknya wedding invitation dari teman-teman sepermainanku, yang artinya teman yang usianya sama denganku. Tak ada yang salah mengenai umur pas untuk menikah. Kapanpun pasti menjadi waktu yang pas bagi kita yang menjalaninya.. :)
Pun saat satu per satu dari mereka menghasilkan buah hati nan imut..
Langsung berpikir, ‘gue sanggup ga yaa ngurus baby?’ hahahaha…
Selama ini yang ada di pikiranku, ‘yaelaahhh.. ngurus diri sendiri aja masih repot, gimana caranya ngurus suami plus anak??’
Langsung kutepis dengan percaya bahwa semua ada saatnya, ada waktu di mana memang aku harus mengurus anak… Dan di saat itu aku pasti sudah diperlengkapi dengan berbagai hal yang membuatku siap.. ;) ;)
Tapi melihat banyak teman, apalagi yang cowok, menikah di usia sebelum 25 tahun tetap membuatku tak berhenti berdecak kagum. Apalagi saat cowok yang selama sekolah memiliki track record panjang sebagai ‘preman’ sekolah, akhirnya menjadi seorang ayah. Langsung muncul satu kalimat di otakku, don’t judge the book by its cover!

Mereka yang kuanggap bandel dan biang kerok semasa sekolah, atau bahasa gaulnya ‘pecicilan’, ternyata berani untuk berkomitmen dalam ikatan pernikahan. Salut! :)
Aku sempat melihat updated status dari teman ‘preman’ku semasa sekolah: “Akhirnya berhasil berhenti merokok, demi si kecil…”
Simple but touching
Beberapa saat aku terpaku membaca satu kalimat itu. Antara tak percaya dan takjub.
Mengingat masa-masa sekolah, rasanya sulit percaya dia akan menjadi seorang ayah yang penuh kasih.
Tapi membaca statusnya itu, membuatku percaya bahwa setiap orang mampu berubah.
Aku semakin percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik atas dasar kasih.
Semakin yakin bahwa ada hati yang penuh kasih di balik penampilan sangar seseorang.
Semakin yakin bahwa seorang ayah akan memberikan yang terbaik bagi anaknya, sama seperti ayahku yang selama ini telah mengasihiku dan selalu memberikan apa pun yang terbaik untukku…
Juga sama dengan Bapaku yang selalu penuh kasih. Dia yang selalu bersamaku, menyertaiku, menjagaku.
Dia yang tak pernah berhenti memberikan kasihNya kepadaku juga kepada kita semua.
Kalau seorang bapak di dunia, yang mungkin tampak sangar atau pecicilan bisa mencintai anaknya dengan luar biasa, apalagi Bapa sempurna yang di surga…
He must love us unconditionally, more than anything..


Kasih Putih

Minggu lalu, aku mendengarkan radio favoritku. Menjelang tengah malam, rasanya sangat pas mendengarkan lagu slow…  Lumayan mengantarku ke gerbang mimpi.. hehehe..
Tiba-tiba kudengar sebuah lagu. Tak terlalu familiar, tapi pernah sangat lekat di telingaku. Aku terus memutar otak demi mendapatkan petunjuk di mana aku pernah mendengar lagu tersebut. Setelah beberapa saat akhirnya aku mendapat secercah ingatan.
Aku pun melayang ke 1 dekade lalu… Yup.. Masa ketika aku SMP atau SMA. Tak ingat kapan pastinya. Tapi yang pasti telah 10 tahun setelah kudengar dan menyukai lagu tersebut.. (jadi bisa ditebak yah umurku sekarang.. hahahaha..)
Lagu dari boyband dalam negeri. Aku bukan fans berat mereka. Aku hanya menyukai lagu mereka, terutama liriknya… Lirik dan iramanya yang membuatku jatuh cinta pada lagu ini. Aku lupa di mana pertama kali aku mendengar lagu ini. Yang aku ingat, saat itu aku tak pernah tahu pasti judul lagu ini. Hanya tahu penyanyiku. Aku cari-cari di internet, tapi tak pernah ketemu. Entah saat itu download lagu belum secanggih sekarang atau aku yang kurang canggih.. hahahaha…
Daann… Aku baru menemukan file lagu tersebut minggu lalu, setelah kudengar di radio favorit. Ternyata sekarang dengan mudah kutemukan.. Haiihhh.. Mengapa harus menunggu selama itu?? ;P

Inilah lagu yang kucari-cari selama hampir 10 tahun.. *agak lebai yah.. hihihi…

Dalam dunia ini banyak yang tiada mengerti
Hidup yang dijalani mesti berbagi

Dalam cinta kasih kita bersama berdiri
Bergenggaman jemari menyatukan hati

Dia berikan kepada seluruh manusia kasih sayang
karena kita semua tiada berbeda

*
Bila kau mau mengerti
cinta kasih tak memilih
Kau dan aku, kita semua sama
Bila kau mau berbagi
apa lagi yang dinanti
kasih putih karunia sejati


Pernah tahu lagu itu? Lagu dari boyband ME, di tahun 90an akhir.. ;P
Lagunya sederhana, tapi justru itulah yang membuat aku selalu mengingat lagu ini. Tak hanya iramanya yang nikmat, tapi liriknya juga sangat bagus. Liriknya mengingatkan kita semua akan indahnya berbagi. Betapa indahnya berbagi dengan sesama kita.
Mungkin kita tahu dan sadar akan indahnya berbagi. Tapi berapa banyak dari kita yang tak hanya sekedar sadar, tapi dengan sepenuh hati menjalankan kegiatan berbagi?
Bahkan aku pun sering lupa untuk berbagi. Seringkali yang ada di benakku adalah tentang diriku, hidupku, kepentinganku, atau kebutuhanku. Orang lain?? Nanti dulu!
Uppss…
Kenapa ya harus nanti dulu??
Seringkali karena kita merasa seperti ini:
‘boro-boro mikirin orang laen deh, ngurus diri sendiri aja belum beres’
‘gue aja masih butuh banyak hal, gimana caranya gue bisa berbagi??’
‘apa yang mau gue bagikan, orang gue aja masih kekurangan’

Hohoho.. Sering merasa seperti itu? Sama dunkkk…
Aku pun seperti itu.. Sering berpikir bahwa berbagi adalah kegiatan yang bisa dilakukan setelah aku memiliki kelimpahan.
Tapi melalui lagu Kasih Putih tersebut aku tersadar, berbagi bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, kepada siapa. Berbagi tak selalu harus dalam bentuk barang besar atau berharga. Tanpa kita sadari, setiap hari kita bisa berbagi.
Ada KASIH yang bisa kita bagikan setiap detiknya, kepada siapa pun di sekeliling kita.
Bagiku, cara paling sederhana untuk berbagi kasih adalah dengan tersenyum.
Hayoooo… Seberapa sering kita memulai hari dengan wajah merengut???
Apalagi hari Senin.. Pasti semua wajah terlipat-lipat tanpa sebab.. hehehe…
Aku sendiri percaya hanya melalui senyuman, kita dapat menjadi berkat bagi orang lain. Jadi tak perlu berpikir muluk untuk mulai berbagi kasih.
Just keep smiling…
Setelah itu, mari rencanakan banyak hal untuk berbagi kasih…
Karena hidup yang kita jalani adalah tentang berbagi… :)


Ini lagu Kasih Putih, silakan dinikmati.. Bukan video ya.. :)


Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts