Sah-sah Aja Koq!

Pagi ini, terinspirasi dari kisah seorang sahabat, aku terdorong untuk menulis kicauan di akun Twiiter.
Isinya seperti ini:


Well, sebenarnya ini bukan hanya karena ada kisah dari sahabatku. Kenyataannya, munculnya 2 kalimat itu tak lepas dari pengalaman pribadiku di masa lalu.
Masa lalu… Yup! Walau aku jadi terkesan tua banget, tapi memang harus diakui bahwa di umurku sekarang, aku pernah mempunyai masa lalu.. (ya iyalaaahhh… kan gue lahir ga langsung gede begini.. hahahaha… ;D)

Seseorang (jenis kelamin tak penting yah.. yang pasti sosok orang lah.. hihihi…) pernah menorehkan luka dalam hatiku. Bagaimana tak terluka bila ternyata orang yang sangat aku percaya malah menjadi orang yang membohongiku. Siapa pun akan sakit hati, apalagi kaum hawa. Betuulll begitu, ladies?? ;P

Awalnya kami memiliki hubungan yang baik, selama beberapa tahun. Hingga pada suatu saat dia melakukan hal yang membuatku amat sangat kecewa. Relasi yang awalnya berjalan baik, hancur dalam sekejap. Rasa percaya yang begitu besar padanya, hilang tak bersisa. Ada kemarahan yang luar biasa dalam dadaku. Ada rasa benci yang meluap dalam hatiku. Rasanya kalau saja aku memiliki penghapus ajaib, akan kuhapus dia dari kehidupanku.
Tapi kenyataan akan tetap menjadi kenyataan. Aku harus terima bahwa dia tak lagi seperti yang kubayangkan selama ini. Aku harus mengakui bahwa hatiku terluka. Aku harus berjuang untuk menyembuhkan luka itu. Aku harus mengakui bahwa Tuhan izinkan aku mengalami kekecewaan ini untuk sebuah tujuan yang indah.

Waktu berjalan dan semakin kusadari bahwa ternyata tak mudah untuk mengakui adanya luka di hati. Semakin tak mudah saat aku berjuang untuk menata kembali kepingan hatiku. Semakin berat saat harus mengucapkan, “Aku memaafkanmu…”
Weeww.. Bukan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi sesulit proses yang pastinya pernah dialami oleh manusia..
Perlahan tapi pasti, aku berjuang untuk mengampuni. Sulitkah? Amat sangat sulit.
Kucoba berbagai cara agar aku mampu menata hatiku dan juga melanjutkan hidupku.
Salah satu cara yang kulakukan adalah: yang aku twit di akun Twitterku.. hehehe..
Menghapus segala hal tentang orang ini. Apa pun itu, termasuk dari contact list di ponselku dan juga dari friendlist jejaring sosial yang kumiliki.
Ampuhkah cara itu?
Bagiku amat membantu.. hehehe…

Tapi ternyata tak semudah menekan tombol delete. Beberapa sahabatku mencoba memberi saran, “Ngapain lo hapus dia, vel? Mank lo belum memaafkan dia? Mank lo ga bisa ya berusaha menjalin hubungan baik sama dia?”
Weiitssss… Kenapa jadi orang lain yang seakan lebih tahu tentang keadaan hatiku??
Memaafkan? Sudah aku usahakan… dan memang akhirnya aku mengampuni dia.. :)
Tapi mengapa aku tak boleh menghapus dia dari friendlistku?
Kalau memang itu membuatku move on, seharusnya boleh donk? hehehe…

Saat diberi advice tersebut, aku sempat bingung. Apa yang harus kulakukan?
Memang menjalin hubungan baik adalah yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Tapi rasanya hatiku tak menuju ke arah itu.
Akhirnya aku putuskan untuk cuek. Tetap kuhapus… ;D
Toh dengan menghapus, bukan berarti aku membenci atau tidak memaafkannya. Aku juga masih mengakui keberadaan dia di dunia ini.. hahahaha…
Menghapus dari friendlist berarti memberi kesempatan pada hatiku untuk kembali pulih.

Bagiku, ini hatiku, ini hidupku. Aku yang lebih tahu apa yang terbaik bagi hidupku.
(boleh dunk sedikit egois.. hehehe…)
Bagiku, untuk apa aku tetap memelihara dia dalam friendlistku kalau hal tersebut malah akan membuatku kembali mengingat kesalahan dia dan tak bisa melangkah keluar dari kekecewaanku.
Untuk apa aku berusaha keras menjalin hubungan baik, tapi hatiku tak pernah menjadi sembuh?
Untuk apa aku berusaha keras menjalin hubungan baik, tapi diriku semakin tersiksa karena tak mampu lepas dari luka lama?
Orang lain boleh memintaku menjalani hubungan baik, tapi mereka tak pernah tahu apa yang aku alami atau bagaimana keadaan hatiku.
Kalau memang dengan menjaga jarak dengan seseorang, dapat membuatku menjadi lebih baik, mengapa tak kulakukan? :)

Munculnya twit pagi tadi membuatku mengingat lagi masa laluku yang pernah penuh dengan kekecewaan. Tapi ingatanku itu tak merusak hariku. Iya doonkk… Hariku selalu indah! :) Tak ada lagi kenangan buruk tentang masa lalu itu.
Aku pun bersyukur karena pernah mengalami banyak hal yang tentu saja mendewasakanku.
Aku bersyukur karena Dia yang membantuku berjuang melawan kesedihan dan luka.
Aku sadar bahwa Dia memiliki cara ajaib untuk menunjukkan kasihNya…
Jadi… Sah-sah aja koq… selama itu membuat kita lebih baik..

Just listen to your heart.. :)

Comments

Popular Posts