Skip to main content

Posts

Showing posts from 2011

Catatan Kecilku

Aku berjalan sendirian, sore ini, di kawasan pusat Ibukota. Kawasan elit yang tak pernah sepi bahkan sampai lewat tengah malam. Sengaja kuparkir mobil di gedung parkir sebuah mall. Lalu kulangkahkan kaki menyusuri trotoar panjang ini. Di kiri kulihat jejeran rumah mewah yang hampir tak terlihat pintunya karena terhalang oleh pagar super tinggi. Hanya sesekali aku dapat melihat dari sela pagar, beberapa mobil mewah terparkir rapi di garasi. Tak salah memang bila kawasan ini disebut elit. Sudah pasti bukan sembarang orang yang mendiami rumah-rumah tersebut. Tapi rasanya bukan Ibukota bila tak ada terlihat keberagaman. Setelah menyelesaikan 1 trotoar panjang, kuputuskan untuk menyeberang jalan, berpindah ke sisi lain. Ternyata di seberang jejeran rumah-rumah mewah tadi, terdapat lapak-lapak makanan yang menjajakan berbagai jenis kuliner menarik dengan harga lapak pula. Tak hanya puluhan lapak makanan yang ada di sepanjang jalan ini. Kulihat ratusan terompet bergelantungan di pinggir jalan,…

Natal Tanpa Salju

Beberapa hari menjelang Natal, aku masih mencari suasana yang biasanya kental dengan kehangatan dan sukacita.
Umm… Rasanya Desember kali ini aku tak berhasil mendapatkan suasana khas tersebut. Hari-hari berlalu begitu saja. Tak ada yang istimewa. Hingga menjelang tanggal 20an, hari-hari di bulan Desember ini masih sama seperti hari-hari lain. Mungkin yang mendukung khasnya bulan Desember hanyalah rintik hujan yang turun setiap malam dan pernak-pernik Natal yang bisa ditemui di mall-mall. Selebihnya, hari-hariku terasa tak istimewa. Padahal aku mengharapkan suasana yang syahdu dan hangat. Tak pernah berhenti aku membayangkan suasana menyambut Natal seperti yang sering kulihat di televisi.
Mengenakan topi, baju hangat, dan sepatu boot, aku berjalan di keramaian kota diiringin titik-titik salju. Kulihat ribuan lampu berkelip di sepanjang jalan. Ditambah kelompok musik yang memainkan instrument Natal. Haahhhh…. Impianku yang tak pernah lenyap.
Entah kapan dan di mana dapat kulalui suasana Natal …

Sederhana

Andai bisa kuungkap semua ini Andai mampu kucurahkan hati ini Andai dapat kumengerti rasa ini Andai sanggup kupahami cerita ini
Aku hanya ingin membaca apa yang tertulis di hatiku saat ini Aku hanya ingin mendengar apa yang degup jantungku suarakan Aku hanya ingin mengerti apa yang terpampang di otakku saat ini Aku hanya ingin melakukan apa yang perasaanku katakan
Mengapa semuanya menjadi begitu rumit? Mengapa semuanya tak lagi sederhana seperti bayanganku? Mengapa semuanya berlarian tak tentu arah? Mengapa semuanya jauh dari harapanku?
Inginku sangat sederhana, hanya agar semuanya menjadi lebih sederhana.

Tersenyumlah, Teman

Satu hal paling sederhana di hidup ini adalah tersenyum. Ya setidaknya itu menurutku pribadi. Tapi rasanya memang pantas bila tersenyum adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan siapa pun di dunia ini. Tak pernah ada larangan untuk tersenyum. Tak pernah ada biaya yang dikeluarkan untuk tersenyum. Di mana pun, kapan pun, rasanya tersenyum dapat dengan mudah dilakukan. Jadi sebenarnya, tersenyum hanyalah sesederhana itu. Tapi masalahnya, tak semua hal di hidup ini mampu membuat kita tersenyum. Mau tak mau, terima tak terima, aku pun sadar bahwa ada saat untuk tersenyum, ada pula saat untuk menangis. Ada saat untuk tertawa, ada pula saat untuk marah.
Pagi hari, saat memulai aktivitas, aku selalu berkata pada diriku ‘mari mulai hari ini dengan tersenyum!’. Aku pun selalu berusaha membagikan senyumku kepada siapa pun yang aku temui, terutama orang-orang yang kutemui di kantorku. Tapi nyatanya, tersenyum yang di awal kuanggap sangat sederhana, menjadi sesuatu yang sangat berat.
Yup! Menjadi ber…

39

Aku terlalu mengasihimu… Aku terlalu memujamu… Dan aku terlalu takut kehilanganmu…
Karena bersamamu aku menemukan kehidupan. Karena bersamamu aku menemukan cahaya. Karena bersamamu aku merasakan damai. Karena bersamamu aku merasakan cinta.
Happy 39th Lovely Day, dear Larry! You’re still the best!

When My Little Dreams Come True

Kata orang, jangan pernah takut untuk bermimpi.
Kata pepatah, taruhlah mimpimu setinggi bintang di langit. Kata lagu, mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Kataku, mimpi adalah sesuatu yang pasti akan melengkapi keindahan hidup. Aku yakin kita semua pasti pernah bermimpi, atau malah ada orang yang selalu bermimpi saat tidur. Tapi yang kumaksud adalah mimpi tentang keinginan, cita-cita, atau harapan. Seperti anak kecil yang bila ditanya, ‘Nanti sudah besar mau jadi apa?’ akan menjawab, ‘Dokter!’ ‘Pilot!’ ‘Penyanyi!’ Atau lebih sederhananya, apa yang menjadi keinginan atau kerinduan kita. ‘Aku ingin memiliki sebuah rumah.’ ‘Aku berencana menikah 3 tahun lagi.’ ‘Aku berharap memiliki motor.’
Banyaakkkk sekali hal yang menjadi keinginan kita. Ya, itulah mimpi. Tanpa kita sadari, setiap saat hidup kita selalu dipenuhi dengan mimpi. Masalahnya hanya pada bagaimana cara mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Tak jarang orang yang hanya menyimpan mimpi itu di pikiran, tanpa melakukan apa pun unt…

Your Day

Happy Birthday, my dear Larry, who completes me with his amazing love…
I pray to God.. May He lead you through all the ways..
I pray to God.. May your whole life fulfilled with love, joy, and blessing…

Dengarlah!

Pernah merasa tidak didengarkan? Atau dalam suatu pembicaraan, kita merasa tidak diperhatikan oleh lawan bicara? Rasanya pasti sangat tidak mengenakkan. Kita pasti kesal saat lawan bicara yang kita ajak bicara malah asyik sendiri atau sibuk dengan gadget pribadinya. Lalu, bagaimana dengan kita sendiri? Pernahkah kita juga mengacuhkan orang lain yang sedang berbicara pada kita? Pernahkah kita merasa lebih tahu dan segera memberikan solusi saat ada teman yang curhat kepada kita? Atau malah kita tak sadar telah sering melakukan hal-hal tersebut? Minggu lalu aku berkesempatan mengikuti sebuah training. Salah satu sesinya membahas tentang ‘Mendengarkan dan Didengarkan’. Dan di sesi tersebut aku menemukan sebuah kutipan yang sangat bagus, yang pastinya menyadarkan aku untuk selalu mendengarkan. Kutipan ini menyadarkan aku untuk tidak selalu ingin didengarkan tapi lebih mendengar dan memahami keinginan orang lain.
Kalau saya minta Anda dengarkan dan Anda malah menasihati saya, Anda tidak memberika…

38

Tak pernah ada yang terlalu mudah dalam menjalani sebuah hubungan… Tak pernah ada yang terlalu sederhana dalam menghadapi rumitnya sebuah hubungan… Tak pernah ada yang berjanji bahwa cinta akan selalu bertaburkan bunga… Tak pernah ada yang berjanji bahwa perjalanan cinta akan selalu mulus tanpa kerikil… Tapi di hidupku, pernah ada seseorang yang berjanji untuk selalu berada di sisiku, berjuang menghadapi lika-liku cinta… Tak pernah kulupakan janji itu, pun sampai 38 bulan setelah janjinya terucap. Aku bersyukur untuk kehadirannya dalam hatiku, dalam hidupku. Aku bersyukur untuk setiap kisah yang boleh kurangkai bersamanya. Aku bersyukur untuk cinta ini… Aku bersyukur untuk 38 bulan penuh cerita cinta… Terima kasih, cinta… untuk segalanya…
HAPPY LOVELY DAY, DEAR… :)

Tak Pernah

Tak pernah kupinta dilahirkan seperti ini…
Tak pernah kumohon tinggal di tempat seperti ini… Tak pernah kuingin hidup tak menentu seperti ini… Kupandangi dinding rumahku, mungkin tak layak disebut dinding. Sekat tipis sepertinya lebih cocok. Sekat yang melindungiku dari panas dan hujan, meskipun di siang hari akan membuatku kepanasan dan di waktu hujan akan menambah suara berisik yang mengganggu. Tak pernah kutahu bentuk gembok pagar karena nyatanya memang tak pernah kubutuhkan benda itu di rumah sangat sederhanaku ini. Jangan berharap ada pembagian ruang yang jelas di rumah ini. Hanya ada satu ruang yang dipakai untuk semua kegiatan. Bahkan anak-anakku harus dimandikan di depan rumah, tanpa pintu, dan pasti dilihat semua orang yang melintas. Ya, inilah rumahku, rumahku bersama keluarga. Aku, istri, dan 4 orang anak yang masih di bawah 10 tahun. Tak berani kuharapkan lebih dari apa yang kumiliki saat ini. Walau hanya memiliki rumah bersekat seng dan tak berpintu, aku sangat bersyukur. Walau ‘r…

Terimakasih, Kawan..

Mungkin ini jalan cerita kita… Melalui waktu yang teramat singkat dalam kebersamaan. Ingin rasanya memohon agar diberi waktu yang lebih panjang,
untuk kita terus merangkai cerita. Kita pernah melompat dalam tawa,
berlari dalam suka, bercanda dalam bahagia. Ah, semua itu terlalu indah untuk diakhiri… Rasanya masih terlalu sedikit kisah yang pernah kita rangkai. Aku tak pernah mengerti tentang arti mengucap ‘selamat tinggal’ sampai akhirnya saat ini tiba. Saat di mana semua harus kita sudahi setelah waktu teramat singat yang harus berlalu. Sedih? Ummm… Bisa dibilang seperti itu.. Kehilangan? Ummm… Sepertinya sangat… Tapi aku yakin hidup masih terus berputar hingga nanti ada saat di mana kita ‘kan berjumpa lagi. Terima kasih, kawan… Untuk waktu singkat yang tak mungkin kulupakan… Amat bersyukur untuk waktu dan kebersamaan kita. Setidaknya dalam waktu yang singkat ini, aku belajar banyak hal. Meski semuanya tak akan pernah sama lagi,
aku yakin kemarin kita telah melalui hari-hari berharga.

His Love

Kata orang, jelang seperempat abad memang waktu yang pas untuk menikah dan berkeluarga. Memang ternyata banyak temanku yang menganut paham seperti itu. Banyaaaaaakkk teman yang menikah di usia muda (setidaknya menurutku yaaa… hehehe..), antara 23 hingga 25 tahun. Yup… Bagiku masih terlalu muda untuk menikah di rentang usia 20an awal. Mungkin karena aku belum siap dan otakku yang masih dipenuhi main, main, dan main.. :D Mengurus diri sendiri dan menikmati hidup masih menjadi prioritasku ketimbang meladeni suami.. hehehe.. Tapi nyatanya tak semua orang sepertiku… Terbukti dari banyaknya wedding invitation dari teman-teman sepermainanku, yang artinya teman yang usianya sama denganku. Tak ada yang salah mengenai umur pas untuk menikah. Kapanpun pasti menjadi waktu yang pas bagi kita yang menjalaninya.. :) Pun saat satu per satu dari mereka menghasilkan buah hati nan imut.. Langsung berpikir, ‘gue sanggup ga yaa ngurus baby?’ hahahaha… Selama ini yang ada di pikiranku, ‘yaelaahhh.. ngurus diri …

Kasih Putih

Minggu lalu, aku mendengarkan radio favoritku. Menjelang tengah malam, rasanya sangat pas mendengarkan lagu slow…  Lumayan mengantarku ke gerbang mimpi.. hehehe.. Tiba-tiba kudengar sebuah lagu. Tak terlalu familiar, tapi pernah sangat lekat di telingaku. Aku terus memutar otak demi mendapatkan petunjuk di mana aku pernah mendengar lagu tersebut. Setelah beberapa saat akhirnya aku mendapat secercah ingatan. Aku pun melayang ke 1 dekade lalu… Yup.. Masa ketika aku SMP atau SMA. Tak ingat kapan pastinya. Tapi yang pasti telah 10 tahun setelah kudengar dan menyukai lagu tersebut.. (jadi bisa ditebak yah umurku sekarang.. hahahaha..) Lagu dari boyband dalam negeri. Aku bukan fans berat mereka. Aku hanya menyukai lagu mereka, terutama liriknya… Lirik dan iramanya yang membuatku jatuh cinta pada lagu ini. Aku lupa di mana pertama kali aku mendengar lagu ini. Yang aku ingat, saat itu aku tak pernah tahu pasti judul lagu ini. Hanya tahu penyanyiku. Aku cari-cari di internet, tapi tak pernah kete…