Little Note for My Hiero

Minggu lalu, aku berkumpul dengan para jebolan persekutuan doa (PD) suamiku.. (cieee.. sekarang punya suami! haha..)
Nama PDnya tak perlu disebut ya, karena kali ini khusus tentang PDku..
Yes! Yakin donkkk klo ini PD milikku.. hahaha.. I belong to this PD.. :D
Dalam doanya, seorang teman berkata, ‘Komunitas di mana kami menghabiskan hampir seluruh masa muda kami, komunitas di mana belajar banyak hal, komunitas di mana kami diubahkan menjadi lebih baik. Tanpa komunitas ini, kami tidak mungkin menjadi kami yang sekarang.’
Dalam pejamnya mata, pikiranku melayang. Dalam hati aku berkata, ‘Aku juga punya komunitas seperti itu!! Aku juga menjadi diriku sekarang karena komunitas ini!”
Langsung muncul sebuah ide untuk kutulis di sini..
Dan kurasa ini saat yang tepat untuk menulis tentang komunitasku itu.

Pernah mendengar kalimat ini?
“Ujung tombak gereja adalah anak muda.”

Aku amat sangat setuju dengan kalimat itu. Anak muda yang menggerakkan gereja. Anak muda yang membangun gereja.
Dan aku sangat bersyukur, bahkan bangga, karena masa mudaku kupersembahkan untuk gereja.
Masa mudaku bukan begajulan di pinggir jalan atau di ruangan gelap penuh kelap kelip dan bersuara jedag jedug.
Masa mudaku sangat jauh dari rokok, obat terlarang, ataupun pergaulan bebas.
Masa mudaku bersama orang-orang pilihan Tuhan yang membuatku bertumbuh.
Aku berani berkata, masa mudaku adalah masa yang indah.. :)

Aku, anak muda perempuan, yang lulus dari SMA tersohor di daerah Jakarta Pusat, yang pergaulannya sudah dapat ditebak. Tapi aku tetap menjadi cupu, yang memilih untuk melalui ‘jalan’ yang lurusssss..
Masuk kuliah, di semester awal, aku menjadi mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang kuliah pulang.. hahaha..
Sampai di semester kedua inilah aku ‘terjerumus’ ke dalam pergaulan yang membuat hidupku menjadi tak pernah sama lagi. Ini saat di mana aku mengenal komunitasku.

My community is my teacher..
My community is my home..
My community is my hero..
My hero is my Hiero..

Persekutuan Doa Karismatik Katolik St. Hieronimus.
Menjadi komunitas awal yang membentukku.
2005, masuk sebagai gadis cupu sampai akhirnya menjadi gadis dewasa yang mengerti tentang banyak hal.
Tanpa rencana, tanpa keinginan, tanpa paksaan, aku menjadi pelayan di PD Hieronimus.
Sebuah PD kampus yang nasibnya sama seperti PD kampus lainnya. Yang masa aktif pelayannya hanya sekitar 3-4 tahun.
2008, dengan amat sangat terpaksa, aku menyudahi langkahku di PD Hieronimus ini.
Ada sebuah kesedihan mendalam saat harus meninggalkan komunitas ini. Ingin rasanya terus berada di kampus agar dapat terus aktif melayani.
Kadang aku berpikir mengapa Tuhan menempatkan aku di komunitas ‘singkat’ ini.
Empat tahun memang bukan waktu yang singkat, tapi itu rentang waktu yang kurang panjang bagiku untuk terus melayaniNya dalam sebuah komunitas yang telah menjadi keluarga.
Ya, kutinggalkan pelayananku di PD Hiero, tapi aku tidak meninggalkan keluargaku.
Aku menemukan keluarga!
Keluarga yang bersama mereka, aku menjadi diri sendiri.
Keluarga yang bersama mereka, aku dapat beradu cela tanpa sakit hati.
Keluarga yang bersama mereka, telah kuukir ribuan kenangan berharga.
Keluarga yang sejak dulu hingga sekarang masih ada..

My community is my teacher..
My community is my home..
My community is my hero..
My hero is my Hiero..

Hari ini, 30 September 2014, ingin kuucapkan,

SELAMAT ULANGTAHUN 22, PDKK HIERONIMUS

Terimakasih untuk semua hal yang pernah kau berikan padaku.
Pelajaran berharga tentang hidup.
Cerita tentang persahabatan dan cinta.
Kisah tentang ketulusan dan arti melayani.

Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk menghabiskan masa mudaku.
Tawa dan kecewa pernah kukecap bersamamu.
Bangga dan gagal pernah kualami bersamamu.
Sukacita dan tangis pernah mengisi hari-hari mudaku.
Tapi satu hal yang kubangga, aku melewati itu semua bersamamu.
Sebuah tempat, komunitas, keluarga, rumah yang akan selalu menjadi bagian hidupku.

Tanpamu, tidak akan pernah ada aku yang sekarang.
Aku yang berani tampil di muka umum.
Aku yang menjadi banci mic, tapi tentu saja dengan kemampuan menyanyi dan public speakingku yang terasah.
Aku yang mengerti tentang melayani dan mengampuni.
Aku yang mengerti tentang arti cinta.

Sekali lagi, Selamat Hari Jadi, PDKK Hieronimus…
You are my Hero, you will always be my Hiero..
Aku akan selalu merindukanmu.. umm.. termasuk merindukan saat mengangkat bangku-bangku Chitose merah di Kapel.. :)


















Tying Our Knot

Gaun putih berekor panjang itu telah menjadi impianku sejak kecil. Melihat foto atau menyaksikan banyak pernikahan semakin membuatku berangan tentang saat bagiku. Saat di mana aku berjalan berdua menuju altar, mengenakan gaun indah berekor panjang dan menggandeng pria pujaan hatiku.
Itu yang selalu kuangankan.
Bertanya kapan saat itu tiba, bertanya pria manakah yang akan mendampingiku menuju altar dan juga mendampingi sisa hidupku.
Bertanya dalam hati, apa rasanya duduk berdua tepat di depan altar?
Apa rasanya mengenakan gaun besar berekor panjang?
Apa rasanya mengucap janji pernikahan di hadapan begitu banyak orang?
Apa rasanya berada di atas pelaminan?
Apa rasanya menikah?
Apa rasanya menjadi seorang istri?

Veliska kecil telah memiliki angan tentang hari pernikahannya. Hari besar bagi setiap orang, terutama wanita.

Puluhan tahun berangan dan menyimpan mimpi itu. Hingga akhirnya saat 6 tahun lalu aku dipertemukan dengan sosok pria yang bersedia mendampingiku, merangkai cerita indah, seakan membuat mimpiku mendekati nyata.
Nyatanya cerita itu tak selalu indah. Aku dan dia harus melewati perjalanan 6 tahun yang naik dan turun, yang penuh tawa dan juga airmata. Tapi siapa sangka perjalanan panjang itu berujung manis.

7 September 2014
Tepat di hari di mana dia ‘menembak’ku, kami berjanji untuk mengabdikan diri selamanya.
Hari ini, 6 tahun lalu, dia menggenggam tanganku dan berkata, “Would you be my girlfriend?”
Hari ini, 6 tahun setelah hari itu, dia menggenggam tanganku dan berkata, “Aku memilih engkau menjadi istriku yang sah dan satu-satunya mulai hari ini hingga maut memisahkan kita.”
Rasanya…. Heemmmm… Unspeakable!!
Segala mimpi, angan, penantian, dan perjuanganku menjadi nyata.
Berbalutkan gaun putih nan indah, persis seperti mimpiku, dan berhadapan dengan pria gagah nan tampan, di hadapan altar kudus, disaksikan pastor, orangtua, keluarga besar, dan juga sahabat, rasanya aku menjadi wanita paling bahagia di dunia.. :)
Yes! I’m officially Mrs. Larry! :) :)
Larry berhasil menjadi pacar pertama dan terakhir bagiku. Hanya dia yang berhasil mengisi hari-hariku dengan indahnya cinta. Hanya dia yang berhasil membuatku menyerahkan sisa hidupku di tangannya.

Perjalanan panjang yang harus kami lalui membuatku tak henti bersyukur atas hari indah ini. Segala bentuk dukungan yang kami peroleh dari keluarga juga sahabat terbaik membuatku kehilangan kata-kata. Hanya mampu berkata, “Thank You, Jesus!”

7 September 2008, resmi berpacaran
7 Juli 2013, resmi bertunangan
7 September 2014, resmi menikah

Perjalanan yang terlihat mudah, padahal tidak.. hehe..
Sejak resmi ‘diikat’, aku dan Larry memutuskan untuk mengurus sendiri setiap detil pernikahan kami. Aku tahu tak mudah dan pasti akan sangat repot. Tapi aku berpikir, ini momen sekali-seumur-hidupku jadi aku mau menikmatinya. Menikmati segala keribetan, segala emosi yang bercampur jadi satu.
Benar saja, printilan pernikahan itu membuatku pengen garukkkk tembok!! Sampai kami berkata, “Bingung dah ada orang yang nikah berkali-kali. Ini satu kali aja repotnyaaa minta ampun!” hahaha..
Memilih vendor bukan hal sederhana. Tipe melankolis perfeksionis seperti aku, ga ada tuh datangi 1 vendor trus langsung deal. Kudu keliling dulu cari beberapa pilihan.. hahaha…
Mengurus berkas pernikahan sipil dan gereja pun menyita waktu dan tenaga. Bersyukur aku dan Larry berada di bawah naungan gereja Katolik. Bolak balik mengurus surat gereja pun kami lakukan sendiri. Memenuhi berbagai persyaratan yang diajukan oleh 2 pihak gereja berbeda (St. Anna dan Maria Kusuma Karmel) semakin menambah keribetan.
Petualangan semakin seru di sisa 1 bulan terakhir.
Mendekati hari H, aku malah kehilangan euforianya. Mungkin karena persiapan yang kami lakukan terlalu lama. Lebih dari 12 bulan. Dari mulai excited sampai bosan, sampai aduuhh buruan kelarr dahh.. :)))
Jadi bagi kalian yang mau menikah, saranku persiapannya 6 bulan saja.. hahaha..
Di 1 bulan terakhir ini pun rasanya seperti neraka. Komunikasiku dengan Larry yang selalu dibumbui emosi plus bayar-bayaran vendor, membuat kami serasa diporotin hingga bangkrut.. hahaha.. Pokoknya adaaaa ajaa yang bikin spanning, mulai dari hal super printilan hingga hal besar.

23 Agustus 2014, sangjit day plus misa syukur menyambut hari H pengantin. Ini juga menambah keseruan persiapan kami. Heboh beli baki merah lah, beli isinya baki lah, pesen makanan lah.. Haiissshhh…

Sampai di H-1 aku masih berheboh ria. Ga ada deh istilah pingitan.. haha.. Penganten koboi!
Tapi di H-1 ini aku berpasrah diri dan mulai memasuki masa menikmati kawinan.. :))
Sabtu malam kuhabiskan dengan 2 bridesmaidku. Diana dan Livia. Duo koplak yang berhasil membuat suasana malam itu menyenangkan. Ketawa ketiwi, nyiapin ini itu untuk esok harinya..
Hari itu, saat terakhirku sebagai single. Ada rasa tak percaya kalau esok hari aku akan menikah. Masih ga percaya! Masih berpikir, beneran ni besok kawin? Beneran ni besok pake gaun pengantin? hahaha..

Puji Tuhan, aku dapat tidur dengan baik dan benar hingga saat jam 5 morning call, aku segarrrr…

Here we go! D-Day
Saat jam 6, makeup artist datang dan aku pun mulai divermak, masih berpikir.. Wuaaaa… Hari ini akhirnya tiba! Beneran ya ini hari gue?? Beneran ni hari ini gue jadi ratu?? Masih ga percayaa aja loh! Feel so amaze!! Maakkkk… Ayee kawinnn maakkkk!! hahahaha…

Seluruh prosesi dari pagi hingga malam berjalan lancarrr caarrrrr…
Apa yang aku khawatirkan tak jadi nyata.
Sampai hari ini, aku masih merasakan euphoria hari H ku itu. Kangen balik lagi ke tanggal 7 September 2014. Kangen pake gaun putih lagi, kangen dimakeup, kangen foto-foto cantik.. hehehe..

You know what, WE’RE SO BLESSED!!!
Aku menulis blog ini karena aku tak tahu harus memberitahu dunia lewat apa. Aku ingin katakan kepada dunia bahwa hari itu menjadi hari yang begitu penuh berkat bagi keluarga kami, terutama bagi aku dan Larry.

Dikelilingi teman, sahabat, dan keluarga besar, hari itu menjadi sempurna.
Berjalan menuju altar, bangku gereja masih banyak yang kosong. Tapi saat Romo Adi menyuruh aku dan Larry berdiri dan menghadap umat, kulihat bangku gereja penuh sampai belakang. Banyak yang datang untuk mendoakan kami! How can I tell you about what I felt?
Rasanya begitu luar biasa saat melihat banyak orang yang datang ke gereja untuk memberikan doa, dukungan, dan restu bagi kami. Rasanya… lagi-lagi unspeakable!!

Saat resepsi, melihat banyakkkk orang yang hadir, aku mulai ketar-ketir. Yang kupikirkan: makanan cukup ga, ruangan bakal jadi sempit ga ya.. haiiisshhhhh…
Puji Tuhan, Dia menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik, dengan begitu detil, dengan begitu sempurna.
Hari itu telah Dia jadikan sempurna. Seolah Dia berkata, “Vel, apa sih yang lo khawatirkan? Gue uda siapin semuanya buat lo!”
Itu yang kurasakan..
Kehadiran seluruh keluarga besar membuatku dan Larry kembali mengucap syukur. Mereka datang dari jauh, Surabaya, Cirebon, Australia, dll.
Kami benar-benar merasa dicintai.
Makanan super duper berlebihan.. Sampai lebih dari seminggu, di rumah orangtua kami menunya masih makanan catering.. hahaha..
Hampir semua tamu memuji makanannya yang enak. Dan venuenya cukup untuk menampung seluruh tamu. Jadi ga pake tuh senggol pantat.. hahaha..
Pokoknya serba passss.. PAS!
Waktu Tuhan selalu pas. Berkat Tuhan apalagi, selalu benar-benar pas.. :)

Sekali lagi kutulis, hari itu Dia jadikan sempurna. Hari itu Dia jadikan indah dan penuh cinta.
Persis seperti doaku di hari-hari belakangan.
“Tuhan, berikan kami kesehatan dan kekuatan agar pada hari H, 7 September 2014, kami dapat bersukacita. Dan biarlah hari itu menjadi hari yang penuh cinta bagi aku dan Larry, dan juga bagi seluruh keluarga dan tamu yang hadir.”

He made it!!!

Kunaikkan syukur atas terkabulnya doa Novena 3 Salam Maria dan Novena Hati Kudus Yesus.
Tiada yang lebih indah saat berkat Tuhan nyata kurasakan.

Ingin kusewa stasiun TV untukku mengucapkan terimakasih agar seluruh dunia tahu bahwa aku merasa diberkati, aku sangat berterimakasih atas segala doa, dukungan, kehadiran, restu, dan apapun itu yang aku dan Larry terima.

Terima kasih untuk kedua papi mami, untuk adik-adik.. atas segala cinta, dukungan, dan segala hal yang kalian lakukan bagi kami.
Terimakasih untuk keluarga besar kami.. atas kehadiran, doa, dan dukungan bagi kami.
Terimakasih untuk seluruh tamu yang hadir di gereja dan resepsi., :)
Dan terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat di hari H.
Hari itu tak akan jadi indah tanpa kalian.. :)

Lepas dari H, banyak oknum yang luar biasa, yang mendampingi aku dan Larry melalui persiapan yang juga luar biasa.
The bridesmaid: Diana, Livia, Indri
The groomsmen: Louis, Peter, Gery
Dan saudara-saudara Hieronimus.

Mereka sahabat-sahabat terbaik, yang selalu membuka telinganya untuk aku berkeluh kesah selama persiapan pernikahan ini. Mereka yang tak setiap hari kutemui, tapi mereka yang selalu ada di setiap saat.

Terimakasih, sahabat.. Untuk doa, cinta, dukungan bagi kami berdua.

To all of you..
Ini memang akhir masa pacaran kami tapi ini lebih kepada awal kehidupan cinta kami.
Doakan kami selalu.. kami ada juga karena kalian semua.. :)

Tulisan ini lebai? Rasanya tidak…
Yang belum nikah, kalian harus merasakan sendiri biar tau gimana rasanya.. Biar bisa langsung merasakan yang tadi kusebut ‘unspeakable’ di atas.
Biar kalian bisa merasakan indahnya berkat yang diterima saat persiapan hingga hari H pernikahan.
Biar kalian bisa merasakan luar biasanya berkat sebagai suami istri.. hahaha..

Yang sudah menikah pasti setuju denganku.. ;D

Once again, BIG BIG THANKS TO ALL OF YOU!! who made our day!!!
Love you all! J

Ada yang Ketagihan!

Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu.
Dan akhirnya tiba saatnya bagiku untuk menjadi pemazmur!!
Jeng jeenggg…
19 Juli 2104 menjadi hari bersejarah dalam hidupku saat aku menjadi pemazmur untuk pertama kalinya!
Catat! PERTAMA KALI!
Yup! Ini pertama kalinya aku menjadi pemazmur..
Ikut paduan suara sejak SD hingga SMA. Paduan suara menjadi suatu yang tidak asing. Ditambah aktif di persekutuan doa membuatku tidak asing dengan microphone dan juga tak lagi canggung untuk bernyanyi sendirian.
Tapi menjadi pemazmur adalah sebuah hal yang selalu kuhindari. Takut!
Takut nadanya melenceng ke mana-mana. Menurutku menjadi pemazmur itu sangat sulit. Sangat berbeda dengan bernyanyi lagu biasa. Haiyaaa.. Menyerah saya..
Tapi akhirnya kesempatan itu datang juga..
Dalam misa Reuni World Youth Day di KWI Cikini, aku pun menyanyikan mazmur.
Latihan sekitar 5 hari. Setiap hari kunyanyikan ayatnya. Dan hari H kupasrahkan diri..
Puji Tuhan! All is well!
My-very-first-time moment was going well!
Entah bagus atau berlarian nadanya, setidaknya aku sudah berusaha sebisaku. Dan setidaknya tidak ada yang protes.. hahaha..

Sekarang berharap ada kesempatan lain untuk bermazmur.. *ketagihan hahaha..

Contekan yang kufoto untuk latihan di rumah.. :D

My Heart Really Belongs to Them

Ini akan menjadi penutup rangkaian kata yang kubuat tentang Brasil.
Setelah hampir satu tahun setelah keberangkatan kami, akhirnya baru sekarang dapat kuselesaikan.. :)
Segala rasa, segala pengalaman telah kucoba tuangkan. Tapi aku pribadi masih merasa begitu banyak hal yang belum tertuang, begitu banyak hal yang bahkan tak bisa kuungkapkan melalui kata-kata.
Karena begitu banyak hal yang hanya bisa dilihat, didengar, dilakukan, dan dirasakan langsung..
Karena Brazil telah berhasil menduduki sebuah sudut di hatiku dan selamanya akan berada di situ.
Meninggalkan Rio de Janeiro, bukan berarti meninggalkan Brazil.
Kesempatan berharga dan tak terlupakan saat menginjakkan kaki lagi di Diadema, Sao Paulo.

30 Juli 2013, 4.30 pagi
Bis yang kami tumpangi meninggalkan gelapnya subuh Bras de Pina.
Selamat tinggal, Rio.. Terimakasih untuk waktu singkat yang begitu berharga..

Rasa lelah dan kantuk membuat kami semua langsung terlelap. Aku tahu ini akan menjadi perjalanan panjang. Rio menuju Diadema memakan waktu lebih dari 7 jam perjalanan darat. Kupejamkan mata dan melanjutkan tidur. Kukumpulkan energi agar setibanya di Diadema, fisikku kembali segar.

Kami sempat berhenti di sebuah gereja megah. Entah di daerah mana, yang pasti di tengah perjalanan panjang kami.
Bangun dari tidur, mataku disuguhi pemandangan gereja megah nan unik. Kami pun turun dengan disambut udara dingin.

Berikut foto-foto di gereja tersebut…





Setelah berkeliling gereja, perjalanan pun dilanjutkan. Lanjut tidur.. hahaha.. Aku memang orang yang sangat mudah tidur bila berada dalam perjalanan panjang.. :D

Beberapa jam kemudian aku pun terbangun, kusibak tirai di bis. Mataku menangkap pemandangan yang sangat familiar. Bangunan-bangunan khas dan jalanan yang naik turun. DIADEMA!!
Kami hampir tiba di Gereja Arnoldus Janssen! Mataku langsung berbinar-binar..
Dan saat bis benar-benar berhenti di depan gereja tersebut, ada rasa tak terkatakan di dalam hatiku..
Ahhh.. You are awesome, God!
Siapa yang menyangka bahwa kami semua diberi kesempatan untuk kembali lagi ke sini.
Siapa yang menyangka bahwa kami semua diberi kesempatan untuk bertemu papai, mamai dan keluarga di Diadema..
Rasanya… luar biasaaa..
Saat kulihat gereja sederhana tersebut. Saat kulihat beberapa orang telah berdiri di depan gereja untuk sekali lagi menyambut kami…
Unspeakable!!

Waktu menunjukkan sekitar pukul 15.00.
Mata yang masih mengantuk, juga lelahnya tubuh setelah duduk di bis sekitar 8 jam seakan tak ada artinya melihat apa yang ada di hadapanku..
Kami pun turun dari bis, tak lupa membawa serta carier raksasa yang tetap setia menemani kami.. hehehe..
Walau tak bisa kulakukan secara langsung, dalam hati aku begitu berterimakasih kepada sopir bis yang telah setia mengangkut kami mulai dari Diadema – Rio – Diadema, sendirian, tanpa asisten atau sopir pengganti. Sungguh sebuah perjalanan bis yang begitu mulus. A very big thanks, mister.. Muito obrigada!!

Seminggu meninggalkan tempat ini, ada rasa rindu teramat yang hinggap di hatiku. Dan tentu saja disertai rasa bahagia. Bagaimana aku tidak begitu takjub karena rencana awalnya kami memang tidak mampir ke Diadema, melainkan langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. Tapi Padre Ferdinand meminta kami untuk mampir sekali lagi bertemu dengan mereka.
Padre, tanpa diminta pun kami akan dengan senang hati sangat ingin kembali menyapa kalian semua.. dan itu benar terjadi.. What a great blessing!

Memasuki gereja sederhana nan nyaman, langsung kurasakan aura ‘keluarga’. Sebuah meja panjang telah disiapkan. Di atasnya terdapat begitu banyak roti keras dan sebuah panci besar berisi cream soup. Mungkin karena lapar dan lelah setelah menempuh perjalanan panjang, aku begitu lahap menyantap potongan roti keras yang diguyur sup kental bertopping ayam. GOSTOSO!!! Cream soup yang begitu nikmat!

Sambil menyeruput sup, kulihat satu per satu teman-temanku dijemput oleh keluarganya. Sejak bis tiba, mataku sudah berlarian mencari keluargaku. Tapi tak kutemukan hingga sup di piringku lenyap. Ah ke mana mereka? Pai… Mai...

Yang kutahu mereka semua memang bekerja dan hari ini kami memang tiba di hari dan jam kerja. Jadi wajar kalau aku masih belum dijemput…
Aku dan Karina hamper ‘diangkut’ oleh tetangga sebelah rumah saat kulihat sebuah mobil yang tak asing tiba di depan gereja. Mamai!!
Bahkan orang yang pernah kuanggap asing ini pun tak melupakan aku. Mama angkatku ini setia untuk menjemputku.. :)

Wajahnya berseri dan senang saat melihatku. Aku pun demikian.. Bergegas mamai menyuruhku naik ke mobil. Kami pun menuju rumah…
Tiba di rumah, kembali perasaan tersebut muncul. Perasaan takjub, perasaan luar biasa, perasaan… ah.. tak terkatakan.. Ini semua terlalu ajaib.
Seminggu yang lalu aku menangis saat harus meninggalkan rumah ini, karena kupikir itulah saat terakhir aku bisa berada di rumah tersebut. Tapi hari ini, aku diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di sini, di tempat di mana aku merasakan kehangatan, ketulusan, dan juga cinta. A lovely unforgettable place!

Mungkin bisa dibilang aku agak kurang sopan karena waktu yang kumiliki di rumah ini hanya sedikit. (Udah cuma mampir sebentar, pake numpang mandi pula.. hihihi..)
Maafkan aku pai mai, karena tak punya waktu lebih untuk berlama-lama di rumah kalian.. :(
Tapi hebatnya, mamai tetap menyambutku. Satu set handuk dan sabun batangan baru telah disiapkan untukku mandi.
Aku memilih mandi sore itu karena malamnya aku akan langsung terbang dari Sao Paolo – Istanbul – Singapore – Jakarta. Perjalanan panjang selama 35 jam, yang sudah pasti tanpa kesempatan untuk mandi.. :D


Selesai mandi, tea time!
Memang quality time lebih sering terjadi di meja makan. Pun saat ini, di sela waktu yang sangat singkat, aku masih berkesempatan duduk di satu meja berbagi cerita dalam 2 bahasa yang masih menjadi penghalang namun tetap menyatukan kami.. :)

Kopi susu dan cake yang begitu kurindukan

Meja makan yang menyatukan kami, lengkap dengan toples kayu dari Jawa dan taplak dari Papua.. :)

Sewaktu di Rio, saat berada di antrian panjang menuju Christo Redentor, aku dan Karina menyempatkan diri untuk menyetak foto-foto dan memasukkannya dalam frame. Foto-foto kami bersama pai, mai, Ariana, dan Diego. Hanya sebuah frame kenang-kenangan yang bisa kuberikan untuk mereka sebagai tanda terimakasih, walaupun itu tak sebanding dengan apa yang telah mereka berikan. Tapi setidaknya agar aku dan Karina diingat, bahwa aku pernah singgah di rumah dan juga hati mereka.. :)

Ini yang bisa kami berikan…

Oleh-oleh dari Rio hanya untuk mereka yang tercinta :)

Mereka yang kupanggil Pai Mai

Rumah dan keluarga yang penuh kehangatan

Saatnya pun tiba.. Saat di mana aku benar-benar harus meninggalkan rumah itu. Sampai tulisan ini kurangkai, 10 bulan setelahnya, aku masih dapat mengingat dengan jelas setiap sudut rumah itu.. Aku akan dan selalu merindukan rumah itu..

Diantar pai dan mai, aku pun kembali ke gereja. Menikmati makan malam dan kebersamaan untuk terakhir kalinya, sebelum kami semua kembali ke Jakarta.
Sukacita dan rasa kekeluargaan sangat terasa..
Malam itu menjadi malam di mana kami benar-benar menyatu sebagai satu keluarga.
Malam itu menjadi malam di mana kami menyadari bahwa ada satu hal yang bisa menyatukan segala perbedaan, yakni cinta..



Makan malam terakhirku di Diadema

You will always be my sister, Ariana.. Hug!

Obrigado por todas as coisas que vocĂȘ fez

Eu te amo, crianças

Malam itu malam terakhirku di Brazil..
Aku dan teman-teman harus kembali pulang ke Jakarta.
Mengingat izin tinggal yang cukup lama, rasanya tak rela untuk pulang.
Ingin rasanya menambah beberapa hari lagi untuk menikmati indahnya Brazil.
Tapi waktu yang berputar tentu saja tak bisa kuhentikan. Ada kota dan keluarga sesungguhnya yang menungguku.
Dua minggu di belakang yang sungguh penuh dengan kenangan indah.
Dua minggu di belakang yang akan terus kuingat sampai kapanpun.

Terimakasih, Brazil..
Terimakasih, Sao Paulo..
Terimakasih, Rio de Janeiro..

Terimakasih yang luar biasa untuk kalian semua..
Untuk pelajaran, pengalaman, kenangan, dan semua yang boleh kualami.
Untuk semua yang terasa begitu berharga
You will always live in a corner of my heart..
Satu doaku, agar suatu hari nanti ada kesempatan untukku kembali menjumpai kalian..

Dan ini yang terakhir yang mereka lakukan, sesaat sebelum bis meninggalkan gereja..

Love from lovely people :)


**
Saat tulisan ini kurampungkan, World Cup sedang berlangsung di Brazil. Di Jakarta, euphoria penggila bola sangat terasa. Di manapun dapat kutemui dekorasi atau tayangan tentang Brazil.
Ini yang membuatku semakin merindukan Brazil, merindukan keluarga nun jauh di sana.
Setiap hal yang menyinggung Brazil, pasti membawaku terbang kembali ke Sao Paulo dan Rio..
Ah.. How I miss those moments..



Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts