Kisah dalam Hariku

Aku percaya setiap hari menyimpan ceritanya sendiri.
Aku percaya setiap hari memiliki berkat tersendiri.
Semua hanyalah tentang bagaimana mata kita memandang dan bagaimana kita berbagi tentang cerita dan berkat itu.

Jumat, 6 November 2015
Sibuk mempersiapkan dan menjaga stand bazaar di sebuah mall di Jakarta Barat. Seharian penuh berada di mall tersebut. Sore hari, saat membeli minuman dan membuka dompet, aku baru tersadar kalau aku tidak mendapati KTPku. Kartu yang selalu di barisan paling depan di susunan kartu di dompetku itu raib. Panik! Kubuka semua selipan dompet, hasilnya nihil.
Oh No!! Panjang nih urusan..
Otakku langsung berpikir keras, kapan terakhir kali aku mengeluarkan KTP dari dompet.

Kamis, 5 November 2015
Dengan penuh semangat aku membeli paket pemeriksaan di sebuah laboratorium di kawasan Cideng. Kebetulan aku melewati lab tersebut dan hari ini adalah hari terakhir diskon 20% untuk seluruh jenis pemeriksaan. Karena belum pernah memeriksakan diri di lab tersebut, aku dimintai KTP untuk registrasi data pasien. KTP tersebut telah sempat aku masukkan kembali ke dompet tapi si mbak bagian registrasi meminta ulang karena ada bagian alamatku yang belum dicatat lengkap. Kukeluarkan lagi KTPku..

Jumat, 6 November 2015
Ahh.. Sepertinya KTPku tertinggal di lab tersebut. Buru-buru kutelepon lab untuk menanyakan apakah ada kartu penting milikku tertinggal di sana. Di tengah ramainya mall, aku heboh sendiri memikirkan nasib KTPku. Saat terhubung di telepon dengan orang lab, jawaban mengecewakan kudapat.
Sepertinya tidak ada, Bu karena kemarin sudah dirapikan semua tapi tidak ditemukan KTP atau barang hilang lainnya.”
Tapi aku sedikit memaksa dengan meminta dia untuk memeriksa ulang. Kuberikan nama dan nomor ponselku agar pihak lab dapat menghubungiku. Masih berharap KTPku tidak hilang.
Otakku pun masih terus berputar mencari di mana KTP itu kuletakkan terakhir kali. Ada sedikit keyakinan bahwa kartu tersebut benar tertinggal di lab. Tapi jawaban 'tidak ada' dari si mbak lab membuat pupus harapanku.
Setelah menutup telepon, aku langsung berpikir bagaimana cara mengurus KTP hilang dan membuat yang baru.
Harus ke kantor polisi, ke ketua RT, kelurahan dan panjanggggggnya birokrasi Indonesia seperti biasa.. :(
Hadeehhhhh..

Sabtu, 7 November 2015
Sekali lagi kusebutkan bahwa setiap hari akan bercerita tentang berbagai kisah.
Kubuka mataku yang amat berat karena aku baru dapat tertidur nyenyak pada subuh. Semalaman, badan dan tenggorokanku sakit. Sakit tenggorokan memang sangat menyiksaku. Dan pagi ini aku bangun tanpa suara.. :((
Rasanya malas untuk memulai hari tapi aku harus pergi berjualan di bazaar. Mau tak mau aku memaksakan diriku untuk bangun.

Biasanya, aku akan memposting sebuah foto bersama Larry di setiap tanggal 7.
Hari ini, tanggal 7 yang ke86 sejak kami berpacaran dan tanggal 7 yang 14 sejak kami menikah.
Tapi postingan yang biasanya kulakukan harus kutunda karena pagi hari aku sudah disibukkan dengan urusan pemesanan babang GoJek untuk mengantar pesanan pastry.

Sedikit cerita mengenai GoJek.
Sekarang tarif GoJek telah kembali normal, dari yang hanya 10.000 bisa menjadi hampir 60.000. Aku sendiri tadi pagi dikenakan ongkos 51.000 untuk jarak sekitar 20 km. Aku memang sudah tahu hal tersebut karena beberapa hari yang lalu telah memeriksa ongkosnya untuk kepentingan pembayaran oleh customer.
Awalnya aku menggratiskan ongkos kirim karena hanya 10.000. Tapi per November ongkosnya menjadi normal, menghitung jarak tempuh.
Aku secara fair menjelaskan keadaan tersebut kepada customer yang memang telah membayar dari bulan lalu. Ongkos kirim yang cukup tinggi membuatku meminta si customer untuk membayar setengahnya saja. Win win solution. Sisanya aku yang menanggung.

Dan tadi setelah 'driver found', si babang GoJek meneleponku.
GoJek: Dengan Ibu Veliska ya. Saya dari Gojek. Ibu pesan ya. Sudah tahu harganya?
Aku: Sudah, Pak.
GoJek: Ibu mau?
Aku: Iya, Pak. Mau.
GoJek: Ok, ditunggu ya, Bu.

Setelah menutup telepon, ada sesuatu yang hinggap di pikiranku. Apa belakangan ini si babang kehilangan orderan yang biasa laris manis sampai dia bertanya seperti itu. Aku tahu ongkos kirim GoJek sekarang menjadi agak mahal. Akupun harus nombok. Tapi harapku semoga para rider itu tetap laris manis, tetap banyak menerima order..
Dan yang pasti aku tak lagi malas untuk memulai hari, saat menyadari di luar sana begitu banyak orang yang berjuang untuk hidupnya.

One of much blessings today.. :)


Berangkatlah aku menuju mall, bazaar hari kedua.
Selesai merapikan barang dagangan, aku duduk dan memutar otak untuk menulis kata-kata tanggal 7. As always.. hehehe..
Tiba-tiba muncul nomor tak dikenal di ponselku.
V : Halo?
NN : Halo, dengan mbak Veliska ya.
V : Iya (sedikit bingung)
NN : Saya Yani dari laboratorium di Cideng.
V : OH! (langsung muncul harapan dan teringat barangku yang hilang)
NN : Mbak kemarin telepon cari KTPnya ya. Iya mbak kemarin kan registrasi sama saya di lab. KTPnya ketinggalan dan ada di saya. Kemarin saya kejar mbak tapi ga keburu.
V : (dengan muka super sumringah) aahh.. Puji Tuhan!! Ketemu KTPku. Tolong simpan ya, mbak nanti Senin aku ambil.

Menutup telepon dengan rasa syukur luar biasa. Another blessing come to my life in this day.
Bye, birokrasi ribettt.. Ga jadi ribet bikin ulang KTP.. hahaha...

Tahu kenapa aku merasa aku merasa begitu luar biasa?
Kenapa aku sampai begitu sumringahnya menerima telepon dari orang lab?

Jumat, 6 November 2015
Dalam keputusasaanku dalam menerima kenyataan kalau KTPku lenyap, tiba-tiba aku teringat.
Ada Santo Antonius dari Padua.
Santo yang seringkali membantu kita menemukan barang hilang.
Hari Minggu lalu, saat Misa Bulanan Choice, Romo Benny bercerita mengenai kekuatan doa Santo Antonius ini. Aku buka Google mencari doa tersebut. Kutemukan sebuah blog yang bercerita mengenai doa ampuh ini.
Doanya singkat:
Santo Antonius, penemu iman yang hilang, bantulah kami untuk menemukan kembali segala sesuatu yang hilang dari kami, jasmani maupun rohani.”

Aku ucapkan berulang kali dalam hati dan kalimatnya menjadi:
Santo Antonius, penemu iman yang hilang, tolong temukan KTPku. Tuhan, tolong carikan KTPku”

Sambil menjaga bazaar, kuucapkan terus kalimat singkat tersebut.
Aku memang sering mendengar mengenai Santo Antonius. Beberapa kali aku mendengar kesaksian temanku mengenai barang hilang yang akhirnya ditemukan kembali. Tapi saat aku mengalami sendiri dan mendoakannya, sempat sedikit ada keraguan. Bagaimana caranya KTPku bisa kembali? Kulihat dompetku, berharap tiba-tiba KTP tersebut muncul setelah berdoa. Tapi koq rasanya tak mungkin ya.. Kalau itu terjadi, mejikkk namanya.. hahaha...

Tapi ya namanya berusaha, tak ada salahnya aku mengucap doa tersebut. Dengan harapan semoga KTPku ditemukan.

Sabtu, 7 November 2015
Setelah kemarin tanpa kabar mengenai KTP dan berpasrah diri, akhirnya hari ini aku mendapat kepastian mengenai KTPku.
Aku yakin dan percaya bahwa kekuatan doa yang membantuku, imanku yang menolongku.
Itulah kenapa rasanya aku ingin melompat saat menerima kabar mengenai keberadaan KTPku.
Bahwa aku telah dibantu oleh Tuhan melalui perantaraan doaku kepada St. Antonius dari Padua.

Ahh.. What a blessed day...
And also a lovely day I have..

Happy 86th Lovely Day, dear Larry..
Love you always..

This is my story.. I randomly tell about this day. Bukan karena aku bawel dan ingin menceritakan semua hal.
Tapi memang setiap hari yang kita lalui menyimpan kisahnya sendiri.
Tentang hidup, iman, cinta, dan perjuangan.
Keputusan ada di tangan kita untuk menemukan kisah tersebut dan menjadikan hari kita bermakna atau membiarkan hari-hari berlalu begitu saja...


Happy Weekend, Blessed People.. :)

Instead of

I love Monday
or
I hate Monday

And after what I got this morning, I prefer to say, “I got something this Monday.”

Kemarin, dengan penuh sukacitanya, aku telah menjalani pelayanan di Pilgrimage Weekend, dalam rangka persiapan menuju World Youth Day 2016.
Setelah direcharge, rasanya penuh dan siap untuk kembali menjalani minggu yang baru.
Tapi siapa sangka saat kita merasa penuh sukacita, selalu ada yang berusaha merusak sukacita tersebut.. hahaha..

Handphone berbunyi dari nomor tidak dikenal. Kupikir dari tukang lemari yang memang sedang kutunggu.

Ternyata telepon dari orang yang mengomel panjang..
Fiuhhh..
Panjang sampai bahkan omonganku yang baru beberapa kata langsung dipotongnya.
Dalam hati, ‘Mimpi apeee gue semalem yak..’
‘Salah apeee gue ampe orang ngomel-ngomel.’

Apa yang dia lontarkan berkaitan dengan salah satu pelayanan yang aku lakukan. Saat berbicara dan memberikan penjelasan, aku merasa cukup emosi tapi entah mengapa ada dorongan yang membuat aku bisa sabar dan menata kata-kata dengan baik. Setelah menutup pembicaraan, taka da emosi dan pembicaraan berakhir dengan kata sepakat: CLEAR.

Oke..
Tapi aku yang pemikir, mulai bermain dengan memori. Jujur memang tak ada emosi yang kupendam. Akupun bingung mengapa aku bisa berhasil tanpa menggunakan amarah. Memang sempat emosi saat berbicara, tapi mencoba berkata pada diri sendiri, ‘Sabar Vel..” sambil inhale exhale.. hahaha..
Dan biasanya kalau ada yang mengomel padaku tanpa alasan jelas, aku akan langsung naik tensi, ikutan ngamuk. Tapi kali ini tidak… Yeeeyyyy!!! I made it! Hahahaha..

Yang aku pikirkan bukan tentang masalah yang diributkan si orang tersebut. Tapi beberapa kalimat yang intinya sama.
Beberapa kali terlontar dari mulut dia, “Kamu ga ngerti sih!”
“Kamu ga ngerasain sih.”
“Saya minta kamu mengerti.”
I hope you understand me.”

Pikir dipikir, diputar-putar…
Hemmm.. Sampai pada kesimpulan, ya itu kalimat yang manusiawi, kalimat yang sering terlontar oleh setiap kita.
Ada yang salah? Mungkin tidak bisa dibilang salah juga..
Hanya aku mulai menyepakati untuk mengurangi kalimat tersebut terlontar dari mulutku.
Kenapa?
Sederhana karena aku merasa kalimat-kalimat di atas terlalu egois, terlalu memusatkan diri pada AKU.

Aku
Keakuan
Ego
Keegoisan

Aku merasa seperti ini, kamu harusnya mengerti donk
Aku maunya yang itu, kamu harusnya mengikuti donk
Aku bisanya seperti ini, kamu harusnya paham donk
Aku sukanya yang itu, kamu harusnya tahu donk

Kenyataannya..
Orang lain tak akan pernah mengerti sepenuhnya tentang kita, apa yang kita rasa, apa yang kita mau, apa yang kita suka..
Orang lain tak akan pernah memahami sepenuhnya tentang apa yang kita tidak mau lakukan, apa yang tidak suka kita kerjakan..
Sekali lagi, orang lain tak akan pernah bisa mengerti.
Orang lain tak akan pernah bisa merasakan.
Orang lain tak akan pernah tahu.

Kalaupun mereka bisa mengerti dan merasakan, apakah kita bisa menjamin mereka mau?

Lalu, mengapa kita tetap meminta mereka untuk mengerti maunya kita?
Mengapa kita tetap berharap mereka bisa merasakan perasaan kita?

Dibanding meminta orang untuk mengerti dan memahami kita, mengapa tidak kita yang mencoba menyesuaikan diri dan mengerti mereka?

Atau

Dibanding meminta orang untuk mengerti dan memahami aku, mengapa tidak aku yang mencoba menyesuaikan diri dan mengerti mereka?


Sesederhana itu..


*refleksi kecil saat mengawali minggu yang baru.. J

Catatan Kecil Seorang Sahabat

Tulisan kali ini bukan tentang aku, tapi tentang sahabat kami, Hery dan Yurike.
Di postingan ini, Keke akan berkisah tentang sesuatu yang mengubah hidup dia dan suaminya. Semoga bisa memberkati.. :)


Our Amazing First Wedding Anniversary
Sebuah catatan kecil tentang kesempatan kedua, kehidupan kedua.


(seperti dikisahkan kembali oleh Yurike Rahdianty)


Dengan susah payah kupaksakan diri untuk menulis. Aku yang tidak terbiasa menulis dan lebih memilih untuk berbicara, kali ini ingin sekali berbagi karena aku apa yang aku alami ini akan memberkati banyak orang.

Aku dan Hery, yang masih hidup berdua saja, selalu merasa tiap hari adalah honeymoon. Rasanya ingin terus bepergian menjelajah tempat baru, berdua saja. Pikirku, selagi belum punya momongan.
Sebuah rencana liburan singkat yang sempat tertunda beberapa bulan, akhirnya berhasil kami wujudkan.
Tak jauh dari Ibukota, kami memang telah merencanakan untuk pergi ke Bandung.
Liburan singkat, Jumat hingga Minggu, aku rasa lebih dari cukup untuk merefresh kepenatan yang setiap hari aku dan suamiku hadapi di Jakarta.

Hotel yang menjadi incaran kami dan menjadi salah satu hotel favorit di Bandung akhirnya berhasil kami booking setelah beberapa bulan fully booked.
Sengaja kubook tanggal 5-7 Juni 2015 karena tanggal 8 Juni merupakan ulangtahun pertama pernikahan kami.
First Wedding Anniversary harus dirayakan dengan istimewa donk.. hehe..


Jumat, 5 Juni 2015
Finally! We are on short escape to Bandung for holiday and for our wedding anniversary!
Sengaja tak kuajak keponakan ataupun saudara. Iya donk, ini ‘kan honeymoon… hihihihi..
Rasanya begitu tak sabar berangkat ke Bandung berdua saja dengan suami. Aku sangat excited!

Sekitar pukul 4 sore, kami pun berangkat menuju Bandung. Normalnya perjalanan hanya memakan waktu 2 jam. Tapi kami baru tiba di Bandung sekitar pukul 9 malam.. Haissshhh… Capek dan lapar! Menambah tingkat emosi jiwa.
Tak menunggu lama, kami pun langsung menuju restoran hotel tempat kami menginap. Sayangnya makanan yang ada di restoran tersebut tak sesuai dengan selera Hery. Mulailah rasa tidak nyaman kami berdua alami.
Makan berdua, kami langsung menuju kamar untuk istirahat.
Ya, hari Jumat itu bisa dibilang terbuang percuma karena macet dan rasa lelah yang kami rasakan.

Sabtu, 6 Juni 2015
Paginya, seperti rencana, awalnya kami hanya ingin stay di hotel. Yaa ‘kan honeymoon.. hahaha.. Lagipula sayang hotelnya ditinggal. Hotel ini menurutku bagus, pelayanannya juga bagus. Ya, aku terkesan dengan hotel ini. Pikirku, pantas hotel ini menjadi buruan para turis domestik.
Tapi apa yang Hery rasakan justru bertentangan denganku. Menurutnya hotel ini sama sekali tidak bagus. Makanannya kurang enak, tempatnya pun tak seperti yang dibayangkan. Intinya, Hery tak puas dengan hotel yang kami book ini.

Jelang siang, kami putuskan untuk keluar hotel karena teteppp ya, kalau ke Bandung tuh belum afdol kalau belum beli oleh-oleh. Makanan!
Yupp.. Akhirnya aku dan Hery keluar hotel untuk makan siang dan membeli beberapa oleh-oleh khas Bandung.
Tak lama, kami kembali ke hotel. Memang niat awalnya ingin bersantai di hotel. Jadi ya seharian Sabtu itu kami leyeh-leyeh di kamar hotel. Makan malam kami pun diantar ke kamar. Kalau istilah anak zaman sekarang: MaGer alias Males Gerak.. hahaha..

Malam menjelang, waktunya tidur.
Lagi-lagi Hery merasa tidak nyaman. Ga bisa tidur, bolak balik, kiri kanan. Bebrapa jam memaksakan diri untuk tidur, tetap tidak berhasil Dan dia pun kekeuh hotel ini ga enak, ga sesuai harapan. Dia sampai berkata tak akan lagi kembali ke hotel ini.
Malam itu menjadi malam yang cukup aneh bagiku dan juga bagi Hery. Entah mengapa kami berdua kesulitan untuk tidur. Aku sempat setuju dengan Hery bahwa hotel ini tidak enak. Tapi aku pribadi merasa nyaman koq, enak hotelnya. Tapi hingga jelang subuh, sekitar pukul 3, kami berdua tak kunjung terlelap. Ada rasa gelisah yang kurasakan, entah apa yang kupikirkan tapi malam itu aku merasa sangat tidak tenang. Aku pun menyebut doa dalam hati, berharap dapat segera terlelap agar besok dapat beraktivitas seperti biasa. Aku juga memaksa Hery untuk tidur karena besok dia akan menyetir untuk kembali ke Jakarta.


Minggu, 7 Juni 2015
Pagi di Bandung kali ini tak sesuai harapan.
Hery bangun dengan omelannya karena tidak berhasil tidur nyenyak. Melihat Hery yang seperti itu, akhirnya kami memutuskan untuk pulang lebih awal agar dapat beristirahat di rumah. Selesai breakfast, kami pun check-out.
Cussss.. Pulang menuju Jakarta.
Di mobil aku sempat berkata, “Walaupun semalem ga bisa tidur, hotel dan makanannya ga enak, kita harus tetep bersyukur loh. Di tengah kesibukan di Jakarta, kita masih bisa liburan sebentar ke Bandung dan yang paling penting, kita bisa ngerayain Wedding Anniversary kita.”
Mendengar perkataanku, bukannya mengiyakanku, Hery malah tak terlalu menanggapinya. Yang dia ingin hanya segera pulang ke Jakarta. Baginya perayaan ulangtahun pernikahan kami tidak berkesan karena hotel yang tidak memuaskan. Dia tidak menikmati liburan singkat kami ini.
Sekitar pukul 11 pagi, mobil gagah kami memasuki tol Cipularang menuju Jakarta.
Walaupun masih dengan sedikit kekesalannya, Hery menyetir dengan biasa, tanpa emosi. Kami pun menikmati perjalanan pulang kami. Karena masih termasuk pagi, jalanan pun masih sangat lengang. Tak ada kemacetan.
Di dalam mobil, kami ngobrol sana sini, bercanda, nyanyi-nyanyi. Ya, menikmati kebersamaan kami, walaupun di jalanan. Rencananya, setibanya di Jakarta, kami akan langsung ke rumah orangtuaku untuk memberikan oleh-oleh, sekaligus menjenguk Omaku yang sedang sakit.

Tapi rencana tersebut harus tertunda.
Tertunda saat sebuah mimpi buruk terjadi pada kami berdua.
Mimpi buruk  yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehku.
Mimpi buruk selama sekitar 5 menit yang rasanya ingin kusingkirkan, andai kubisa.
Ahh.. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan! Ya, ini yang terjadi dan begitu nyata.

Di tengah obrolan hangat kami berdua, mobil Fortuner yang kami tumpangi tak stabil. Kurasakan goyangan yang amat hebat. Masih sempat aku berpikir ini adalah mimpi! Kubuka mata dan kusadari, ini nyata. Aku sedang terlempar kiri kanan, aku sedang terbentur kiri kanan di dalam mobil.
Oh Tuhan! Apa yang sedang terjadi? Aku hanya bisa berteriak! Ini benar-benar mimpi buruk bagi kami!
Seperti mobil kertas yang tertiup angin, mobil kami pun berputar dengan hebat. Mobil melintir ke arah kiri dan menyenggol truk bermuatan pasir. Truk terguling dan pasirnya tumpah ke jalanan. Kami terpental, terguling! Kulihat airbag kami berdua terbuka.
Mobil kami yang tadinya ada di lajur kanan, bergeser ke lajur paling kiri dengan cara berputar-putar.
Puji Tuhan! Akhirnya mobil kami  ‘mendarat’, dengan posisi pintu kiri menempel di tanah. Mobil kami akhirnya berhenti di rerumputan.
Rasa lega yang kurasakan?? Sama sekali tidak!!
Mobil memang telah berhenti setelah ‘berakrobat’ dan aku pun dalam keadaan sadar setelah beberapa kali terbentur pintu sisi kiri.
Tapi posisi kami sangat tidak mengenakkan. Posisi kami miring. Kulihat ke atas, Hery, tergelantung tak sadarkan diri. Hanya terikat oleh sabuk pengaman.
Ya, suami tercintaku tak sadarkan diri!!
Beribu rasa seolah menyerang jantungku! Takut, panik, histeris, sedih seolah datang bersamaan. Ingin rasanya berteriak dan menangis, tapi itu semua tak berhasil keluar dari mulutku.
Aku tahu aku harus bertahan. Aku harus berjuang agar kami selamat.
Kulepas sabuk pengamanku lalu berdiri. Aku berusaha membangunkan Hery.
“Her, bangun!! Bangun, Her! Kita gapapa! Kita harus bertahan!”
Kuteriakan semua kalimat itu sambil mengguncang badan Hery. Tapi sia-sia. Hery tetap belum bangun.
Di ruang kemudi sekecil itu, tak banyak yang bisa kulakukan. Kucoba membuka pintu kanan, tapi sia-sia. Pintu tidak bisa dibuka, mungkin karena beberapa benturan yang terjadi. Lagipula, aku terhalang oleh Hery yang masih tergantung, tertahan oleh sabuk pengaman. Tak mungkin kulepaskan sabuk pengaman Hery, karena bila itu kulakukan, Hery, yang tak sadarkan diri, akan terjatuh.
Aku pun menggedor kaca sambil berteriak minta tolong.
Tak lama, datang beberapa bapak yang berusaha menolong kami. Mereka berkata, “Ibu jangan panik!”
Merekapun menendang dan memecahkan kaca depan (kaca dashboard). Aku pun dibantu keluar. Keluar mobil tanpa alas kaki, menginjak pecahan kaca, tak lagi kurasakan. Hanya berpikir bagaimana kami berdua bisa keluar dan selamat dari mobil ini.
Kulihat Hery masih tergantung di kursinya, masih tidak sadar. Ada handphone Hery yang tergeletak di antara serpihan kaca. Langsung kuraih. Kutelepon Mamaku, mengabarkan dan meminta bantuan.
Rasanya masih panik luar biasa. Melihat kondisi mobil, melihat banyak orang berkerumun. Masih tidak bisa menerima keadaan bahwa ini nyata.
Tapi entah mengapa seperti ada bantuan kuasa Roh Kudus yang membuatku dapat tetap tenang dan tidak histeris.

Tak lama, Hery berhasil dievakuasi tetap dalam keadaan tidak sadar. Dia pun didudukan di pinggir jalan. Kupanggil namanya, kuteriakan agar dia bangun, kutepuk-tepuk pipinya, berharap dia segera membuka matanya.

Puji Tuhan! Suamiku membuka matanya. Matanya merah berkaca-kaca. Shock!
“Kita dari mana? Kita mau ke mana? Kita lagi mimpi ya?”
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Hery.
Ya, kami tak percaya ini terjadi pada kami. Bagi kami ini mimpi.
Aku pun berusaha menenangkan dan menguatkan Hery, “Ngga, Her.. Ini bukan mimpi. Ini beneran terjadi. Kamu tolong sadar ya, kita hadapi bareng-bareng ya..”
Hery malah bertanya, “Kamu gapapa, Ke?”
Suamiku ini memang luar biasa. Di tengah kekalutannya, dia masih memikirkan aku.
“Ya, aku gapapa,” sambil tersenyum kujawab pertanyaannya.

Aku menuju mobil untuk mengambil barang-barang. Kulihat banyak orang yang membantu. Orang banyak hilir mudik membantu kami, membantu mengevakuasi barang-barang kami. Tak kuperhatikan siapa saja yang telah berbaik hati membantu kami. Tapi di tengah kepanikanku, tiba-tiba aku tersadar ada Ronny Sianturi yang juga ikut membantu kami.
Saat kulihat dia, “Om Ronny ya?”
Aku ingat dia berkata, “Iya.. Cici dan Koko berdoa ke Tuhan Yesus ya..
Aku hanya bisa berkata, “Terimakasih ya, Om!”
Ah.. Our God is so great! Dia biarkan aku dan Hery alami kesulitan. Tapi Dia tak lupa untuk mengirimkan penolong.
Ya! Bapak-bapak itu, termasuk Om Ronny merupakan malaikat pelindung dan penolong yang dikirimkan Tuhan bagi kami berdua.
Mereka bisa saja terus melanjutkan perjalanan mereka. Tapi dengan hati mulia yang dimiliki, mereka pun menepi, menghentikan mobil mereka, lalu membantu kami.
Setelah membantu banyak, Om Ronny pun pamit pulang sambil berkata, “Berdoa ya, Tuhan Yesus yang berkati kalian.”
Ah.. Benar-benar tak bisa berkata-kata menyaksikan pemandangan itu. Tak tahu apa jadinya kami tanpa mereka.

Beberapa saat kemudian mobil ambulans dan mobil derek pun datang.
Hery dibawa ke Rumah Sakit Siloam Purwakarta, cukup jauh dari TKP tapi itu adalah rumah sakit terdekat yang ada. Aku tak bisa mendampingi Hery karena harus mengurus mobil dan lainnya di TKP. Masih ada rasa kalut saat aku harus tetap duduk sendirian di pinggir jalan dan tak bisa mendampingi Hery yang belum sepenuhnya sadar.
Tapi Puji Tuhan, tak lama kakak laki-lakiku datang untuk menemani dan membantuku. Sedangkan Mama dan adikku, beserta adik Hery dan pacarnya, langsung menuju rumah sakit untuk menemui Hery.
Aku mendapat kabar bahwa tulang bahu kanan Hery patah dan harus dioperasi. Aku meminta Mamaku membawa Hery ke Jakarta sementara aku dan Koko langsung menuju Jakarta. Kami bertemu di RS Grha Kedoya.

Tiba di rumah sakit, aku pun langsung menjalani pemeriksaan lanjutan. Beberapa lecet di kaki dan memar di tubuhku langsung diobati.
Sekali lagi, Puji Tuhan! Hasil check-up menunjukkan aku ‘bersih’, tak ada luka serius yang kualami.
Satu jam berselang, Hery tiba di rumah sakit. Berada dia atas ranjang dorong, Hery diiringi Papa Mama dan adikku, juga Ferry dan Chelsie.
Meskipun Hery harus langsung masuk IGD, tapi ada rasa lega luar biasa yang kurasakan saat kulihat dia di hadapanku.
Memang benar, Hery harus mengalami patah tulang bahu.

Hari Senin, 8 Juni 2015, Hery telah menjalani operasi dan semuanya berjalan lancar.
Ya, di hari ulangtahun pernikahan kami, Hery malah harus menjalani operasi. Tapi aku percaya waktu yang Tuhan siapkan adalah yang terbaik.. :)
Sekarang, yang kami lakukan adalah memulihkan fisik kami dan juga menghilangkan trauma.
Dan yang terpenting adalah tak henti untuk mengucap syukur.

Perayaan wedding anniversary kami berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Trauma yang harus susah payah kami hilangkan.
Tapi berjuta rasa syukur yang tak habis kami ucapkan.
Melihat kondisi mobil kami, rasanya mustahil aku hanya mengalami lecet dan Hery patah tulang bahu.
Semua orang yang melihat foto mobil kami pasti berkata, “Mujizat!”
Ya, mujizat! Keajaiban!
Aku percaya ini semua merupakan bagian dari rencanaNya bagi hidupku dan Hery.
Ini semua perlindungan Tuhan.
Ini semua terjadi atas kehendak Tuhan dan juga perlindunganNya.
Satu mujizat lagi adalah bahwa kami hanya berdua di dalam mobil itu. Aku belum hamil, kami belum memiliki anak, tak ada keponakan atau saudara kami yang ikut serta. Kalau itu terjadi, mereka akan duduk di kursi belakang tanpa mengenakan sabuk pengaman. Ahh.. Tak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Hanya berani beriman, “God’s time is always PERFECT!”

Mengingat peristiwa yang kami alami ini, airmata rasanya tak bisa berhenti.
Mengingat bagaimana kami di dalam mobil yang terpelanting tak jelas, mengingat bagaimana begitu banyak orang yang menolong kami, mengingat bagaimana kami masih diberi kesempatan untuk menghirup udara kehidupan.

Wedding Annversary kami memang tidak mengenakkan. Tapi aku percaya apa yang aku alami ini akan mengubah hidup kami, memperbaharui iman kami kepadaNya.
Momen yang tak akan pernah kami lupakan sampai kapanpun.
Momen yang akan selalu menjadi pengingat kami bahwa ada Dia yang berkuasa atas apapun.
Saat Dia berkehendak, maka terjadilah.
Saat Dia memulihkan, pulihlah kami.

Kilometer 57 Tol Cipularang arah Jakarta akan selalu menjadi pengingat kami atas besarnya kuasa Tuhan.

Tuhan kita memang tidak selalu memberikan jalan lurus tanpa liku.
Tapi Tuhan kita yang akan selalu mendampingi kita melewati jalan berliku itu.

Terimakasih, Tuhan..
Untuk perayaan ulangtahun pernikahan kami yang Kau siapkan begitu istimewa.
Tak ada kata yang mampu mewakili bagaimana besarnya rasa syukur kami atas apa yang kami alami.
Bagaimana kami begitu bersyukur memiliki orang terkasih.
Terimakasih, Papa, Mama, Kakak, Dede, Ferry, Chelsie, Cece dan Suami yang telah banyak membantu kami, telah ikut khawatir akan keadaan kami. You guys are truly angels sent from Above.. :)

Mungkin banyak orang yang akan berkata kami sial atau apa pun itu. Tapi bagiku, ini bukan suatu kesialan. Ini sebuah rencana indah yang Tuhan siapkan bagi kami. Ini cara Tuhan untuk membuat kami selalu mengucap syukur atas apa pun yang terjadi dalam hidup kami.
5 menit kemarin mungkin mimpi buruk bagi kami.
Tapi sekarang aku berani berkata, mimpi buruk itu yang menjadikan hidup kami tak lagi sama.
Itu bukan lagi menjadi suatu mimpi buruk. Tapi sebuah momen yang mengingatkan kami bahwa mujizat itu nyata, bahwa hanya Dia, Sang Pemilik Kehidupan.
Ya, itu sebuah mujizat dalam hidupku. Dan aku amat bersyukur mujizat itu kualami bersama suami tercintaku.


Happy First Amazing Blessed Wedding Anniversary, dear Hery!
Praise Lord, I have you in my life.. :)



Praise Lord, YOU are our savior!


Sarapan di Minggu pagi, sesaat sebelum kami menuju pulang ke Jakarta.


Kami, pasca operasi tulang bahu Hery.
Celebrating Wedding Anniversary in hospital? Why not??
Toh, kami tahu bahwa Tuhan ada dan Dia yang menjaga dan melindungi kami berdua.. :)


Kondisi mobil kami


This is Why I'm Not a Flight Attendant

Dan saya pun kembali! Hahaha..
Setelah sekian lama tenggelam dalam kemalasan, kali ini aku mengumpulkan niat besar. Ya ditambah rasa kangen juga terhadap blog ini.. :)

Sebuah catatan kecil tentang perjalananku kemarin ke Negeri Tirai Bambu, tepatnya ke kota Guangzhou.
Ini hanya secuil kisah dari banyaknya pengalaman yang kuperoleh di sana. Cerita lainnya akan kukisahkan di judul yang lain ya.

Tiket PP telah kupesan beberapa minggu sebelum keberangkatan. Tiket pesawat udara terbesar di Indonesia berinisial G, menjadi pilihanku. Selain karena lebih terpercaya, juga karena harga murah yang kudapat.. hehe..
Kupilih kembali ke Jakarta pada hari Senin, 25 Mei 2015, dengan keberangkatan pukul 15.45 waktu Guangzhou (1 jam lebih awal dari Jakarta), dan kedatangan pada pukul 19.45 WIB. Penerbangan Guangzhou – Jakarta akan memakan waktu sekitar 4 jam 30 menit

Sekitar pukul 14.00 waktu Guangzhou, aku sudah tiba di Baiyun International Airport. Dari Check-In Desk, kuperoleh info flight GA 899 tujuan Jakarta akan berada di Gate A 111, dan akan dibuka pada pukul 15.15.

Aku pun berjalan menuju gate yang telah ditentukan. Karena waktu yang masih cukup panjang, aku pun memutuskan untuk melihat-lihat toko yang ada di sekitar gate. Sekitar pukul 15.00, aku pun duduk manis di dekat gate, menanti saatnya dipanggil untuk memasuki pesawat.
Menit berlalu.
Hingga waktu keberangkatan, gate belum juga dibuka. Penumpang semakin menumpuk. Mungkin mereka sama seperti aku, merasa heran dan tidak menyangka kalau maskapai yang selalu tepat waktu ini ternyata bisa terlambat juga.
15 menit, 30 menit, hingga 45 menit berlalu, gate tetap belum dibuka. Bahkan pesawatnya pun belum ada.
Tak ada sedikitpun pengumuman dari pihak bandara ataupun maskapai. Jadi, kami ‘digantung’.. hahaha…
Para penumpang mulai terlihat tak sabar. Aku sendiri tetap duduk manis melihat dari jauh kerumunan penumpang di depan gate. Menurutku, mau protes, mau marah, atau mau mengamuk sekalipun, tak akan berhasil mendatangkan pesawat raksasa itu ke depan gate. Jadi daripada membuang energi dengan memasang muka jutek, lebih baik duduk manis dan berselfie ria.. :)))

Jelang 1 jam keterlambatan, akhirnya kami pun dipersilakan memasuki pesawat.
Tiket di tanganku menunjukkan nomor bangku 46 B. Aku tidak tahu pesawat tersebut sepanjang apa, tapi feelingku berkata, aku akan duduk di barisan paling belakang. Huff.. Tapi ada untungnya loh, nomor besar dipersilakan masuk terlebih dahulu.. :D
Masuk dari pintu depan pesawat, aku menyurusi lorong bangku yang sudah mulai penuh oleh penumpang yang berlomba mengisi kompartemen di atas bangku. Untungnya aku hanya membawa handbag jadi tak perlu takut tidak kebagian bagasi kabin.

Terus menyusur nomor demi nomor, dan benar saja! Aku duduk di barisan terakhir, di depan toilet! Yippiieee…
Entah harus senang atau sedih.
Senang karena mudah untuk bolak balik ke toilet, tapi sedih karena akan menjadi penumpang terakhir yang keluar pesawat. Ditambah membayangkan panjangnya antrian imigrasi dan pengambilan bagasi. Hadeehhhh… Rasanya ingin menggunakan pintu ke mana saja.
Maklum, penerbangan sore menjelang malam, rasanya ingin segera sampai rumah.. hihihi..

Tiga kursi yang berderet, ABC, dan aku di B.
Dari jauh kulihat ada seorang wanita telah duduk di A, dekat jendela, dan seorang pria di B.
Mereka berdua tak lagi muda, bahkan bisa dibilang telah lanjut usia. Kalau kutebak, umurnya sekitar 60 jelang 70 tahun.
Tiba di depan si pria, ia pun bertanya, “Nomor berapa?”
Kujawab, “46B”
“Oom Tante suami istri?” lanjutku.
Mereka menjawab iya.
Kutanya, “Mau duduk sebelahan?” Aku mulai merasa risih membayangkan 4,5 jam berada di antara suami istri tersebut.
Jawaban mereka cukup membuatku terkejut.
“Ngga, justru dia mau duduk dekat jendela, saya mau di pinggir sini,” kata si Oom berkacatama.
Si Tante menambahkan, “Iya dia pilih di pinggir karena sering pipis, maklumlah sudah berumur.”
Aku pun menggangguk dengan pasrah. Jadilah aku duduk di barisan paling belakang, depan toilet, dan berada di antara suami istri.

Setelah duduk, aku pun berpikir dan merasa keadaan tersebut sangat lucu. Aku yang pengantin baru, kalau dalam keadaan tersebut pasti berharap memperoleh bangku yang bersebelahan. Apalagi dengan penerbangan sejauh itu. Tentu saja agar bisa mengobrol.. hahaha..
Tapi si Oom Tante itu malah memilih apa yang mereka suka. Dalam hati, ‘Koq ga ada yang mau ngalah gitu ya salah satu biar bisa tetap duduk sebelahan.’
Dalam hati aku pun tersenyum dan membayangkan. Apakah ini yang akan terjadi saat pernikahan telah berusia puluhan tahun?
Tak ada lagi cinta yang berapi-api atau memang cinta yang telah berevolusi dari sekedar sentuhan, pelukan, obrolan, menjadi telepati hati?
Sebuah pertanyaan kecil yang cukup bisa membuatku berefleksi..

30 menit kemudian, seluruh penumpang telah duduk manis, lengkap dengan sabuk pengaman yang terpasang melingkari perut. Pramugari pun telah mondar-mandir memeriksa seluruh penutup jendela terbuka, sandaran dalam keadaan tegak, meja telah tertutup. Pokoke wis siap lah untuk terbang!
Semenit, dua menit, lima menit..
Pesawat tetap dalam keadaan terparkir.
Si tante di sebelah kiriku mulai protes, “Ini koq ga jalan-jalan sih!”

Beberapa menit kemudian, suara pilot yang terdengar. Dia mengabarkan bahwa pesawat tersebut belum diizinkan untuk terbang karena cuaca yang kurang baik.
Well, kembali menunggu.

10 menit berlalu, pesawat masih belum bergerak.
Penumpang pun semakin tak sabar.

Suara pramugari mengabarkan sesuatu dalam bahasa Mandarin. Aku yang tak mengerti Mandarin menganggap hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting. Baru saat sang pilot yang mengabarkan dalam bahasa Indonesia, terdengar suara kecewa dari hampir seluruh penumpang yang kebanyakan adalah orang Indonesia.

“Bapak Ibu yang terhormat, Saya, Kapten dari ruang kemudi mengabarkan bahwa kita belum bisa terbang karena kami baru saja menerima informasi bahwa tengah terjadi badai di sekitar Guangzhou. Demi keselamatan bersama, kita harus menunggu sampai waktu yang belum dapat ditentukan.”

Aku dan penumpang lain, rasanya memiliki perasaan yang sama.
Badan mulai lelah. Mau marah, harus marah kepada siapa.
Itu menjadi salah satu keadaan di mana aku hanya bisa pasrah, tak bisa berbuat apa-apa.
Kulihat ke jendela, memang terjadi hujan lebat. Awan yang sangat gelap. Ya, hal tersebut yang membuat kita terlihat bodoh bila memilih untuk marah.
Begitulah resiko penerbangan pesawat.

Saat itu pula, aku melihat betapa beratnya tugas seorang pramugari.
Pramugari cantik itu mulai hilir mudik menyajikan minuman, sambil diberondong pertanyaan oleh para penumpang.
‘Berapa lama lagi?’
‘Kenapa ga tunggu di terminal?’
‘Masih lama ga, mbak?’
Dipikir-pikir kasian juga ya pramugari ditanya seperti itu. Kalau aku jadi pramugarinya, akan kujawab, ‘Yaelah, Bu.. Ini kan masalah cuaca. Mana saya tahu badai kapan berhentinya..’ hahaha..
That’s why, I’m not a flight attendant.. hahaha..

Dengan tetap harus tersenyum, mereka harus tetap sabar dan ramah kepada para penumpang. Apalagi akhirnya kuketahui bahwa mereka adalah pramugari yang sama yang terbang dari Jakarta ke Guangzhou. Keterlambatan penerbanganku juga dikarenakan oleh keadaan cuaca di Guangzhou yang memang sedang kurang baik.
Selama berada di Guangzhou pun, aku menikmati hujan setiap harinya. Ditambah kabut tebal yang menutupi puluhan gedung pencakar langit.

Kembali melongok ke arah jendela, langit masih tampak gelap dengan hujan yang tak juga reda. Otakku mulai panas, memikirkan sisa uang 200 CNY yang tersisa di dompet. Mulai bingung bagaimana bila seluruh penumpang diminta keluar pesawat dan menunggu di terminal. Mulai membayangkan kalau harus menginap semalam lagi karena penerbangan ditunda. Bisa jadi gelandangan dengan 200 CNY.

Saat tak ada yang bisa kulakukan, Rosario di tasku menolongku. Kukeluarkan dan mulailah aku memainkan biji-biji kecil tersebut. Sepanjang doa yang kuucapkan, hujan deras tak juga berhenti. Bahkan sampai biji terakhir, hujan masih sangat lebat.

TV di hadapanku yang tadinya tidak menyala, akhirnya dinyalakan agar penumpang tidak merasa bosan.
Selesai berdoa, pesawat masih terparkir manis. Belum ada tanda pergerakan.

Well, saatnya nonton film. Touch kiri kanan, akhirnya kupilih Bajaj Bajuri The Movie. Ada yang sudah pernah menonton? Jujur, aku baru tahu kalau ada versi layar lebarnya.. haha.. Kupilih film tersebut karena aku rindu Bajuri yang gendut dan lucu, dan seluruh pemerannya. Sayangnya film tersebut jauh dari harapan. Tapi tak apalah kupikir, daripada bosan menunggu.. :D

Baru beberapa menit Bajuri dimulai, pesawat perlahan mulai bergerak mundur, tanpa ada pengumuman apapun dari pilot maupun awak. Pesawat pun menyusuri landasan terbang sampai terdengar suara, “Flight attendants please be seated for take off.”

Terbanglah kami…

Earphone tetap menempel di telingaku. Pandangku pun tak lepas dari Bajuri di hadapanku. Tapi dalam hatiku terucap Salam Maria berulang kali. Kualihkan pandanganku ke jendela. Hanya satu warna yang kulihat: abu-abu tua. Tanpa ada gumpalan-gumpalan awan yang biasa terlihat dari balik kaca pesawat. Goyangan yang kuat terasa. Adegan Bajuri yang seharusnya mampu membuatku terbahak malah terlihat seperti adegan horror yang membuat mukaku menegang.
Haiisshhh…
Menyeramkannya terbang dalam keadaan seperti ini.

Kalau biasanya 5 menit setelah lepas landas, lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dimatikan. Keadaan belum dirasa ‘aman’ bahkan sampai 15 menit berlalu.
Langit sekitar Guangzhou memang sedang tidak bersahabat.

Setelah lampu tersebut dipadamkan, ada sedikit rasa lega.. Fiuuhhh…
Kulanjutkan tontonanku sambil menghitung 4,5 jam yang masih harus kulalui di atas kursi pesawat ini. Ya, 4,5 jam ini terasa begitu lama bagiku. Dan bisa kukatakan ini penerbanganku yang paling menguras emosi jantung.

Bagaimana tidak?
Di saat tersisa 15 menit menuju Soekarno Hatta, pesawat malah bergoyang lebih dahsyat, bagai sebuah wahana permainan.
Di saat tersisa 15 km untuk tiba di Jakarta, aku kembali dibuat was-was. Pesawat melewati gumpalan awan hitam lagi..
Dalam hati aku bergumam, ‘Ya Tuhan, ini uda tinggal sebentar lagi sampe. Uda deket bangettt.. Ga lucu amat ya malah terjadi sesuatu di saat ini.. huuaaa…’
Dan sekali lagi, aku hanya bisa duduk. Memasrahkan hidup kepada pilot dan tentu saja kepada Tuhan.

Flight attendants be seated for landing.”

Dan… Gabrukkkk… Huussshhhhhhh…
Goyangan terjadi lagi dengan lebih seru tapi kali ini aku sudah ‘menginjak’ tanah.
Yes! We are landed safely!!
Thanks to God!

Aku tak tahu apakah Rosario yang kulakukan sebelum terbang memberikan sebuah efek atau tidak. Aku tak pernah tahu dan tak akan pernah tahu. Yang aku tahu, aku hanya berserah kepadaNya, Sang Pemilik Kehidupan.

Nyatanya, Dia masih memberiku kesempatan untuk melanjutkan hari-hariku di kota kelahiranku ini.. :)

Psstt... You now really sure why I'm not working as stewardess.. ;D


What I can do while waiting to take off..

Apply Visa Taiwan dan Visa Cina

Masuk ke negara Tirai Bambu bukan pertama kalinya bagiku. Tahun 2002 dengan mengikuti tour, untuk pertama kalinya aku ke Cina. Karena ikut ...

Popular Posts