Skip to main content

Posts

I Left My Heart in Polska (Part Four)

Tak sedikit yang bertanya padaku, “Ngapain aja sih di sana?” dan aku biasanya agak kesulitan untuk menggambarkan apa yang aku lakukan selama rangkaian WYD. Mungkin kata-kata dapat menggambarkan kegiatannya. Tapi rasa itu tak bisa digambarkan.. Terlalu banyak rasa yang kami alami..
24 Juli 2016 Pagi keempat di Marki, aku mulai merasa seperti warga Polandia. Rutinitas yang menjadi kesukaanku. Bangun pagi, mandi dan bersiap, lalu menikmati sarapan yang disiapkan oleh papa. Pagi ini roti panggang isi ham, keju, paprika. Yang kulakukan setelah itupun sama seperti hari sebelumnya. Berjalan kaki menuju gereja ditemani oleh hangatnya sinar matahari dan sejuknya angin. Pemandangan yang juga sama, yang menjadi sesuatu yang kurindukan.



Hari Minggu ini kami awali dengan misa pagi di gereja, bersama dengan ratusan umat lainnya. Pilgrim Indonesia menjadi petugas misa, lektor, koor, pemazmur. Yang terakhir ini menjadi sebuah jebakan bagiku yang akhirnya menjadi cerita lucu. Kami diminta untuk mengisi k…
Recent posts

I Left My Heart in Polska (Part Three)

Kadang rasa rindu untuk menulis itu muncul tiba-tiba. Antara memang muncul kerinduan atau rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan yang sudah dimulai. Tulisan tentang Polandia baru kurampungkan 2 bagian, bahkan belum setengahnya. Bisa jadi bukan rasa rindu yang muncul, tapi rasa tanggungjawab.. hehehe.. Setelah beberapa bulan, niat baru muncul setelah tenggelam dalam kemalasan.. hahaha..
22 Juli 2016 Seperti pagi sebelumnya, aku disambut dengan sarapan khas Polandia. Tapi kali ini sedikit berbeda. Tak ada ham ataupun sosis. Lebih tepatnya, tak ada daging sama sekali di meja makan. Ternyata setiap hari Jumat adalah hari pantang daging bagi umat Katolik di Polandia. Roti tawar gandum, keju lapis, telur rebus, tomat, juga mentimun telah tersaji di meja makan. Lebih dari cukup untuk membuat sandwich yang akan menjadi tenaga bagiku untuk menjalani hari ini, yang aku yakin akan sangat panjang.

Sesuai jadwal yang telah dirancang, kami berkumpul di gereja. Jalan yang kulalui masih sama seperti har…

Rasa, Asa, dan Nyata

Hari ini menjadi bersejarah karena aku menuliskan ini. Tulisan yang juga menjadi sejarah di sepanjang hidupku. Bisa diperiksa di seluruh tulisan yang pernah aku buat, tak pernah ada topik seperti ini sebelumnya. Sejarah bagiku..
19 April 2017 Juga sejarah bagi semua warga Indonesia, khususnya Jakarta. Air mata pertamaku untuk seorang pejabat publik di Indonesia. Mereka bilang, ‘Jakarta menangis’. Nyatanya hari ini memang langit Jakarta di siang menuju sore tampak gelap, padahal pagi hingga siang cerah. Dan di malam hari hujan pun menyusul.
18 April 2017 H-1 putaran kedua Pilgub DKI. Di pikiranku, ‘Cepatlah besok, biar cepat selesai kehebohan ini.’ Berbulan-bulan timeline media sosialku penuh dengan artikel yang tak jauh dari isu ras, agama, dan lain sebagainya. Dari yang menarik untuk dibaca hingga hoax. Rasanya ingin segera selesai dan aku pikir siapapun itu cepatlah selesai. Cepatlah berakhir kegaduhan ini.
19 April 2017 Pukul 09.30, di TPS 80, Jakarta Timur, aku melaksanakan hak sekaligus t…

I Left My Heart in Polska (Part Two)

Kamar itu tidak terlalu besar. Cukup untuk ditiduri berdua. Pagi itu kubuka mata dan kutemukan langit cerah di atas kepalaku. Jendela kaca miring karena menjadi atap itu mengejutkanku. Bagaimana tidak, langit cerah itu adalah langit jam 8 pagi di Jakarta. Terlompat aku dari sofabed dan langsung meraih jam tanganku. Terkejut lagi saat kudapati jam tanganku menunjukkan baru pukul 6. Kembali aku merebah sembari berusaha menyadarkan diri bahwa aku memang sedang berada di bawah langit lain, Polandia.
21 Juli 2016 Pagi ini menjadi yang pertama bagiku di Polandia. Sebuah tempat yang tak pernah terpikirkan olehku akan aku datangi tapi memang aku pilih untuk aku merayakan hari istimewaku.
Kumulai dengan mandi bersiap diri dan sarapan bersama Papa Marek dan Marlena. Makanan ala Eropa, roti sandwich lengkap dengan roti gandum, mentega, saos tomat, mayonais, dan sosis ayam. Flat sederhana itu menjadi teman kami menikmati pagi sebelum aku menuju Paroki Isidore untuk mengikuti rangkaian penuh  Days in…