63

Berada di penghujung tahun 2013,
menjadi saat bagi kita semua untuk berefleksi tentang hari-hari yang telah berlalu.
Juga bersyukur untuk setiap detil rencana Tuhan yang telah terjadi dalam hidupku.
Termasuk bersyukur untuk 63 bulan yang boleh kulalui bersamamu.

This is our last lovely day in 2013.
Thank you, dear for always here beside me,
creating thousand sweet moments,
making million great experiences..
Together with you, I want to spend my whole life..
Together with you, I want to feel this amazing love..
I thank Lord for His unconditional love through you..

HAPPY 63RD LOVELY DAY, DEAR LARRY.. :)


62

Bulan November
Artinya 62 bulan kebersamaan kita
62 bulan cerita cinta kita
Terimakasih atas manisnya waktu di belakang
Terimakasih atas indahnya kisah yang telah kita rangkai
Bersamamu, ingin terus kurangkai kisah ini..
Bersamamu, ingin terus kunikmati manisnya cinta ini..


HAPPY 62ND  LOVELY DAY, DEAR LARRY.. :)

Journey to The Center of Brazil (Part Two)

Beberapa teman mulai mempertanyakan, "Gantung banget sih cerita lo!" Atau, "Mana lanjutannya? Gua nungguin ni.."
Mohon maaf karena jeda yang cukup lama dari Part One ke tulisan ini.. :D
Seperti biasa aku sok sibuk, banyak kegiatan yang membuat aku pulang larut malam hampir setiap harinya. Jadi lanjutan cerita ini agak terbengkalai. Tapi sejujurnya aku tahu aku punya utang. Dan seperti janjiku, aku pasti akan menyelesaikan cerita ini. Bukan hanya karena aku telah berjanji, tapi karena aku sangat menikmati berkisah tentang Brazil.
So, happy reading, friends.. :)


Beberapa hari di Rio de Janeiro membuatku semakin menikmati kota ini. Kota yang kata orang memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi. Kota yang kata orang sangat kacau atau berbagai cerita negatif lainnya. Tapi bagiku, kota ini indah dan aku sangat menikmatinya.
Hari-hari awal di Rio diisi dengan rintikan hujan tanpa henti seharian penuh. Hal tersebut membuat udara semakin dingin, jalanan becek, dan kami harus selalu mengenakan jas hujan.

25 Juli 2013
Pun di hari ini, hujan pagi membuat kami enggan beranjak dari rumah mama. Rasanya ingin semakin meringkuk di kolong selimut dan tidur.. hahaha.. Tapi aku harus bangun dan melanjutkan perjalananku di kota Rio ini. Seperti kukatakan di post sebelumnya, selalu ada semangat baru di tengah kelelahanku. Kembali berjalan kaki menuju gereja, dilanjutkan menuju sekolah, aku pun berjalan dengan semangat baru di pagi ini. Lelah semalam seolah telah terhapus, entah oleh apa. Yang pasti rintik hujan pagi ini tak menghalangi rangkaian acara yang ada.
Tiba di sekolah, acara katekesis telah menanti. Uskup dari Malta memberikan pengajaran kepada kami orang Indonesia, Canada, Australia. Di tengah katekesis ini aku berkesempatan untuk mengaku dosa kepada pastor dari Filipina. Katanya, saat WYD kita semua sangat dianjukan untuk melakukan pengakuan dosa. Dan aku berhasil melakukannya walaupun awalnya aku merasa sungkan dan malas. Tapi aku berpikir untuk tetap mengaku dosa. Sederhananya, aku berpikir, ‘Kapan lagi ngaku dosa di Brazil? Dalam momen WYD pula.’
Akhirnya dengan bahasa Inggris secukupnya, aku berhasil mencurahkan apa yang menjadi ganjalan di hatiku. Pengakuan dosa selesai. Berhasil! Berhasil! Hohoho..
Katekesis masih berlanjut, hujan pun terasa semakin lebat. Kututup rapat jaket merahku, dinginnya makin terasa.

Rio pagi itu terasa amat dingin dan kelabu. Kalau ada kesempatan untuk bisa melanjutkan tidur, akan langsung kulakukan.. hahaha.. Beruntungnya tak pernah ada kesempatan seperti itu. Selalu ada satu kesempatan yang sangat menarik: melanjutkan rangkaian WYD. Rasanya, tidur dan lelah berada di urutan terakhir. Walau cuaca sangat mendukung untuk kembali berselimut dan terlelap, aku lebih ingin berjalan kaki melanjutkan peziarahanku di Rio.

Setelah katekesis, kami mengikuti misa konselebrasi. Ini bukan misa pertama yang aku ikuti selama berada di Brazil. Tapi rasa luar biasa tetap kurasakan. Ada rasa yang berbeda saat merayakan Ekaristi bersama rekan muda dari Indonesia, juga dari negara-negara lain, dalam event besar, dan di jauh dari Tanah Air. Aku dan mereka berbeda kulit, tapi kami membuat tanda salib yang sama, kami menerima hosti yang sama, kami merayakan Ekaristi bersama.
This is why I’m very proud to be Catholic! :)

Selesai misa, bubarrr… Petualangan segera dimulai. Kami harus meninggalkan Bras de Pina untuk menuju kota. Si bolang beraksi! :D
Melewati rute yang sama diiringi rintik hujan: sekolah tempat katekesis menanjak menuju gereja St. Cecilia, menurun menuju stasiun kereta. Stasiun kereta Bras de Pina seolah menjadi milik kami yang berjaket merah ini. Setiap harinya kami harus menunggu kereta datang, paling cepat sekitar 15 menit. Pernah kami menunggu kereta hingga 1 jam. Jadi stasiun ini seolah menjadi tempat nongkrong kami. Kami bercanda, kami ngobrol, berfoto ria, bahkan sampai tidur menggeletak. Di manapun, rasanya menjadi menyenangkan karena kebersamaan yang kami miliki. Di Jakarta, mana pernah aku ngemper di stasiun. Tapi di Rio, itu menjadi hal yang menyenangkan.. :)

Gerombolan Merah Menanti Kereta

Kereta tak kunjung datang? Selalu ada cara untuk bersukacita.. :)


Hari ini ada acara besar yang harus kami ikuti di Copacabana Beach. Papa Francesco!!! Dia akan datang ke Copacabana untuk menyapa kami anak muda dari seluruh dunia. Siapa yang tak ingin berada di sana. Sudah pasti ingin berada di barisan paling depan untuk menatap Paus secara jelas. Tapi kami tahu hal tersebut mustahil. Untuk bisa masuk ke tengah pantai pun rasanya sudah menjadi mujizat. Ditambah hari ini bisa dibilang kami ‘kesiangan’. Sekitar pukul 3 sore kami baru berangkat dari Central. Memang acaranya dimulai sekitar pukul 6 sore. Tapi jutaan orang telah menunggu dengan manis dari beberapa jam sebelumnya. Jadi saat kami tiba di pantai, yang bisa kami lihat hanyalah kerumunan orang. Pantai Copacabana berubah menjadi lautan manusia.
Sederhananya, siapa yang tak ingin melihat Paus? Siapa yang tak ingin bertatap muka dengan Paus?
Jadilah keadaan seperti ini. Kisah ini menjadi sangat seru untuk kuceritakan sekarang. Padahal waktu itu, saat mengalaminya, rasanya stres, panik, heboh, semua campur aduk. Memasuki area Copacabana, semakin banyak orang yang kulihat. Gege sebagai grup leader memimpin barisan dan kami diminta mengikutinya dengan bergandengan tangan. Kami pun bergandengan tangan sambil terus berjalan menembus kerumunan orang. Aku merasa menjadi semakin mini di tengah jutaan orang raksasa.. (nasib orang asia yang mini.. hahaha..)
Terus berjalan sambil bergandengan tangan tampaknya bukan pilihan yang tepat. Yang memilih untuk bergandengan tangan, sudah pasti bukan hanya rombongan Indonesia. Bisa dibilang hamper semua orang di sana bergandengan tangan agar tidak ada satu orang pun yang terhilang atau lepas dari rombongan. Tapi di tengah kerumunan yang sangat padat itu, bergandengan tangan bagaikan malapetaka. Ular-ularan yang kami buat justru membuat kami terikat satu sama lain. Kusut! hahaha..
Kerusuhan dimulai saat kami menyelusup ke tengah kerumunan, berharap dapat melihat layar raksasa. Aku yang mini, jangankan melihat layar, yang kulihat hanyalah punggung orang-orang. Hanya bisa pasrah. Melihat keadaan yang tidak mengenakkan, Gege pun berusaha untuk keluar dari kerumunan. Rasanya memang sudah tidak memungkinkan untuk melihat Paus. Masih tetap bergandengan tangan, bersama Nory di depanku, dan Surya di belakangku. Kami pun beranjak ke luar, mencari daerah yang agak lengang. Di sinilah keos terjadi..
Keadaan serba salah kualami, melepaskan gandengan tangan artinya terhilang dari rombongan. Tetap bergandengan, membuatku terhimpit dan sulit bernafas. Perlahan kami menuju ke luar kerumunan. Tapi itu rasanya seperti berusaha keluar jeratan maut.. hahahaha.. Aku dan Nory hanya bisa saling menguatkan, “Ayo Nory angkat kepala, ambil nafas sebanyak-banyaknya.” Nory pun demikian, “Cici… Gimana ni? Mulai susah nafas..” Tarik menarik pun terjadi. Ditarik dari depan, ditarik dari belakang. Heboh! Hanya bisa mengikuti ke mana aku ditarik. Kaki terinjak dan terbentur kiri kanan, entah dengan apa. Aku tak bisa melihat jalanan karena semua tertutup oleh orang. Lutut menghantam batu besar yang ada di trotoar hingga nyaris terjatuh. Mungkin hanya tinggal sedikit lagi aku menyentuh jalanan. Beruntung aku masih bergandengan tangan dengan Nory dan Surya. Mereka yang menahanku. Tanpa bergandengan mungkin kami sudah ngusruk terjerembab.. Setelah kakiku terbentur cukup keras, akhirnya kami berhasil keluar dari kerumunan. Thanks, God! Rasanya lega.. Bersyukur sekali aku masih diberi kekuatan yang sangat cukup untuk berada di keadaan seperti itu. Sangat bersyukur pula aku berada di tim yang selalu saling mendukung. Di saat hampir terjatuh, ada teman-temanku yang menopangku. That’s what friends are for.. :)

Satu lagi yang membuatku bangga sebagai Katolik.
Di tengah keadaan berdesakan seperti itu, tak kutemukan wajah sangar yang ingin saling mendorong. Mereka semua berdiri dan menunggu dengan wajah penuh sukacita. Tidak tampak sama sekali wajah tidak sabar atau wajah kesal karena harus berdesak-desakan. Saat kakiku terinjak, mereka hanya tersenyum dan berkata, “Ouh so sorry..”
Ini sangat wooww!! Event dunia ini membuatku semakin merasa takjub akan iman Katolik yang kumiliki. Tak peduli warna kulit atau jenis rambut, kami semua bersaudara di dalam Kristus.

Keluar dari kerumunan, kami hanya bisa menunggu di tempat yang lebih lega. Hanya kudengar sayup-sayup Paus berbicara, menyapa kami semua. Kami pun masih menunggu beberapa teman lain yang masih tertinggal di kerumnan karena gandengan tangannya terlepas. Salah satunya Verby.
Dan kali ini ada kisah lain yang tersisa, yang patut dikenang.. hehehe..
Saat gandengan tangan kami terlepas hingga akhirnya satu teman kami kehabisan oksigen dan pingsan. Menurut saksi mata, saat melihat teman kami itu pingsan, kerumunan orang yang tadinya sangat padat tiba-tiba pecah menjadi kosong dan langsung memberikan jalan kepada teman-temanku untuk lewat sambil menggotong si pingsan.
Sebegitu pedulinya mereka semua terhadap satu sama lain. Mereka seolah tanpa ego dan langsung berbelas kasih saat melihat sesamanya mengalami sakit atau kesulitan. Another reason why I’m very proud to be Catholic.. J

The show must go on.. hahaha..
Perjalanan kami pun harus terus berlanjut.. Bagaikan habis perang, prajurit yang tersisa hanya setengahnya. Sisanya masih menolong teman kami yang pingsan. Kesulitan komunikasi pun membuat aku tak bisa menghubungi Verby. Hanya bisa yakin bahwa mereka semua baik-baik saja.
Kami yang berhasil lolos pun kembali berjalan, untuk memenuhi janji dengan Duta Besar Indonesia untuk Brazil. Beliau mengundang kami untuk makan malam di sebuah restoran Chinese Food. Jangan berharap ada kendaraan untuk mencapai restoran tersebut karena World Youth Day salah satunya adalah tentang berjalan kaki.. :)
Puluhan kilometer pun akan kulalui tanpa keluhan atau umpatan, karena sejak awal aku tahu tentang hal tersebut. Jadi perjalanan kami selalu kulalui dengan penuh sukacita. Ini yang namanya peziarahan rohani dan aku bangga menjadi bagiannya.

Restoran Chinese tersebut terletak di Copacabana Beach. Hanya saja pantai ini panjangnya kiloan meter. Amat sangat panjang! Dan ternyata si restoran tersebut berada hampir di akhir pantai Copacabana. Jadilah perjalanan kami menjadi amat panjang.. hahaha..

Setelah ada seorang seorang teman yang pingsan dan harus dirawat sejenak di posko kesehatan, ada seorang teman lagi yang mengalami cedera kaki. Aldi mengalami cedera lutut hingga menyebabkan dia tidak bisa berjalan. Di trotoar, kami pun harus membaringkan dia, mencari pertolongan pertama.
Salah satu hal yang membuat saya langsung jatuh cinta pada Negara ini adalah kehangatan serta ketulusan yang dimiliki oleh orang-orang Brazil. Mungkin mereka tak mengenal istilah ‘orang asing’. Terbukti saat Aldi terbaring kesakitan di trotoar dan kami mengerumuninya, mulai banyak warga yang melintas dan bertanya bahkan hendak menolong Aldi. Bahkan ada yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk memanggil ambulans. Wow! Takjub dan agak tak enak hati karena harus merepotkan warga setempat. Hingga ada seorang pria yang dengan tulus menawarkan rumahnya untuk Aldi beristirahat sejenak. Tapi berhubung kami harus memenuhi undangan Duta Besar dan tempat kami tinggal pun masih sangat jauh dari Copacabana, kami pun tidak menerima tawaran pria tersebut. Aldi akhirnya diantar oleh mobil polisi ke restoran Chinese Food.
Lalu pria tersebut tetap kekeuh menawarkan bantuannya. Pria tersebut bagaikan malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk memimpin langkah kami menuju restoran. Jarak yang cukup jauh tentu saja bisa membuat kami tersesat. Tapi pria itu bersedia berjalan jauh bersama kami.
Kami semua hanya bisa merasa takjub dan berpikir, ‘Ternyata masih ada ya orang seperti ini, yang masih begitu peduli terhadap sesamanya.’ Aku sendiri berpikir bahwa dunia ini telah menjadi sangat individualis, semua orang hanya berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri. Brazil mengajarkanku hal yang sesungguhnya.
Tiba di restoran, hanya kata ‘Obrigado’ yang keluar dari mulut kami. Saat itu hati kami tersentuh oleh orang asing yang tiba-tiba muncul. Kami tersadar tentang bagaimana seharusnya kami bersikap kepada sesame kami.

Makan malam di meja bundar, serasa di Jakarta. Lengkap dengan mangkok dan sumpit, sedikit bisa mengobati rasa rindu akan rumahku.
Aku bersama Landri, Erika, Mario, Surya, Dede berada di satu meja bundar. Saat tersebut menjadi saat bagi kami untuk berbagi cerita tentang apa saja yang kami alami selama di Rio. (Selama di Rio, kami memang berjalan dalam grup-grup kecil)
Duta Besar sendiri pun merasa sangat senang akan kehadiran anak-anak muda Indonesia di Rio, untuk sebuah perhelatan besar ini.
Selesai jamuan makan malam dan ramah tamah, acara malam itu ditutup dengan berfoto bersama.

Serasa baru menemukan meja bundar.. :D

Looks yummy!

Bersama Bapak Ibu Duta Besar Indonesia untuk Brazil

Waktu menunjukkan hampir pukul 10 malam saat aku dan teman-teman meninggalkan restoran. Yang aku tahu, aku harus kembali berjalan jauh untuk bisa menemukan bis kota menuju stasiun Central. Malam menjelang, lelah menyerang. Aku pun mulai berharap bertemu si Doraemon yang mengeluarkan ‘pintu ke mana saja’ sehingga aku dapat langsung muncul di Bras de Pina..
Mimpi.
Nyatanya aku harus berjalan kaki. Tapi Tuhan itu selalu baik dan selalu memahami apa yang anak-anakNya butuhkan.
Acara di Copacabana kali ini dihadiri jutaan orang yang ingin menyambut Paus. Itu sebabnya seluruh jalan menuju pantai ini disterilkan dari kendaraan. Alhasil seluruh pilgrim harus turun dari bis beberapa kilometer sebelum pantai dan harus berjalan kaki. Seharusnya perjalanan pulang pun demikian. Kami harus berjalan kaki sebelum menemukan bis umum.
Tapi setelah acara makan malam, jalanan sekitar pantai pun sudah mulai dibuka. Puji Tuhan, kami hanya cukup berjalan beberapa ratus meter menuju halte terdekat dan si bis umum yang dimaksud pun tiba! Yeeeyyy!! Aku mengharapkan ‘pintu ke mana saja’, Tuhan sediakan yang lebih praktis.. hahaha..

Duduk di dalam bis, walau sebentar, harus kugunakan untuk beristirahat karena perjalanan menuju rumah mama di Bras de Pina masih sangat jauh.
Rasanya badan kaku, kaki kencang. Di setiap langkah yang kulalui ada rasa ‘nyelekit’ di telapak kakiku. Beruntung, aku masih kuat sehingga tak minta digendong.. hahaha..
Salah satu keajaiban WYD yang kualami: fisikku yang sangat kuat.. Praise Lord!

Tiba di Bras de Pina, waktu telah tengah malam. Hari ini aku dan teman-teman gagal ‘bertemu’ Paus. Malah ada beberapa ‘korban’.. hehehe.. Tapi aku yakin esok hari selalu ada harapan baru. Paus masih akan berada di Rio untuk menyapa kaum muda. Entah kenapa ada sebuah keyakinan dalam diriku bahwa kami akan menatap Paus.

26 Juli 2013
Pagi ini seperti biasa selalu kumulai dengan semangat dan kekuatan baru. Setelah lebih dari seminggu berada di negeri orang, dengan kegiatan yang menguras kekuatan fisik ditambah cuaca dingin, rasanya sangat mungkin bila aku ambruk sakit. Tapi Dia selalu menjagaku, membiarkan aku kuat berjalan melalui seluruh kegiatan yang ada di Brasil. He’s my Hero, who strengthen me every single day!

Katekesis hari kedua yang kuikuti masih di tempat yang sama, di sekolah, tapi oleh Bishop berbeda. Kali ini katekesis dibawakan oleh Bishop dari Australia. Sama seperti hari kemarin, acara pun ditutup dengan misa konselebrasi. Selesai misa, kami pun bersiap kembali menuju Copacabana.
Kalau di Jakarta, sudah pasti aku akan mogok dan memilih tinggal di rumah. Copacabana itu pantai yang letaknya sangat jauh dari Bras de Pina.
Uppsss… Salah! Yang benar, tempat tinggal kamilah yang terlalu jauh dari Copacabana. Bahkan warga setempat yang mengetahui bahwa kami tinggal di Bras de Pina pun sangat kaget dan mengatakan bahwa tempat tinggal kami sangat jauh. Mari membayangkan kalau di Jakarta mungkin seperti Grogol menuju Bekasi.. Sangat jauh! Hehehe..
Tapi ini di Rio, bung.. Sudah pasti aku tak mungkin mogok atau memilih tinggal di rumah. Sejauh apa pun pasti akan kujalani.
Hari ini ada acara Jalan Salib di Copacabana. Paus akan kembali berkeliling menyapa kami semua. Tentu saja hal tersebut membuatku begitu bersemangat, setelah hari kemarin kami gagal menemukan sosok Paus.

Seperti yang telah kuceritakan, seluruh pilgrim harus berjalan kaki cukup jauh untuk bisa mencapai pantai Copacabana. Kami berjalan di jalan raya, melalui terowongan panjang, dengan pemandangan gedung bertingkat, juga patung Christ Redeemer yang tampak sangat kecil nun jauh di sana.
Kiloan meter harus kulalui dan aku masih sangat bingung dengan kaki kami yang menjadi sangat kuat. Padahal secara logika, kakiku telah melangkah begitu jauh.. Puluhan kilometer. Tapi sukacita yang kami rasakan sepertinya menghapus rasa pegal tersebut.
Ya! Bagaimana tidak? Kami rombongan Indonesia berjaket merah gonjreng berjalan kaki bersama sambil berteriak, “IN DO NE SIAAAA!!” Diiringi bunyi peluit dan terompet. Kami yang hanya berjumlah sekitar 40 orang tak merasa menjadi minoritas, mungkin karena efek jaket.. hahaha.. Tapi berjalan kaki bersama ratusan ribu anak muda dari berbagai Negara sudah tentu membuat kami bangga. Walau jumlah kami kecil, kami tak berbeda dengan anak muda lainnya. Kami bertemu begituuuu banyak orang muda dari berbagai Negara, yang menyapa, berfoto bersama, bertukar cendera mata, atau hanya sekedar bertukar senyum. Kulit kami berbeda, wajah kami berbeda, rambut kami berbeda, tapi kami tahu bahwa kami satu di dalam Tuhan. Perjalanan panjangku kali ini benar-benar menakjubkan. Saat di mana sejauh mata memandang, hanya orang-orang yang kudapati. Begitu banyak orang berjalan menuju arah yang sama, juga untuk tujuan yang sama. Rasanya seperti long march di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Tapi jalanan menuju Copacabana jauh lebih lebar. Kebayang gimana ramenya? Pokoknya seru abisss!! Hehehe…








Hari ini kami semua lebih beruntung, suasana pantai masih lengang sehingga kami bisa memilih spot terbaik di balik pagar untuk menanti Paus. Setelah menemukan spot terbaik, kami pun membentuk pagar betis. Perempuan di dalam dan yang pria di bagian luar. Aku harus menunggu cukup lama hingga waktu yang ditentukan, waktu di mana paus akan berkeliling dengan mobilnya dan menyapa kami semua. Alhasil, kami duduk, berdiri, berfoto, ngobrol. Tahu apa yang dilakukan para lelaki di barisan luar? Mereka ‘berjualan’ souvenir!
“Exchange souvenir?? Exchange souvenir??”
Banyaknya orang yang berlalu lalang menjadi sasaran empuk bagi teman-teman kami ini untuk ‘berjualan’. Berasa di pasarrrr booo! Hahaha..
Dan mereka menghasilkan banyak souvenir dari berbagai negara. Seru!!
Ini yang namanya ‘kesempatan dalam kesempitan’.. Berdesak-desakan, tapi tetap mencari peluang untuk souvenir.. hahaha..

Hari mulai gelap saat kami bersiap untuk detik-detik kedatangan Paus. Semua orang berdiri dan begitu excited. Semua orang memegang kamera, siap untuk membidik Paus Fransiskus. Pun demikian aku. Walau dengan tubuh mini dan terhalang oleh beberapa orang berbadan besar di depanku, aku kekeuh dengan kamera sakuku. Aku harus melihat Paus dan memperoleh gambarnya.

Ini hasil dari aku yang mini:







Sebegitu histerisnya semua orang saat Paus lewat. Begitu bersemangatnya kami semua untuk menatap langsung Paus. Euforia luar biasa yang beruntung bisa kurasakan meskipun aku harus berjuang lebih.

Setelah Paus berlalu, banyak orang yang meninggalkan Copacabana. Aku sendiri tetap berada di sekitar pantai, berusaha mengikuti Jalan Salib, tapi karena aku berada terlalu jauh dari pantai, alhasil Jalan Salib berlalu begitu saja.
Rombonganku pun mendadak lenyap. Tersisa aku, Verby, Karina, Yaya, Nory, Dar, dan Gege. Acara di panggung akbar terus berlangsung. Pujian dan tarian.
Kami memilih untuk menikmati pasir Copacabana. Bernyanyi, menari di lembutnya pasir, diiringi angin dan deburan ombak. Kusadari keberadaanku saat itu. Aku berada di Rio, Brazil. Aku berada jauh dari tempat biasa kuberada. Dan aku dipenuhi oleh begitu banyak berkat. Aku hanya bisa bergumam dalam hati, ‘I am so blessed!’

Malam menjelang, kami pun harus beranjak kembali ke Bras de Pina. Kutinggalkan Copacabana dengan satu kepastian: kehadiranku kembali di esok hari.. :)

Tiba di rumah mama, aku melakukan ritual malamku. Cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, sikat gigi, ganti piyama, boboooo!!
Mungkin ini rahasiaku tetap kuat selama di Rio: ga pake mandi malam! Langsung blek tidur.. hahaha..
Bukan jorok, bukan malas..
Tapi udara Rio yang dingin sudah pasti tak membuatku berkeringat, jadi mandi 1 kali sehari sudah sangat cukup. Hemat air, hemat sabun.. Kan numpang di rumah orang, jadi harus seefisien mungkin.. hahahaha…

Boa noite..


Akan ada cerita lebih menarik di postingan selanjutnya, tentu saja masih tentang Rio de Janerio.. :D

61

Waktu terasa berlari secepat angin tapi itu tetap membuatku bersyukur.
Bersyukur atas segala hal, termasuk keberadaanmu di sampingku.
61 bulan, yang boleh kita lalui bersama, menjadi salah satu hal yang membuatku tak henti bersyukur.
Saat aku boleh tertawa lepas karenamu.
Saat aku boleh merasa sangat nyaman bersamamu.
Saat aku boleh marah kepadamu.
Saat aku boleh merasa sedih ataupun kecewa.
Semua itu yang selalu aku syukuri.
Semanis atau sepahit apapun rasa itu, aku selalu menikmatinya.
Menikmati anugerah terbaik dalam hidupku.
Menikmati kebersamaan yang akan selalu menjadi kenangan manis.
Menikmati waktu yang teramat berharga.
Terimakasih, cinta.. untuk 61 bulan yang penuh dengan suka duka.
Terimakasih, Cinta.. untuk 61 bulan yang penuh dengan penyertaan dan berkatMu.

HAPPY 61ST LOVELY DAY, DEAR LARRY..

Love you more :)

60


Ada sebuah rasa yang tak terucap saat berdiri di momen ini.
Rasa yang luar biasa merajai hatiku, yang bahkan tak cukup tergambarkan oleh kata-kataku.
Begitu kuatnya perasaanku kali ini.
Begitu banyak yang ingin kuungkapkan.

7 September 2008 yang dipilihnya.
Masih lekat dalam benakku apa yang dia katakan saat itu.
Dan hari ini, tepat 60 bulan setelahnya, dia masih memegang erat kata-katanya.
Janjinya bukan janji manis.
Kata-katanya bukan impian belaka.
Saat itu, entah apa yang membuatku menjawab ‘iya’, padahal seperti masih banyak keraguan dalam hatiku.
Dan hari ini, lima tahun setelah itu, semua raguku hilang, berubah menjadi keyakinan besar.

60 bulan bukan sekejap mata.
Jatuh dan bangun
Senyum dan airmata
Tawa dan amarah
Rindu dan benci
Suka dan duka
Dan berjuta rasa lainnya..

60 bulan rasanya masih terlalu singkat.
Untuk terus mengenalnya
Untuk terus memahaminya
Untuk terus mengasihinya
Untuk terus mencintainya
Untuk terus mendampinginya..

60 bulan tak membuatku puas
60 bulan tak membuatku berhenti
60 bulan tak membuatku menyerah
60 bulan tak membuatku menyesal

60 bulan yang mengajarku arti cinta
60 bulan yang menyadarkanku tentang ketulusan
60 bulan yang membuatku amat bersyukur
60 bulan yang membuatku yakin

Untuk terus bersamanya melewati ribuan tanggal 7 di depan sana..
Untuk terus mencintainya, sampai selamanya..

HAPPY 60TH LOVELY DAY, DEAR LARRY..

Nothing, but THANK YOU..
For all the greatest things you’ve done in my heart.

Nothing, but LOVE..
Between you and me.



Journey to The Center of Brazil (Part One)

Sao Paulo.. yang telah memberiku berjuta kehangatan.
Sao Paulo.. yang telah menunjukkan kepadaku tentang arti sebuah ketulusan.
Sao Paulo.. yang indah.
Sao Paulo.. yang akan selalu hidup di dalam hatiku..
Beberapa hari yang indah, yang membuatku memohon agar aku bisa terus merasakan hangatnya pelukan itu. Tapi waktu yang memutuskan. Dengan bercucuran airmata, kulambaikan tangan tetap dengan harapan untuk bisa berjumpa di lain waktu.

Bertolak dari kota penuh kasih, Diadema, ini kisahku di ibukota Brazil.


Di penghujung hari istimewaku, harus kulakukan satu hal yang kubenci: saying goodbye. Waktuku untuk Sao Paulo telah habis. Ibaratnya, aku telah menikmati surga penuh kenikmatan dan sekarang aku harus menuju dunia nyata: Rio de Janeiro.
Ada sedikit kekhawatiran juga rasa penasaran tentang kota ini. Berkali-kali Papa Valdir mengingatkanku untuk selalu berhati-hati dengan tas, dompet, dan semua barang bawaanku. Kesan yang kutangkap, Rio adalah ibukota yang sangat tidak aman dan menyeramkan. Kurasakan betapa khawatir dan tidak relanya Papa saat harus melepasku ke Rio. Pun demikian aku. Rasanya ingin lebih lama berada di Diadema, menikmati waktu bersama keluarga Papa Valdir. Tapi waktu harus terus berjalan. 
Pukul 12 malam, saat bis besar perlahan meninggalkan Diadema. Mata berairku pun langsung kututup. Lelap dalam sekejap, mungkin karena lelah menangis.
Yang kutahu dari Ariana, Sao Paulo-Rio berjarak sekitar 8 jam perjalanan darat. Fiuhhh.. Jauhnyaaaa..

22 Juli 2013
Saat matahari menyapa, aku dan mungkin seisi bis (tentu saja kecuali supirnya hahaha..) baru terbangun. Kurang lebih 7 jam aku berhasil terlelap. Hemm.. Pencapaian yang cukup baik. Ini membuktikan bahwa aku mudah sekali tidur.. (sama seperti di post sebelumnya, aku tertidur hampir 25 jam selama di pesawat.. hahaha..)
Setelah perjalanan yang cukup panjang tersebut, kupikir aku telah berada di Rio. Ternyata aku salah. Aku berada entah di mana, di belahan dunia yang entah sebelah mana. Yang kulihat hanya kumpulan bis besar yang parkir dengan rapinya. Bis-bis yang mengangkut anak muda dari berbagai negara, yang siap untuk mengikuti World Youth Day. Aku berada di sebuah tempat transit, tempat untuk menunggu sebelum kami boleh memasuki perbatasan kota Rio. Kami semua harus menunggu di sana sekitar 3 jam untuk bisa melanjutkan perjalanan. Hal tersebut karena terlalu banyak bis yang akan masuk ke Rio, jadi harus diatur agar tidak terjadi kemacetan panjang. Langsung terbayang seperti apa riuhnya Rio. Jutaan pilgrim akan masuk kota Rio. ‘Pasti rame dan macet banget ni,’ pikirku.

Sekitar pukul 9 pagi, bis melanjutkan perjalanannya. Aku pun melanjutkan tidurku.. hahaha.. (terkesan pelor yaaa.. tapi ini kunci aku tetap segar bugar tanpa sakit selama di Brazil juga hingga tiba di Jakarta: tidur kapan dan di manapun ada kesempatan.. hahaha..)

Memasuki waktu makan siang, bis kami pun memasuki kota Rio.
Setelah belasan jam perjalanan dari Sao Paulo, transit berjam-jam entah di mana, bermacet-macet, inilah dia: Rio de Janeiro!! Yeeeeyyyy!!!!
Aku tiba di kota yang dari setahun lalu ada dalam bayangan dan angan-anganku.
Masih tetap berada di bis dengan perut yang krucuk krucuk, kuamati suasana kota ini. Langsung kutebak, aku berada di pusat kota. Banyak gedung bertingkat dengan jalan protokol yang dilintasi banyak mobil. Benar-benar mirip Ibukota Jakarta. Dari jauh terlihat, patung Christ Redeemer di atas bukit. Pikirku, "Selangkah lagi menuju ke sana!"

Group Leader, Gege dan Nory, harus turun di sebuah tempat untuk mengambil Pilgrim Kit kami. Aku dan teman-temanpun diminta untuk langsung menuju tempat di mana kami akan tinggal. Paroki St. Cecilia. Bis kembali melaju, dan rasanya tak kunjung tiba. Cukup jauh dari tempat kami meninggalkan Gege dan Nory.
Sekitar pukul 3 sore, aku dan rombongan Indonesia tiba di St. Cecilia.
Akhirnyaaaaa.. Total perjalanan bis dari Diadema sekitar 14 jam. What a long trip. Fiuuhh!!

Tiba di St. Cecilia, kami semua diminta untuk berkumpul di aula karena masih belum ada informasi pasti di mana kami akan tinggal, apakah di aula atau di host parent.
Melewatkan sarapan dan makan siang, ditambah belum mandi hampir selama 24 jam seharusnya menambah tingkat kelelahanku. Tapi entah kenapa, aku masih merasa kuat. Laper sih, tapi ga sampe mau makan orang koq.. hahaha.. Aku masih bisa menahannya, perut dan badanku pun seolah mengerti keadaan.. :)
Yang bisa kulakukan hanya mencuci muka dan sikat gigi. Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Ga mandi seharian? Ga masalah.. I’m still OK! hahaha..
Selanjutnya aku hanya duduk atau selonjoran di lantai, menunggu informasi.
Tiba-tiba Evi datang bersama pria-pria yang mengangkut kotak besar. Baru kutahu kalau ternyata isinya ratusan roti keras setelah Evi berteriak,
“Guysssss…. Maaf banget yaaa guyssss… Tadi gua uda keliling untuk cari makan siang untuk kita. Tapi ga nemu. Ada, tapi harganya mahal banget. Jadi gua beli roti ini untuk kalian. Maaf bangetttt yaa… cuma bisa kasih ini. Tapi gua beli rotinya banyak koq, jadi boleh ambil lebih. Maaf yaaa guysss…”

Perasaan belum Lebaran, Vi.. Minta maaf mulu lo kayak Mpok Minah.. (bajaj bajuri dah.. hahaha..)
Ini yang belum sempat kusampaikan pada Evi atau tim kerja.
Vi, at that moment I really thank you. Dengan keadaan seperti itu, ada roti keras 1 buah pun aku amat bersyukur. Dengan keadaan lelah, kamu masih bersusah payah mencari makan siang untuk kita semua, itu hal yang benar-benar kuhargai. Istilahnya, masih syukur ada yang nyariin makanan, ada yang bawain makanan. So why should I expect more? It’s more than enough!
Thanks a lot, Evi.. :)

Selesai menyantap roti keras yang cukup dengan topping mentega dan sepotong semangka, aku melangkah menuju gereja. Aula dan gerejanya berseberangan, cukup berjalan kaki.
Let me say that this is a beautiful church. Simply beautiful.. I love this.

In Love with This Church

Selesai berfoto ria, aku kembali ke aula. Hari sudah gelap, Gege dan Nory belum juga tampak. Kembali aku duduk leyeh leyeh di sudut aula. Sejauh mata memandang kami seperti orang-orang yang mengungsi, yang ditampung di sebuah aula.
Aku lalu teringat Gege dan Nory.
I have to thank them. Ya, bagaimana tidak. Di saat aku sudah bisa bersantai-santai, berfoto ria, mungkin Gege dan Nory masih harus bersabar dalam antrian panjang demi mengambil Pilgrim Kit kami. Thanks, my GL.. :)

Mulai malam, saat Gege dan Nory datang bersama kotak-kotak besar berisi Pilgrim Kit. Aku langsung sumringah saat Gege berteriak, “Guys, semuanya warna biru ya!”
Horaaayyyy!!!
Dari jauh hari, saat melihat foto yang diposting di Facebook World Youth Day, aku mulai berdoa agar bisa mendapat Pilgrim Kit berwarna biru, karena ada 3 pilihan yakni biru, kuning, dan hijau. Dan terjadilah sesuai doaku, BIRU! hohohoho…
FYI, I’m blue freak.. hahaha..

Bak anak kecil yang mendapatkan mainan baru, kami semua heboh membongkar isi tas biru.
Ada buku panduan misa dan doa, kaos, botol air, kalung salib. Ditambah ID card juga 2 buah kartu keras. Kartu transportasi dan kartu makan yang sudah pasti akan menemani kami semua selama di Rio. Yeeyyy.. Makan dan keliling Rio gratis.. (anggep aja gratissss.. hahaha..)

My Pilgrim Kit

Selesai pembagian jatah tersebut, Gege mengumumkan bahwa kami akan tinggal di hostparent. Yang perempuan akan tinggal di rumah warga, sedangkan yang laki-laki akan tinggal bersama di sebuah rumah kosong. Wooww! Aku langsung terbayang kapal pecah! hahaha..

Satu per satu kami pun dijemput oleh hostparent. Aku tinggal berenam dengan Luci, Felicia, Ci Jo, Ci Juve, dan Tante Paula. Tiba di rumah host parent, dalam hati aku langsung mengucap terimakasih pada Mama. Rumahnya bisa dibilang kecil, tapi dia rela berbagi dengan kami berenam. Dia rela bersusah payah merapikan rumahnya menjadi lebih lega agar kami bisa tidur dengan baik. Obrigada, Mama..
Karena sudah sangat malam, kami langsung berbagi tempat tidur. Once again I thank You, Lord.. Aku mendapat kasur.. :)
Malam itu langsung kupejamkan mata untuk beristirahat. Dalam diam, malam pertamaku di Rio kuisi dengan aliran airmata. Rasa rindu menyergapku.
Posisi kasurku di Rio yang sama dengan posisi kasur di Diadema, membawaku kembali ke sana.
Aku rindu Papa Valdir, Mama Marta, Ariana, Diego, juga rumah mereka yang sangat hangat.
Aku rindu kasur dan selimut hangatku di rumah mereka. Aku rindu Diadema.
Rasanya hanya dalam sekejap aku sudah berpindah tempat, meninggalkan orang-orang terkasih dan bertemu dengan orang baru lagi. Aku berharap waktu bisa berputar lebih lambat agar aku bisa lebih menikmati setiap detik keberadaanku.

23 Juli 2013
Alarm kami berenam bersahut-sahutan. Aku yakin kami berenam mendengarnya tapi tak ada yang mau bergerak untuk mematikan.. hahaha.. Kurasa kami terlalu lelah untuk bangun dan bergerak. Tapi matahari seolah memaksa kami semua untuk bangun, mandi, dan bersiap.
Aku penasaran, hari ini apa yang akan kami semua lakukan. Aku tak sabar melihat dan berkeliling kota Rio.

Perjalanan si bocah petualang dimulai.
Pagi hari aku dijemput oleh seorang ibu yang mengenakan kaos bertuliskan ‘Voluntario’. Tanpa membuka google tradutor, aku sudah bisa tahu bahwa ibu ini sukarelawan untuk acara WYD. Aku pun berjalan kaki menuju gereja. Untuk pertama kalinya aku melihat sekeliling wilayah St. Cecilia. Keluar pintu rumah, aku mengarahkan badanku ke kanan. Aku berjalan menuruni jalanan yang cukup curam. Rumah mamaku ini memang berada cukup tinggi. Pagi pertama, perjalanan menurun ini masih kami lalui dengan penuh semangat. Tiba di ujung jalan, aku harus menyeberang jalan, lalu menaiki tangga, dan tiba di stasiun kereta. Karena aku harus berkumpul di gereja, aku pun menyeberang rel kereta, menuruni tangga. Lalu, berjalan menanjak menuju gereja.
Fiuuhhh.. Tiba di gereja dengan nafas Senin Kamis.. hahaha..
Perjalanan belum selesai. Di ID card yang dibagikan semalam, ada tulisan tanggal 23 hingga 28, yang artinya aku akan memperoleh sarapan setiap paginya. Dan kami harus mengambil sendiri kotak sarapan tersebut. Aku bertemu Verby yang sudah sedang menikmati sarapannya. Dia berkata, “Mending lu glinding aja deh. Biar cepet.. hahaha..”
Aku berpikir dia berlebihan. Aku pikir, ah pasti dekat ni. Ternyataaaa… Jalan kaki menuju tempat pengambilan sarapannya sih ga berasa. Pulangnya kembali ke gereja, alamaakkkk… Senin Kamis lagi. Jadi dari gereja aku harus melalui jalanan menurun untuk tiba di sekolah, tempat pembagian kotak sarapan. Setelah kotak sarapan di tangan, aku harus kembali lagi melewati jalanan yang sama, yang artinya menanjak. Kurussss… hahaha..

Breakfast Box

The Content

 Setelah semua berkumpul, dengan jaket merah kebanggaan, aku dan rombongan berjalan menuju stasiun kereta. Kuulangi rutenya, dari gereja aku harus melangkah melalui jalanan menurun. Lalu menyeberang jalan, menaiki tangga stasiun, turun di tengah jembatan. Sampai deh… Ya, mirip jembatan Trans Jakarta.. hehehe..
Kulihat untuk pertama kalinya papan nama stasiun: Bras de Pina. Ooo.. Aku tinggal di daerah ini toh..
Setelah beberapa menit menunggu, kereta listrik pun tiba. Naikkk…
Perjalanan yang cukup panjang harus kulalui untuk tiba di pusat kota Rio, sekitar 30 menit dari Bras de Pina. Aku baru menyadari kalau aku tinggal di pinggiran kota Rio. Mungkin kalau di Jakarta, seperti Sudirman-Bekasi.

Tiba di stasiun kota: Central do Brasil.
Stasiun kereta yang boleh dibilang cukup megah. Seperti stasiun yang sering kulihat di tv. Bangunan cukup tua, dengan jam besar di salah satu sisinya. Kios-kios penjual makanan memenuhi stasiun ini.
Sejauh mata memandang: pilgrim dengan berbagai warna kulit, berbagai bendera. Berteriak-teriak dalam bahasa masing-masing, bertepuk tangan, atau sekedar bertukar sapa.
Jadi ini suasana World Youth Day.. Hemm… I love it! :)

Riooooo!!

Kami diberikan waktu bebas untuk makan siang, atau apapun. Dan kami diminta untuk berkumpul kembali di Central pada pukul 2 siang.
Aku, Verby, Karina, dan Surya pun tak buang waktu. Langsung ngacirrrr…
Tujuan pertama kami adalah sebuah gereja megah. Aku harus menggunakan metro. Sepanjang kami berempat berjalan kaki, selalu ada yang menyapa. Kebanyakan anak muda dari Brazil dan Argentina. Entah apa yang membuat mereka tertarik dengan kami. Karena wajah yang terlalu Asia kah, atau karena jaket keren kebanggaan? hehehe.. Yang pasti aku sangat menikmati saat-saat itu. Bak artis yang diteriaki penggemarnya, ya kira-kira seperti itulah kami berempat.. :D

“Where are you from? Do you have something to exchange?”
Dua kalimat yang beratus kali kuucapkan selama di Rio.
Yes.. Bertemu begitu banyak anak muda Katolik dalam satu event dunia seperti ini menjadi sesuatu yang langka. Rasanya belum tentu semua orang seberuntung aku yang dapat merasakan euforia ini. I’m so lucky, yes I am!

Dengan waktu yang terbatas dan harus melayani ‘penggemar’ (hahaha.. banyakkk banget yang manggil-manggil untuk minta foto atau bertukar souvenir..), membuat kami terbirit-birit menuju gereja. Tiba di dalam gereja, aku hanya bisa berujar, “Woww!”
Gereja yang sangat besar dan modern. Tampak dari luar, lebih cocok disebut markas militer atau markas agen rahasia. Keren dan bagus! Interior di dalamnya sederhana tapi sangat wah!

huge church

Saat sedang sibuk berfoto, seorang anak muda menyapa kami. “Indonesia?” tanyanya. Wajahnya sangat Asia, tapi dia berbicara bahasa Inggris. Kami menjawab, “Yes!” Dia pun memperkenalkan dirinya. Ternyata dia lahir dan tumbuh hingga remaja di Jakarta. Karena kerusuhan 1998, dia beserta keluarga hijrah ke Australia. Walau mulai terbata-bata, dia masih bisa berbicara bahasa Indonesia. Tampak dia sangat senang bertemu dengan kami, orang Indonesia. Walau telah lama di luar negeri, tanah kelahiran tetap tak terlupakan. Itu yang kutangkap dari gadis ini.

Si Gadis Ausie

Aku pun meninggalkan gereja ini, menuju kembali ke Central. Tiba di Central, baru tampak beberapa teman kami. Saat sedang menunggu, terdengar dengan jelas teriakan, “IN DO NE SIAAA… IN DO NE SIAAAA…”
Kupikir, ada rombongan Indonesia yang jauh lebih semangat dari kami. Ternyata, Lucas, Everton dan rombongannya. Aku hanya bisa tercengang. Aku yang orang Indonesia pun tak sampai segitu hebohnya meneriakkan negara kami. Tapi kulihat saudara kami dari Diadema yang begitu bersemangat. Luar biasa!

Agenda besar hari ini adalah Misa Pembukaan oleh Uskup Rio de Janeiro di Copacabana Beach.
Copacabana berada cukup jauh dari Central, bisa ditempuh dengan bis atau metro. Kali ini kami menggunakan metro. Keluar dari stasiun metro, kulihat begitu banyak anak muda berjalan kaki menuju pantai.
Copacabana!!!! Here I am! So glad to be here…
Rasanya tak terkatakan saat telapak kaki ini menyentuh pasir Copacabana. Rasa syukur, haru, bahagia menjadi satu. I praise You, Jesus!

Berjalan menyusuri pasir Copacabana, kulihat begitu banyak bendera berkibar. Bahkan terlalu banyak bendera yang baru pertama kali kulihat. World Event!

Suasana di Copacabana

Misa pembukaan kuikuti dengan sangat khusyuk, di tengah terpaan hujan dan angin laut. Tanpa mengerti bahasa yang digunakan, aku tetap dapat mengikuti misa.. (This is one of the reason why I’m very proud to be Catholic). Panggung raksasa nan megah menjadi pemandangan yang luar biasa. Tata suara dan multimedia yang sangat bagus pun menambah meriahnya WYD ini. Meski hanya bisa kusaksikan dari layar raksasa, aku tetap sangat menikmati misa pembukaan tersebut.

Selesai acara, terjadi kerusuhan. Tarik-tarikan dan dorong-dorongan tak jelas. Selesai misa, tentu saja artinya bubarnya massa. Badanku yang mini terasa tak berarti saat harus berjuang keluar dari kerumunan orang. Beruntung kami semua bisa lolos dari kerumunan tersebut.
Hujan semakin deras, angin pun terasa semakin dingin. Sekitar pukul 10 malam dan aku tak tahu harus berbuat apa. Lelah rasanya dan aku masih harus melalui perjalanan sangat panjang untuk dapat tiba di Bras de Pina. Satu-satunya cara untuk kembali ke Central adalah kembali naik metro. Tapi antrian metro sudah mencapai luar stasiun, di jalan raya depan stasiun. Aku dan beberapa teman pun memilih untuk menunggu hingga antrian tersebut habis. Sekitar pukul 11 malam, keramaian di sekitar stasiun metro pun reda. Aku dapat dengan mudahnya masuk ke dalam stasiun tanpa harus mengantri. Tiba di Central, masih ada 1 kereta kosong yang akan mengantar kami ke Bras de Pina.
Kami semua mendapat tempat duduk. Tapi ternyata itu bukan sesuatu yang nikmat.
Guess what?! Kereta tersebut tak kunjung berangkat! Huaaa… Mau nangis rasanyaaaa… Badan lelah, ingin segera tidur. Aku sudah tertidur di kereta. Ketika terbangun, kereta tetap belum berangkat. Baru kusadar, kereta yang kunaiki ini adalah kereta terakhir.
Dari jam 12 malam, kami baru diberangkatkan pukul 1.45. Bayangkan berapa lama aku duduk menunggu tanpa kepastian.. :(
Sekitar pukul 2.30 pagi, aku baru tiba di Bras de Pina. Berjalan kaki menuju gereja St. Cecilia. Beruntung masih ada volunteer yang siap mengantar kami semua.
Malam itu kututup dengan tidur pada pukul 3 pagi..
Hanya bisa berharap, keesokan harinya aku memiliki baterai baru..

24 Juli 2013
Bangun agak siang, sekitar pukul 8 pagi. Thanks, God.. Aku segar seperti sediakala, walau kurang tidur dan lelah. Ritual di pagi hari, berjalan kaki menuju gereja. Kali ini kubelokan badanku ke kiri dan memilih jalan satunya.
Jadi kalau digambarkan, seperti inilah peta rumah tempat kami tinggal. Setelah berjalan beberapa langkah, aku bisa melihat gereja St. Cecilia. Gereja ini memang terletak di atas bukit. Terlihat dari tempatku berdiri, bangunan lancip tersebut. Cukup jauh, tapi menjadi pemandangan indah bagiku. Perjalanan pun dilanjutkan. Baru kusadari, aku tinggal di dataran tinggi. Dan hari ini, aku harus menuruni ratusan anak tangga untuk dapat tiba di ujung jalan. Tuhan tahu ajaa ni aku jarang olahraga di Jakarta… hihihihi…

Ritual yang sama dengan hari sebelumnya: berjalan kaki.
Dari rumah menuju gereja, tapi kali ini aku tidak turun ke sekolah untuk mengambil sarapan. Kesiangan! hihihi..
Berkumpul di depan gereja, kami pun siap menuju Central, tentu saja dengan cara yang sama. Naik kereta listrik.

Tiba di Central pun, kami diberikan waktu bebas sampai pukul 2 siang. Kembali aku bersama Verby, Karina, dan Surya melancong.
Berjalan kaki menjauh dari stasiun Central, kami masuk ke sebuah museum. Bak menemukan air di padang pasir, kami mendapatkan toilet yang sangat waahhh! Bersih! Senangnyaaaa… Plus dispenser air gratis! Berjuta senang rasanya.. hehehe…

Dari museum, kami berjalan kaki lagi dan menemukan restoran yang menyajikan Chinese Food. Seperti menemukan harta karun! Setelah lebih dari seminggu berada di negeri orang, lidah ini rasanya telah sangat rindu dengan makanan khas Asia.
Walau tak persis seperti apa yang biasa kumakan, ini lebih dari cukup..

Mie Goreng yang Menggugah Selera

Big Portion

Saking kalapnya bertemu Chinese Food, kami memesan terlalu banyak. Alhasil, satu porsi ayam goreng pun harus kami bungkus.. hahaha..

Selesai makan siang, kami berempat kembali berjalan menuju Central. Rasanya rugi kalau tak mampir lagi ke museum untuk mengunjungi toilet dan dispenser air.. hahaha.. Kami pun masuk dan bertemu seorang volunteer yang mengajak kami ke sebuah ruangan. Ruangan tersebut berisi lukisan-lukisan hasil karya anak-anak. Oleh si penjaga ruangan, kami diberi layangan unik. Senang rasanya mendapat layangan tersebut. Tapi keluar dari ruangan tersebut, kami kebingungan. Layangan yang cukup besar dan rasanya mustahil bila kami membawanya pulang.


Ini Layanganku :)

Dan Karina memutuskan untuk membawa pulang keempat layangan tersebut, meskipun sulit.. :)

Petualangan kami pun berlanjut. Kami berempat benar-benar menjadi bocah petualang di hari Rabu ini. Rio terus diguyur hujan rintik tanpa henti. Jadi udara terasa semakin dingin dan jalanan yang kami lalui pasti becek. Tapi aku menikmati petualangan ini.. hehehe..

Sebelumnya kami mendapat informasi dari Gege bahwa di hari ini akan ada Asian Youth Gathering (AYG). Dengan naluri petualang, kami pun berusaha mencari tahu sendiri di manakah tempat berlangsungnya AYG. Tapi ternyata tidak sesederhana yang kami bayangkan. Kami pun keluar masuk stasiun metro, berkali-kali bertanya pada warga setempat, bertanya pada volunteer yang berjaga di setiap stasiun. Jawaban mereka simpang siur. Bahkan saat bertanya pada warga setempat pun kami mendapat jawaban yang berbeda. Para volunteer yang kami tanyai pun bahkan tidak tahu bahwa hari ini ada AYG. Rasanya tempat AYG memang terpencil.
Beruntung melalui ponsel Surya (fyi, aku, Verby dan Karina tidak mengaktifkan handphone selama di Brazil.. hehehe.. benar-benar menikmati perjalanan tanpa gangguan), kami berhasil menghubungi Gege dan Nory. Mereka pun menunggu di salah satu stasiun metro.

Jelang sore, kami berhasil bertemu teman-teman, kami pun bersama menuju tempat AYG. Kami naik bis. But guess what?! Aku seperti berada di Jakarta. Kami terjebak kemacetan yang hampir tak bergerak. Jalanan Rio sore itu benar-benar padat.
Melihat jalanan yang tanpa harapan, kami pun memutuskan untuk membatalkan rencana ke AYG lalu turun dari bis.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam saat kami turun dari bis. Perut krucuk krucuk.. Ahaaa!! Ayam goreng tadi siang menjadi penyelamat! Di tengah gerimis dan dinginnya angin, menggerogoti ayam dan melumat tulangnya menjadi sesuatu yang menyenangkan, ditambah itu semua kami lakukan bersama.. hahaha.. Ini yang namanya kebersamaan.. :)

Satu atau dua potong ayam seperti bensin bagi tubuh kami. Terus diiringi gerimis, kami berjalan kaki menuju sebuah gereja.
Dalam setiap panjangnya perjalanan yang harus aku lalui, tak pernah kukeluarkan kata-kata keluhan, karena aku tahu di depan sana ada sesuatu hal yang baru yang akan kulihat, kunikmati, dan kubawa pulang sebagai pengalaman hidup.
Tiba di gereja tersebut, lagi-lagi hanya ‘Woww’ yang bisa kuucapkan. What a great church!
Ornamen dan setiap detil dalam gereja tersebut membuatku tak bisa berhenti berdecak kagum. This is one more reason why I’m very proud to be Catholic..

Interior Gereja

Kebetulan saat itu akan diadakan ibadat Taize. Kuikuti ibadat tersebut dengan nyanyian Taize berbahasa Portuguese dan Latin.

Selesai ibadat Taize, kami pun memutuskan pulang. Kali ini aku berjalan bersama Verby, Karina, Surya, Nory, dan Dar. Hujan masih terus turun, jas hujan pun tak lepas dari badanku. Kembali kami berjalan sambil mencari tempat makan malam.
Sepanjang perjalanan pun kami bertemu banyak pilgrim dari Ausie, Peru, Argentina. Di tengah hujan dan lelah, selalu terselip semangat untuk saling menyapa, bertukar tanya, bertukar souvenir. Rasanya semangat untuk itu tak akan pernah habis.

Kami pun menemukan KFC!
Bak orang kelaparan, kami memesan begitu banyak ayam goreng. KFC pasti memiliki ciri khas di tiap negara. Di Rio, kali ini kutemukan nasi, ayam fillet, beserta sup kacang merah. Gostoso!

Antara Lapar dan Kalap!

KFC di Rio.. Yummy!

Bill yang Menunjukkan Kekalapan Kami (1 Real sekitar 5.000 Rupiah)

Perut kenyang, sebagai asupan yang cukup untuk kami berjalan menuju Central, naik kereta listrik ke Bras de Pina, lalu melalui jalan menanjak untuk tiba di rumah host parent kami.

Tiba di Bras de Pina, berharap rumah kami tinggal selangkah dari stasiun. Tapi nyatanya tidak seperti itu.
Ditambah satu kejadian lucu.
Tiba di stasiun, kami pun bersiap turun. Sebelumnya kami bertemu dengan pilgrim dari Chile. Kami sempat bertukar souvenir dengan mereka.
Saat pintu kereta terbuka, aku pun keluar. Sempat kudengar Verby mengucap, “Bye Chile, bye Chile…”
Brekkk… Begitu pintu kereta tertutup dan kereta menjauh, aku mencari Verby, Nory, dan Surya. “Loh? Verby mana? Nory mana?”
Mereka bertiga terbawa di dalam kereta… hahahaha… *ngakak…
Sesuatu yaaa.. Padahal badan sudah lelah, dan mereka bertiga, bersama banyak teman Indonesia harus turun di satu stasiun setelah Bras de Pina, lalu berjalan kaki kembali. Lumayan olahraga malam hari di tengah gerimis hujan.. hahaha..

Aku tahu WYD ini bukan wisata koper, yang dengan nikmatnya ke sana ke mari menggunakan bis sewaan atau tinggal di hotel.
Ini sebuah peziarahan. Sebuah perjalanan yang sangat tidak mudah. Perjalanan yang sangat menguras energi.
Tapi entah mengapa, aku tidak mengeluh. Malah aku menikmati setiap langkah kakiku yang terasa menyakitkan. Aku menikmati setiap tetes air hujan yang menyentuhku. Aku menikmati setiap sudut kota Rio yang tertangkap oleh mataku. Dan satu hal yang kuyakini, bahwa selalu ada kekuatan baru saat kubuka mataku di pagi hari.

Tiba di rumah mama, kuletakkan keempat layangan yang sudah berpindah tangan dari Karina. Kupilih tempat yang benar agar tidak rusak.
Ada rasa syukur yang terlalu besar, bukan karena layangan berhasil tiba di rumah dengan selamat. Tapi karena boleh melewati satu hari lagi di Rio. Kuserahkan rasa lelahku kepadaNya dan berdoa agar besok pagi aku diberikan kekuatan baru untuk terus menjalani rangkaian WYD di Rio. 


(this is the end of part one.. it’s long enough, so I have to make it into some parts… so, please be patient to wait for another stories about Rio… I still have lots of great stories to tell you.. :D thank you..)

Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts